Meningkatnya ancaman senjata mematikan dan eskalasi yang memperluas konflik geopolitik menandai 1.000 hari perang Rusia-Ukraina.
19 Nov 2024 20:44 WIB · Internasional
KYIV, SELASA — Memasuki 1.000 hari, perang Rusia-Ukraina ditandai dengan meningkatnya ancaman penggunaan senjata mematikan. Rusia mempermudah penggunaan senjata nuklir. Adapun Ukraina memperoleh lampu hijau untuk menyerang Rusia dengan rudal jarak jauh AS.
Tepat pada 1.000 hari perang Rusia-Ukraina, Selasa (19/11/2024), Ukraina menyatakan pasukannya tidak akan pernah menyerah kepada Rusia. Sementara Kremlin menjanjikan kemenangan sekaligus menerbitkan doktrin yang mempermudah penggunaan senjata nuklir.
Di palagan, peringatan 1.000 hari perang dibuka dengan serangan Rusia di wilayah Sumy di Ukraina timur. Serangan itu menghancurkan sebuah bangunan hunian era Soviet dan menewaskan sedikitnya sembilan orang, termasuk seorang anak.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengunggah foto petugas penyelamat yang mengangkut korban tewas dari reruntuhan. Unggahan itu meminta sekutu Kyiv untuk memaksa Kremlin berdamai. Ribuan warga Ukraina telah meninggal akibat invasi Rusia. Lebih dari 6 juta orang hidup sebagai pengungsi di luar negeri.
Zelenskyy juga mengunggah video momen-momen dramatis dalam perang, termasuk pidatonya yang mengumumkan dimulainya invasi tiga tahun lalu. ”Jangan panik, kami kuat, kami siap untuk segalanya, kami akan mengalahkan mereka semua,” katanya di awal perang yang ia unggah kembali.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/19/9ebf01033707713e080b62c26e33cad6-36e2fb86671c468fbb03b00387e1bd99_0_3eeca6cfd3194293b53b0e274918bc15.jpg)
Dalam sebuah pernyataan, Kementerian Luar Negeri Ukraina menggemakan komentar Zelenskyy. Sembari mengobarkan pernyataan pantang menyerah, pernyataan itu meminta sekutu mereka untuk meningkatkan dukungan militer guna segera mengakhiri perang itu.
”Ukraina tidak akan pernah tunduk kepada penjajah. Militer Rusia akan dihukum karena melanggar hukum internasional,” demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Ukraina.
Di sisi lain, Kremlin berjanji mengalahkan Ukraina.”Operasi militer terhadap Kyiv terus berlanjut dan akan selesai,” kata Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov.
Komentar itu muncul bersamaan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin menandatangani doktrin yang mempermudah Rusia melakukan serangan nuklir. Doktrin itu menambah kondisi yang memungkinkan Moskwa dapat mempertimbangkan penggunaan senjata nuklir.
Salah satunya, Rusia dapat menggunakan senjata nuklir sebagai respons terhadap serangan nuklir pihak lain. Namun, Rusia juga dapat menggunakan senjata nuklir atas serangan konvensional yang menimbulkan ancaman kritis terhadap kedaulatan dan integritas teritorial Rusia dan sekutunya, Belarus.
Dokumen tersebut mencatat bahwa agresi terhadap Rusia oleh anggota blok militer atau koalisi tertentu akan dipandang sebagai agresi oleh seluruh blok. Serangan oleh salah satu negara anggota NATO, misalnya, akan dianggap serangan oleh NATO secara keseluruhan yang dapat memicu balasan serangan nuklir oleh Rusia.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/10/30/3a3280de-a20b-4c82-ae78-91c65113b351_jpg.jpg)
Dokumen itu menjabarkan kondisi penggunaan senjata nuklir secara lebih rinci dibandingkan versi sebelumnya. Senjata mematikan itu dapat digunakan jika terjadi serangan udara besar-besaran yang melibatkan rudal balistik dan jelajah, pesawat terbang, pesawat nirawak, dan wahana terbang lainnya terhadap Rusia dan sekutunya.
Padahal, di doktrin sebelumnya, Rusia hanya dapat memanfaatkan persenjataan nuklirnya jika terjadi serangan dengan rudal balistik. Tak hanya itu, Rusia dapat menggunakan senjata nuklir terhadap negara non-nuklir jika negara itu didukung oleh negara yang mempunyai kekuatan nuklir.
Doktrin baru juga menyatakan setiap serangan udara besar-besaran terhadap Rusia dapat memicu respons nuklir. Hal ini menunjukkan kesiapan Putin untuk memanfaatkan persenjataan nuklir guna memaksa Barat mundur dari upaya memberikan senjata untuk menyerang Rusia.
Sebelumnya, Presiden AS Joe Biden memberi izin kepada Ukraina untuk menggunakan rudal jarak jauh AS guna menyerang lebih dalam ke wilayah Rusia. Keputusan ini menandai perubahan signifikan kebijakan Washington terkait perang Ukraina-Rusia.
Selama dua tahun pertama perang Rusia-Ukraina, AS melarang Ukraina menggunakan senjata pasokan AS untuk menyerang wilayah Rusia. Senjata-senjata itu hanya diperbolehkan untuk bertahan.
Putin telah memperingatkan AS dan sekutu NATO lainnya bahwa membiarkan Ukraina menggunakan senjata jarak jauh yang dipasok Barat untuk menyerang wilayah Rusia berarti Rusia dan NATO sedang berperang.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/19/969a07a5df134576f6bbcf4cd83882b6-AFP_36MT2JH.jpg)
Ketika ditanya apakah doktrin yang diperbarui tersebut sengaja dikeluarkan setelah keputusan Biden, Peskov mengatakan, dokumen tersebut diterbitkan tepat waktu dan bahwa Putin menginstruksikan pemerintah untuk memperbarui doktrin itu awal tahun 2024 untuk menyesuaikan dengan kondisi saat ini.
Putin pertama kali mengumumkan perubahan dalam doktrin nuklir pada September 2024 saat memimpin rapat yang membahas revisi doktrin tersebut.
Para tokoh garis keras Rusia telah menyerukan untuk memperketat doktrin nuklir selama berbulan-bulan. Mereka beralasan versi sebelumnya gagal menghalangi Barat untuk meningkatkan bantuannya ke Ukraina dan menciptakan kesan bahwa Moskwa tidak akan menggunakan senjata nuklir.
Ukraina tidak akan pernah tunduk kepada penjajah. Militer Rusia akan dihukum karena melanggar hukum internasional.
Setelah berbulan-bulan didesak, Putin baru menyepakatinya tepat pada hari ke-1.000 perang Rusia-Ukraina. Perang Rusia-Ukraina dimulai saat Putin mengirim pasukan ke Ukraina pada 24 Februari 2022.
Sejak Putin mengirim pasukan ke Ukraina, ia dan pejabat Rusia lainnya sering mengancam Barat dengan persenjataan nuklir Rusia. Ancaman ini dimaksudkan untuk mencegah peningkatan dukungan Barat untuk Kyiv.
Terkait hal ini, Presiden Belarus Alexander Lukashenko telah mengizinkan Rusia menggunakan wilayah negaranya untuk mengirim pasukan dan mengerahkan senjata nuklir taktis ke Ukraina.
Eskalasi perang Rusia-Ukraina yang memperluas konflik geopolitik semakin terasa memasuki tahun ketiga ini. Sebelumnya, eskalasi sudah didorong adanya pesawat nirawak serang buatan Iran dan peluru artileri serta rudal balistik buatan Korea Utara. Rusia juga telah mengerahkan sekitar 11.000 tentara dari Korea Utara untuk memperkuat pasukan mereka.
Menurut Kyiv, beberapa di antaranya telah bentrok dengan pasukan Ukraina di wilayah Kursk, Rusia. Seorang pejabat senior Kyiv mengatakan, Pyongyang memiliki kapasitas untuk mengirim hingga 100.000 tentara. Ukraina mengerahkan beberapa pasukan terbaiknya untuk mempertahankan sebagian kecil wilayah Rusia itu, yang direbut pada Agustus 2024.
Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Josep Borrell mendesak negara-negara anggota UE untuk mengikuti langkah Washington mengizinkan Kyiv menyerang kawasan di dalam Rusia menggunakan rudal jarak jauh sumbangan negara masing-masing.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/19/c28a309d310fb94e1fa4bef2a8cc36ea-AFP_36MQ8QY.jpg)
Pekan lalu, Zelenskyy mengatakan, Ukraina harus melakukan yang terbaik untuk mengakhiri perang pada 2025 lewat cara diplomatik. Namun, sejauh ini tak ada peluang negosiasi.
Kyiv telah lama menuntut penarikan penuh Rusia dari semua wilayah yang diduduki dan jaminan keamanan dari Barat. Sementara Kremlin mengatakan Ukraina harus menghentikan semua ambisi untuk bergabung dengan NATO dan menarik pasukannya sepenuhnya dari provinsi-provinsi yang telah dikuasai Rusia.
Di Warsawa, Polandia, enam negara Eropa memulai pembicaraan terkait invasi Rusia. Mereka adalah para diplomat tinggi dari Jerman, Perancis, Italia, dan Polandia. Menteri Luar Negeri Inggris David Lammy dan Jose Manuel Albares dari Spanyol akan ikut serta melalui video.
Pertemuan ini berlangsung setelah pertemuan menteri luar negeri Uni Eropa di Brussels, Belgia. Pertemuan di Warsawa akan membahas kemungkinan adanya perubahan arah dalam perang Rusia-Ukraina.
Kembalinya Donald Trump ke tampuk kekuasaan sebagai presiden terpilih AS menjadi ancaman adanya perubahan drastis dalam kebijakan AS pada dukungan Ukraina. ”Pembicaraan tersebut juga akan membahas identitas pertahanan Eropa dan cara memperkuatnya,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Polandia Jeff Liu.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Jerman Kathrin Deschauer mengatakan, saat ini ada kekhawatiran umum yang sangat besar atas situasi keamanan di Eropa dan terutama situasi di Ukraina. (AFP//Reuters/AP)
Penulis:
Irene SarwindaningrumEditor:
Fransisca Romana Ninik W