BerandaPolitik & HukumSurvei Litbang ”Kompas”: ...

Survei Litbang ”Kompas”: Dedi Mulyadi Tertinggi, Pesaing Mengamini, Warga Ingin Bukti

Calon gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menjadi yang paling berpeluang menang Pilkada Jabar 2024. Elektabilitasnya jauh melesat ketimbang tiga kontestan lainnya.

14 Nov 2024 16:17 WIB · Politik & Hukum

Oleh Cornelius Helmy Herlambang, abdullah fikri ashri, Sucipto ., Emanuel Edi Saputra, Fabio Lopes, Dionisius Triwibowo

Pergerakan Dedi Mulyadi selama enam tahun terakhir berbuah manis. Elektabilitasnya mencapai 65 persen dalam Survei Litbang Kompas terkait Pemilihan Kepala Daerah Jawa Barat 2024.

Semua pesaingnya juga ikut mengamini hasil itu. Namun, lebih dari sekadar angka, pencapaian itu mencerminkan tingginya ekspektasi warga Jabar untuk hidup lebih baik.

Hasil itu tidak terlalu mengejutkan. Bahkan, calon gubernur Jabar lain ikut mengamininya. Dedi dianggap menjadi calon yang paling siap bersaing.

Setelah kalah dalam kontestasi Pilkada Jabar 2018, Dedi tidak lantas tenggelam. Tidak seperti calon lain, namanya tak hilang. 

Terpilih sebagai anggota DPR RI 2019-2023, dia mendatangi warga Jabar di beberapa daerah. Hingga pertengahan 2024, Dedi mengklaim sudah mengunjungi 2.000 desa di Jabar.

Infografis hasil survei Litbang Kompas tentang elektabilitas pasangan calon kepala daerah Provinsi Jawa Barat pada Februari 2018. Dalam survei tiga bulan lalu ini, pasangan Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi meraih elektabilitas 42,8 persen responden, sementara tingkat elektabilitas pasangan Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul mencapai 39,9 persen.

Tidak hanya bertatap muka, dia juga berhasil menunggangi keriuhan di media sosial. Kini, pengikutnya lebih dari 5 juta. Banyak konten yang dibuatnya viral.

Salah satu yang menjadi perbincangan saat Dedi ada dalam pusaran kasus tewasnya Vina Dewi Arsita-Muhamad Rizky di Cirebon di tahun 2024. Kasus yang terjadi delapan tahun lalu itu viral setelah film Vina: Sebelum 7 Hari. Film ini ditonton lebih dari 4,5 juta orang. 

Dedi berada di belakang tujuh terpidana. ”Kita berharap, di sidang PK ini, keadilan masih bisa didapatkan oleh tujuh terpidana,” ucap Dedi setelah ikut sidang peninjauan kembali (PK) para terpidana pada September 2024.

Bupati Purwakarta 2008-2018 itu yakin para terpidana tidak bersalah. Keyakinan itu ia peroleh setelah menelusuri langsung kasus ini.

Dedi Mulyadi (pakaian putih), bakal calon gubernur Jawa Barat, menghadiri sidang peninjauan kembali tujuh terpidana kasus Vina Cirebon di Pengadilan Negeri Cirebon, Jabar, Rabu (4/9/2024).

Dedi menemui langsung pengacara para terpidana, eks terpidana Saka Tatal, para saksi, hingga keluarga Vina. Bahkan, video penelusuran Dedi menjadi salah satu novum atau bukti baru di sidang PK Saka Tatal. Ia pun sempat menjadi saksi dalam persidangan.

”Kegiatan saya selalu terekam dalam media sosial, seperti Youtube, hingga dibagikan warga ke akun Tiktok dalam enam tahun terakhir. Cara itu memiliki efek yang luar biasa kepada publik,” kata Dedi. 

Akan tetapi, dia menyebut keterlibatannya di media sosial lebih dari menjaga popularitas. Dia mengklaim tulus hendak berbuat lebih untuk warga Jabar.

Itu, kata Dedi, tecermin lewat program Jabar Istimewa yang diusungnya bersama Erwan. Program ini menyasar masalah mendasar yang kini dialami masyarakat.

”Jabar Istimewa fokus mengatasi kegelisahan masyarakat atas minimnya infrastruktur dasar, fasilitas pendidikan yang tidak memadai, dan banyak warga yang menghuni rumah tidak layak,” katanya.

Infografik Survei Pilkada Jabar - Data 07
Infografik Survei Pilkada Jabar - Data 09
Infografik Survei Pilkada Jabar - Data 01
Infografik Survei Pilkada Jabar - Data 02
infografik Elektabilitas Pasangan Calon di Pilkada Jabar 2024 Berdasarkan Pilihan di Pilkada Jabar 2018
Infografik Survei Pilkada Jabar - Data 03

Ucapan itu mirip dengan yang disampaikannya di sesi terakhir debat perdana Pilkada Jabar di Bandung, Senin (11/11/2024). Dia mengatakan, telah bertemu keluarga yang bayinya ditahan di rumah sakit hingga ibu yang elpijinya disita rentenir. 

Dedi juga menyebut menyaksikan rumah warga roboh, serta petani yang sawahnya mengalami kekeringan karena tak ada irigasi. Di pesisir, ia melihat persoalan kapal yang tak bisa bersandar karena muara mengalami pendangkalan. Ia pun mengatakan, ada warga yang ijazahnya ditahan di sekolah karena tak mampu membayar uang gedung.

”Maka, (saat saya) menjadi gubernur dan Saudara Erwan menjadi wakil gubernur adalah cara terbaik untuk menyelesaikan seluruh problem derita rakyat Jawa Barat yang selama ini saya temukan setiap waktu,” kata Dedi.

Butuh bukti

Akan tetapi, warga tentu tidak hanya ingin empati. Janji harus menjadi bukti. Apalagi, kondisi ekonomi disebut sedang tidak baik-baik saja.

Arisyal (35), warga Padalarang, Bandung Barat, misalnya, berharap kemiskinan tidak merajalela. Lapangan pekerjaan dan upah layak mesti menjadi fokus siapa saja yang terpilih kelak. Tidak semua warga Jabar saat ini bisa merasakan hal itu.

Dia, misalnya, setelah bekerja sebagai teknisi dari pagi hingga sore, harus bekerja lagi sebagai tukang ojek daring sampai malam. Waktu istirahat tersita. Kurang tidur, kondisi kesehatannya amburadul.

Semua dilakukan untuk mendapat sedikit lebih banyak dari upah minimum. Saat ini, upah minimum provinsi Jabar sebesar Rp 2.057.495. per bulan, sedangkan upah minimum regional Bandung Barat sebesar Rp 3.508.667.

”Bila tidak kerja dobel, khawatir justru hidup susah,” kata ayah anak tiga ini.

Anak-anak pemulung bermain di hunian berlatar Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang di Kota Bekasi, Jawa Barat, Kamis (19/1/2023). BPS mencatat, jumlah orang miskin di Indonesia bertambah 200.000 orang dari Maret ke September 2022 sehingga total jumlah penduduk miskin per akhir September 2022 mencapai 26,36 juta orang. Meningkatnya angka kemiskinan itu disebabkan oleh kenaikan harga barang kebutuhan pokok, seiring dengan naiknya harga bahan bakar minyak (BBM) pada periode tersebut. KOMPAS/AGUS SUSANTO (AGS) 19-1-2023

Aris tidak keliru, berdasarkan data Badan Pusat Statistik, ada 3,85 juta warga tergolong miskin di Jabar hingga Maret 2024. Jumlah mungkin menurun dibandingkan Maret 2023. Saat itu tercatat 4,07 juta tergolong miskin. 

Meski turun, angka-angka itu tetap manusia. Semua menandakan masih ada orang-orang yang berjuang agar tidak hidup melarat di Jabar. Apalagi, tahun ini, tantangannya diprediksi tidak  lantas menjadi lebih mudah. 

Kepala Bank Indonesia Jabar Muhammad Nur mengatakan, pertumbuhan ekonomi Jabar 2024 ada pada kisaran 4,6-5,4 persen. ”Namun, diperkirakan bakal kurang dari 5 persen,” katanya.

Nur menyebut, hal itu dipengaruhi perkara geopolitik dunia hingga transisi pemerintahan di  Amerika Serikat. Kondisi global itu rentan memengaruhi kinerja ekspor, terutama industri pengolahan yang menjadi tulang punggung Jabar.

Akan tetapi, ia optimistis perekonomian di Jabar tidak akan terjun bebas. Alasannya, daya beli masyarakat tetap terjaga.

Mobilitas warga menjelang Natal dan Tahun Baru juga diperkirakan bakal tetap tinggi. Selain itu, investasi diperkirakan meningkat setelah tahun politik.

”Kami yakin semua kepala daerah yang terpilih punya komitmen terbaik untuk kemajuan daerahnya,” kata Nur. 

Belum menyerah

Respons para pesaing Dedi-Erwan sejauh ini melegakan. Meski mengatakan belum menyerah, semua sadar pasangan calon nomor urut 4 itu punya elektabilitas tertinggi.

Acil Asep Saepudin, juru bicara pasangan Acep Adang Ruhiat-Gitalis Dwi Natarina, masih optimis bisa menaikan elektabilitas. ”Survei kami apresiasi, tapi kami akan terus berikhtiar. Mudah-mudahan dengan sisa waktu yang ada, kami bisa bertarung dengan maksimal,” tutur Asep.

Dari survei Litbang Kompas, elektabilitas Acep Adang-Gita sebesar 4,1 persen. Angka itu menjadi yang terendah ketimbang tiga pasangan calon lain.

Warga melintasi baliho keempat paslon gubernur dan wakil gubernur untuk Pilkada Jawa Barat 2024 di Jalan Mawar, Kota Bogor, Jawa Barat, Sabtu (9/11/2024). Semakin mendekati hari pelaksanaan pemungutan suara dalam Pilkada Serentak 2024 diharapkan suasana kedamaian dan kerukunan antar pendukung paslon tetap terjaga dengan baik. Beberapa baliho dan spanduk kampanye paslon yang dipasang berdampingan maupun ajakan menyukseskan berjalannya Pilkada Serentak 2024, terlihat di sejumlah titik yang ramai dilewati masyarakat. Pemasangan dan penempatan secara imbang alat peraga kampanye para paslon menjadi salah satu upaya menjaga ketenangan dan keberimbangan sehingga masyarakat dengan mudah mempertimbangkan pilihannya. KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO 9-11-2024

Calon gubernur nomor urut 2 Jeje Wiradinata juga mengakui masih kalah dalam sejumlah survei. Dalam Survei Litbang Kompas, elektabilitasnya bersama calon wakil gubernur Ronal Surapradja sebesar 4,6 persen. 

”Kalau (survei) itu, Dedi (Mulyadi) pasti menang, masih jauh (dari yang lainnya). Pasti Dedi masih bagus,” ujarnya.

Meski kalah dalam sejumlah survei, Jeje akan menjadikan hasil itu sebagai motivasi untuk lebih giat meraih suara rakyat.

”Apakah Pak Dedi atau yang paling tinggi hasil surveinya menang di tanggal 27 (November)? Belum tentu. Hasil survei yang kalah juga belum tentu menjamin kalah. Banyak faktor yang memengaruhi,” ungkapnya.

Empat pasangan calon gubernur dan wakil gubernur yang mengikuti debat publik perdana Pemilihan Kepala Daerah Jawa Barat 2024 di Graha Sanusi, Universitas Padjadjaran (Unpad) Kota Bandung, Senin (11/11/2024). Empat paslon ini adalah Dedi Mulyadi-Erwan Setiawan, Ahmad Syaikhu-Ilham Akbar Habibie, Acep Adang Ruhiyat-Gitalis Dwi Natarina, dan Jeje Wiradinata-Ronal Sunandar Surapradja.

Ketua Harian Tim Pemenangan Jabar Ahmad Syaikhu-Ilham Habibie, Akbar Zulfakar, pun mengakui masih di bawah pasangan Dedi-Erwan.  Elektabilitas mereka dalam Survei Litbang Kompas menjadi terbanyak kedua dengan 9,0 persen. Namun, mereka masih terpaut 56 persen dari Dedi-Erwan.

Akan tetapi, Akbar menyebut, apa pun bisa terjadi pada masa injury time. Dia menggambarkan situasi ini seperti pertandingan sepak bola. Di waktu yang singkat ini semua bisa terjadi dan pihaknya bakal membalikkan keadaan untuk memenangi pertandingan.

Hal yang sama dilakukan saat tim ini memenangkan Ahmad Heryawan di pilkada-pilkada sebelumnya. Kalah dalam survei, tetapi memenangkan hati rakyat.

Infografik Survei Pilkada Jabar - Data 08

Pengamat politik dari Universitas Katolik Parahyangan, Pius Sugeng Prasetyo, berpendapat, Survei Litbang Kompas menunjukkan Dedi Mulyadi memiliki keunggulan modal politik dan sosial paling kuat.

Menurut Pius, Dedi memiliki rekam jejak sebagai kepala daerah dan politisi hingga level nasional. Selain itu, ia menggunakan pendekatan dengan berinteraksi langsung ke seluruh elemen masyarakat dalam beberapa tahun terakhir di wilayah Jabar. 

”Ia memiliki modal sosial yang tinggi dan mampu memanfaatkan medsos. Hal ini sejalan dengan tren masyarakat Indonesia dalam memilih kepala daerah. Tidak hanya kompetensi, tapi juga tingkat popularitas,” ucap Pius.

Pengajar Ilmu Politik Universitas Padjadjaran, Firman Manan, menilai, rendahnya elektabilitas tiga pasangan calon lain diduga karena diumumkan sebagai pasangan calon pada saat-saat terakhir. Akhirnya, waktu melakukan sosialisasi sangat terbatas. 

Infografik Survei Pilkada Jabar - Data 02

Mesin partai yang tidak panas juga disebut jadi penyebabnya. Dalam kasus Acep Adang-Gita, misalnya, seharusnya ada dampak antara hasil di pemilihan legislatif dan elektabilitas pasangan Acep Adang-Gita. 

Apalagi pasangan itu diusung PKB. Perolehan suara PKB di Pileg 2024 sekitar 11 persen di Jabar. Firman menilai, pemilih PKB belum solid mendukung Acep Adang-Gita.

Hal itu sejalan dengan hasil Survei Litbang Kompas. Dedi banyak mendulang suara dari anggota atau simpatisan partai pesaing. Dedi mendapat 77,3 persen dari pendukung PDI-P. Sebaliknya, pasangan Jeje-Ronal hanya mendapat 10,7 persen dari pendukung PDI-P.

Berapa pun jumlahnya, hasil survei bukan penentu terakhir. Semua ditentukan perhitungan suara pasca-pencoblosan. Peluang masih terbuka untuk menang.

Akan tetapi, bukan hal mengawang-awang juga jika mereka yang unggul kini tak lagi sekadar berjanji. Mereka harus menyiapkan diri memenangkan hati rakyat dengan kerja terbaik kelak.


Kerabat Kerja

Penulis:

Cornelius Helmy Herlambang, abdullah fikri ashri, Sucipto ., Emanuel Edi Saputra, Fabio Lopes, Dionisius Triwibowo
 | 

Editor:

Cornelius Helmy Herlambang