100 Pesawat Nirawak Iran Balas 330 Bom Israel

Sebelum 200 pesawatnya mencapai Iran, Israel memberi tahu AS. Sejumlah jenderal dan ilmuwan Iran tewas dalam serangan itu.

13 Jun 2025 14:28 WIB · Internasional

Oleh Kris Mada

TEL AVIV, JUMAT — Israel berusaha menjatuhkan sedikitnya 100 pesawat nirawak Iran. Pesawat itu pembalasan karena 200 jet tempur Israel menjatuhkan setidaknya 330 bom ke Iran. Israel memberi tahu Amerika Serikat sebelum pesawatnya mulai menyerang Iran.

Militer Israel, Tzahal, mengumumkan pesawat-pesawat nirawak Iran mengarah ke Israel pada Jumat (13/6/2025) pagi. Juru Bicara Tzahal, Effie Defrin, menyatakan, Tzahal sedang berusaha menangkis pesawat-pesawat itu. Sebagian pesawat dilaporkan ditembak di luar Israel. Tidak disebut di mana pastinya pesawat dijatuhkan.

Belum diketahui berapa jumlah pesawat nirawak yang dikirim Iran ke Israel. Belum diketahui pula, berapa lama pesawat-pesawat itu mencapai Israel.

Sementara Jordania, salah satu negara Arab yang mengakui kedaulatan Israel, mengumumkan penutupan wilayah udaranya. Pengumuman disampaikan beberapa jam selepas semua pesawat Israel dilaporkan telah pulang dari menyerang Iran.

Rute udara antara Israel dan Iran harus melewati Jordania. Sejumlah pangkalan Amerika Serikat beroperasi di Jordania. Amman berkilah tidak mau wilayah udaranya menjadi gelanggang pertempuran udara.

Pada April 2024, Jordania menjatuhkan sejumlah pesawat nirawak dan rudal Iran yang diarahkan ke Israel. Sementara pesawat Israel yang menyerang Iran bisa terbang di atas Jordania. Keputusan itu dikecam keras warga Jordania.

This handout photo released by Iran's Revolutionary Guard Corps (IRGC) official Sepah News Telegram channel on June 13, 2025 reportedly shows smoke billowing from a site targeted by an Israeli strike in the Iranian capital Tehran early in the morning. Israeli Prime Minister Benjamin Netanyahu said in a video statement in the early hours of June 13 that Israel carried out strikes on Iran and the military operation against the Islamic republic would "continue for as many days as it takes". (Photo by SEPAH NEWS / AFP) / RESTRICTED TO EDITORIAL USE - MANDATORY CREDIT "AFP PHOTO / SEPAH NEWS " - NO MARKETING NO ADVERTISING CAMPAIGNS - DISTRIBUTED AS A SERVICE TO CLIENTS

Pesawat Iran itu diterbangkan tidak sampai lima jam setelah Israel menyerang Iran. Korban tewas akibat serangan tersebut termasuk Panglima dan Kepala Staf Garda Revolusi Iran Mayor Jenderal Hossein Salemi dan Mayjen Mohammed Bagheri. Bagheri merupakan Kepala Staf IRGC.

Mantan Kepala Badan Keamanan Dalam Negeri Iran Ali Shamkhani juga dilaporkan tewas dalam serangan tersebut. Ia salah satu penasihat utama Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.

Serangan Israel juga menewaskan Mohammad Mahdi Tehranchi dan Fereydoon Abbasi. Mereka ilmuwan senior dalam pengembangan nuklir Iran. Abbasi pernah menjadi Kepala Badan Tenaga Atom Iran. Sementara Tehranchi menjadi rektor Universitas Islam Azad.

Mereka menjadi sasaran dari setidaknya 330 bom yang diarahkan Israel ke Iran. Defrin menyebut, serangan Jumat dini hari melibatkan setidaknya 200 jet tempur.

Dalam pernyataan tertulisnya, Kedutaan Besar Iran di Jakarta menyebut serangan itu pelanggaran nyata terhadap Pasal 2 Ayat 4 Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa. Serangan itu agresi terang-terangan terhadap Republik Islam Iran.

Sesuai dengan Pasal 51 Piagam PBB, Iran memiliki hak hukum dan sah untuk membela diri. ”Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran akan merespons dengan seluruh kekuatannya dalam waktu dan cara yang dianggap tepat demi mempertahankan kehormatan dan kedaulatan bangsa,” lanjut pernyataan itu.

Republik Islam Iran menyerukan kepada seluruh negara anggota PBB—khususnya negara-negara kawasan, negara-negara Islam, anggota Gerakan Non-Blok, serta semua negara yang peduli terhadap perdamaian dan keamanan internasional—untuk segera mengecam agresi kriminal ini. ”Mengambil langkah bersama secara mendesak untuk menghadapi petualangan berbahaya ini, yang tanpa diragukan lagi mengancam perdamaian dan keamanan dunia secara serius dan belum pernah terjadi sebelumnya,” demikian lanjutan pernyataan itu.

Media Amerika Serikat, Axios, melaporkan, Presiden AS Donald Trump tahu serangan itu akan dilancarkan. Bahkan, para bawahan Trump diberi tahu Israel sebelum pesawat-pesawat Israel meledakkan bom di Iran.

Koordinasi rutin

Sejumlah media Israel dan Amerika Serikat melaporkan, Israel mengabari serangan itu sebelum pesawat penyerang meledakkan bom di Israel. Sementara sikap resmi AS disampaikan Menteri Luar Negeri Marco Rubio kurang dari dua jam selepas bom-bom Israel mulai meledak di Iran.

Media Israel, The Jerusalem Post, dan Channel 12 melaporkan, Israel terus mengabari perkembangan rencana mereka ke AS. Duta Besar AS untuk Israel, Mike Huckabee, secara berkala dapat laporan itu.

Menurut The Jerusalem Post, pejabat AS-Israel kompak mengecoh Iran. Mereka sengaja menciptakan kesan AS tidak mendukung serangan ke Iran. ”Saya ragu Israel akan melakukan ini (menyerang Iran) tanpa persetujuan dari pemerintahan Trump,” kata peneliti senior Atlantic Council di Washington DC, Matt Kroenig, seraya menekankan akan sangat aneh bila AS sama sekali tidak mendukung serangan itu.

Kementerian Luar Negeri Iran juga menyatakan tidak mungkin Israel berani menyerang kalau tidak dibantu AS. ”Tidak mungkin terjadi tanpa koordinasi dan persetujuan AS. Dengan demikian, Pemerintah AS sebagai pendukung rezim (Israel) juga bertanggung jawab atas konsekuensi berbahaya dari eskalasi ceroboh ini,” demikian pernyataan Kemenlu Iran.

Pernyataan disampaikan selepas Menlu Rubio mengeluarkan pernyataan tertulis soal serangan Israel. ”Malam ini, Israel melakukan langkah sepihak kepada Iran. Kami tidak terlibat dalam serangan ke Iran dan prioritas kami melindungi pasukan AS di kawasan,” ujarnya.

Direktur Pertahanan dan Politik Luar Negeri pada Cato Institute Justin Logan mengatakan, Israel sengaja menyeret AS dalam bahaya. Israel menempatkan AS dalam posisi tidak mungkin tidak terlibat dalam perang ini.

Menurut The Jerusalem Post, ada upaya pengecohan besar-besaran terhadap Iran sebelum serangan dimulai. Bentuknya antara lain pengumuman Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengutus David Barnea dan Ron Dermer ke Washington DC. Alasannya, membahas rencana perundingan lanjutan AS-Iran di Oman. Barnea adalah Direktur Mossad, badan intelijen luar negeri Israel, sementara Dermer menjabat Menteri Urusan Strategis AS.

Infografik Internasional Serangan Israel atas Fasilitas Nuklir Iran, 13 Juni 2025

Sejak Maret lalu, Presiden AS Donald Trump dilaporkan memasukkan Dermer di daftar orang yang tidak boleh berkomunikasi langsung dengan Trump. Bersama Netanyahu, Dermer dinilai Trump manipulatif.

Dermer dan Barnea adalah salah satu dari amat sedikit orang yang tahu rencana terperinci serangan Jumat dini hari ke Israel. Mereka, juga Netanyahu dan para anggota kabinet Israel, menyetujui serangan itu pada Kamis malam.

Undangan yang diedarkan untuk rapat itu adalah membahas pembebasan sandera di Gaza. Begitu di ruang rapat yang berada di dalam bunker, Netanyahu memberi tahu rencana serangan ke Israel. Seluruh anggota kabinet Israel menyetujui.

Media Israel, Channel 12, melaporkan Netanyahu memberi Trump 60 hari untuk bersepakat soal nuklir Iran. Tenggat itu berakhir pada Kamis (12/6/2025). (AP/AFP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Kris Mada
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari