Sedikitnya 100 korban keracunan MBG di Bandung Barat, Jumat (26/9/2025), masih dirawat. Daerah diminta tak ragu menetapkan KLB demi meminimalkan risiko keracunan.
26 Sep 2025 13:10 WIB · Kesehatan
BANDUNG, KOMPAS — Sedikitnya 100 siswa yang keracunan menu makan bergizi gratis di Bandung Barat, Jawa Barat, masih menjalani perawatan di sejumlah fasilitas kesehatan. Meski banyak siswa terdampak sudah sembuh, kewaspadaan perlu tetap ditegakkan guna mencegah hal buruk terjadi lagi.
”Kamis (25/9/2025) malam, masih ada yang datang ke Puskesmas Cipongkor dan Puskesmas Cihampelas untuk mendapatkan perawatan. Namun, jumlah pastinya masih kami data,” kata Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Bandung Barat Lia Nurliana, Jumat (26/9/2025).
Lia mengatakan, sejauh ini, tercatat 1.258 siswa keracunan menu makan bergizi gratis (MBG) di Bandung Barat. Mereka datang dalam dua gelombang besar, yakni pada Senin (22/9/2025) dan Rabu (24/9/2025). Sebagian besar mengeluhkan pusing dan mual.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/25/92cf5ea0ea157e3545ffaa70e283e9ba-20250925AGS_63.jpg)
Sejauh ini, tercatat 1.159 siswa yang dinyatakan sudah sembuh. Mereka, kata Lia, diperbolehkan pulang untuk menjalani pemulihan di rumah.
”Yang masih dirawat tercatat 99 orang. Namun, datanya masih dinamis bisa berubah,” kata Lia.
Sementara itu, Atep, warga Cipongkor, mengatakan masih menunggu anaknya bisa pulang. Sejauh ini kondisinya membaik. Selain bisa makan, anaknya sudah tidak pusing atau mual.
Akan tetapi, ditanya apakah anaknya diizinkan makan sajian MBG lagi, Atep mengatakan, dirinya menyarankan tidak dulu menyantapnya. ”Masih khawatir akan keracunan lagi,” kata Atep saat dihubungi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/25/dbf9b3abcfef859672f3598114bfdff7-20250925AGS_46.jpg)
Sementara itu, Kepala Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Padjadjaran Deni Kurniadi Sunjaya mengatakan, kepala daerah tidak perlu takut menerapkan status kejadian luar biasa (KLB) bila sudah memenuhi basis epidemiologinya.
Dia menyebut, permasalahannya bukan pada program MBG, melainkan pada proses pengelolaan dan distribusi makanan di lapangan. Tanpa penanganan kasus yang tepat, dia khawatir keracunan masih akan terus terjadi.
Di Jabar, meski kasus keracunan sudah terjadi di beberapa daerah, baru Kabupaten Bandung Barat yang menetapkan status KLB. Sejauh ini, kasus keracunan MBG di Bandung Barat adalah yang tertinggi di Indonesia.
Bupati Sumedang Doni Ahmad Munir mempertimbangkan penetapan KLB. Hal ini merujuk pada kasus keracunan yang menimpa 70 anak pada Kamis (25/9/2025).
Penulis:
Cornelius Helmy HerlambangEditor:
Mukhamad KurniawanPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari