Survei Litbang Kompas: Dedi-Erwan Rebut Simpati Pemilih Partai

Hasil survei Litbang ”Kompas” menunjukkan, Dedi Mulyadi-Erwan Setiawan sukses menarik simpati sebagian besar pemilih partai.

14 Nov 2024 03:47 WIB · Politik & Hukum

Oleh Rangga Eka Sakti

Dukungan bagi pasangan Dedi Mulyadi-Erwan Setiawan tidak hanya datang dari pendukung partai politik pengusungnya. Limpahan suara juga berpotensi datang dari simpatisan partai yang bukan pendukung pasangan ini.

Unggulnya pasangan Dedi Mulyadi-Erwan Setiawan di Pilkada Jawa Barat ini terekam dalam survei Litbang Kompas yang diselenggarakan pada 1-9 November 2024.

Dengan metode wawancara tatap muka kepada 630 responden di provinsi ini, hasilnya menunjukkan pasangan ini meraih potensi keterpilihan di angka 65 persen.

Potensi keterpilihan ini jauh meninggalkan tiga pasangan calon lainnya. Di posisi kedua, pasangan Ahmad Syaikhu-Ilham Akbar Habibie hanya mampu mencatatkan tingkat keterpilihan di angka 9 persen.

Sementara itu, pasangan calon Jeje Wiradinata-Ronald Surapradja meraih 4,6 persen dan pasangan Acep Adang Ruhiat-Gitalis Dwi Natarina dengan tingkat keterpilihan mencapai 4,1 persen.

Tak ayal, kontestasi di pilkada kali ini jauh lebih mengerucut. Setidaknya jika dibandingkan dengan Pilkada Jabar 2018. Saat itu, pilkada juga diikuti empat pasangan calon dan persaingannya terbilang relatif ketat.

Ketika itu, pasangan Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum memenangi pilkada dengan perolehan suara mencapai 32 persen, berselisih 4 persen dari pasangan di urutan keduanya, Sudrajat-Ahmad Syaikhu.

Konsolidasi suara partai

Makin terpusatnya aliran suara pemilih Jabar ini tidak terlepas dari konsolidasi suara partai pengusung Dedi-Erwan yang solid. Pasangan ini terekam mampu menarik perhatian pemilih, tidak saja dari pemilih partai politik yang mengusungnya, tetapi juga nonpengusung.

Dari sejumlah partai politik tersebut, pasangan Dedi-Erwan diusung oleh empat partai dengan suara legislatif daerah yang relatif besar.

Dua partai politik utama yang mengusung pasangan ini ialah Gerindra dan Golkar, yang masing-masing memperoleh 20 dan 19 kursi legislatif Provinsi Jabar.

Selain itu, partai politik parlementer lain yang juga mengusung Dedi-Erwan adalah Demokrat dan PAN dengan perolehan sebesar 8 dan 7 kursi pada pemilu lalu.

Infografik Survei Pilkada Jabar - Data 06

Memang, dalam kasus provinsi lainnya, koalisi gemuk belum tentu jadi jaminan. Tanpa adanya konsolidasi suara konstituen, sokongan dari partai ini sulit untuk terealisasi jadi tingkat keterpilihan. Dalam kasus Jawa Barat, suara dari para pemilih partai pengusung ini terlihat mampu dikonsolidasikan.

Suara dari pemilih Partai Gerindra, misalnya, mampu secara maksimal diarahkan ke pasangan Dedi-Erwan. Hasil survei Litbang Kompas menunjukkan, hampir 73 persen dari para pemilih partai ini menyatakan dukungannya ke pasangan Dedi-Erwan.

Temuan serupa juga terlihat pada para pemilih Golkar. Hampir 70 persen dari responden kategori ini mengatakan akan memilih Dedi-Erwan di pilkada nanti.

Solidnya dukungan konstituen partai ini juga tampak jelas di kelompok pemilih Partai Demokrat dan PAN. Di kelompok pemilih Demokrat, elektabilitas pasangan calon ini terbaca sangat tinggi di sekitar 79 persen. Hal yang sama juga terjadi di kelompok pemilih PAN.

Kekuatan figur

Selain mampu menjaga suara di basis suara partai pendukung, besarnya tingkat keterpilihan Dedi-Erwan ini juga ditopang oleh kemampuan pasangan ini untuk menarik dukungan dari partai pengusung pasangan lainnya. Hal ini salah satunya bisa terdeteksi dari para pemilih PDI-P.

Berdasarkan hasil survei kali ini, sebanyak 77,3 persen dari pemilih PDI-P mengalirkan suaranya ke pasangan Dedi-Erwan. Sementara itu, suara konstituen yang mampu dikuasai oleh pasangan yang diusung PDI-P, yakni Jeje Wiradinata-Ronald Surapradja, mencapai 10,6 persen.

Fenomena yang mirip juga terjadi di para pemilih PKB. Dalam pilkada kali ini, PKB secara mandiri mengusung pasangan Acep Adang Ruhiat-Gitalis Dwi Natarina.

Sayangnya, pasangan yang mereka usung hanya mampu meraih elektabilitas sebesar 16,7 persen dari pemilih PKB. Capaian tersebut jauh lebih rendah dibandingkan dengan elektabilitas Dedi-Erwan dari kelompok pemilih PKB yang sebesar 55,6 persen.

Serupa, suara dari pemilih PKS sebagai partai dengan perolehan suara legislatif provinsi terbesar kedua di Jawa Barat pun terpecah.

Peneliti LItbang ”Kompas”, Vincentius Gitiyarko, buka-bukaan soal data Pilkada Jabar terkini. Apa yang membuat paslon Dedi Mulyadi-Erwan Setiawan begitu melejit, meninggalkan kedua paslon lainnya? Apakah masih ada celah bagi kedua paslon lainnya untuk menyusul elektabilitas Dedi-Erwan?

Hal ini terindikasi dari suara konstituen mereka yang hanya mengalir sekitar 35,4 persen ke pasangan Ahmad Syaikhu-Ilham Akbar Habibie. Sebagian besar dari para pemilih partai ini pun justru menyatakan ingin memilih pasangan Dedi-Erwan di bilik suara nanti.

Di satu sisi, terpecahnya suara pemilih dari partai politik pengusung, terutama di pasangan Jeje-Ronald, Syaikhu-Ilham, dan Acep-Gitalis ini menunjukkan bahwa gerak dari mesin partai-partai ini tampak belum maksimal. Di sisi lain, sosok Dedi-Erwan memang memiliki daya tarik yang disukai publik Jabar.

Asumsi ini pun diperkuat dari hasil survei kali ini, di mana separuh lebih responden (54,2 persen) mengaku sosok calon gubernur menjadi yang paling dipertimbangkan ketika memilih di pilkada ini.

Tidak hanya itu, pada variabel pendalaman keunggulan pasangan calon, sebagian besar dari responden (55,1 persen) melihat karakter personal menjadi keunggulan pasangan Dedi-Erwan. Artinya, selama masa pencalonan, pasangan ini sudah mampu memberi kesan yang melekat pada benak warga.

Meskipun begitu, peluang politik tetap terbuka pada semua pasangan calon. Memanfaatkan hari-hari terakhir sebelum waktu pencoblosan menjadi momentum bagi semua pasangan calon untuk mendulang tambahan elektoral. (LITBANG KOMPAS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Rangga Eka Sakti
 | 

Editor:

Yohan Wahyu