102 Orang Meninggal akibat Bencana Aceh, Jumlahnya Berpotensi Bertambah

Hingga Minggu malam, jumlah korban meninggal akibat bencana di Aceh mencapai 102 orang. Angka itu berpotensi terus bertambah seiring perluasan operasi SAR.

30 Nov 2025 21:41 WIB · Lingkungan

DOKUMENTASI KANTOR SAR ACEH

Oleh Adrian Fajriansyah

JAKARTA, KOMPAS — Ratusan orang meninggal akibat bencana alam di Aceh hingga Minggu (30/11/2025) malam. Jumlahnya bahkan diperkirakan akan terus bertambah. Saat ini, sejumlah daerah masih terisolasi.

Berdasarkan data Pemerintah Provinsi Aceh melalui Pos Komando Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi Aceh, hingga Minggu pukul 20.30 WIB, jumlah korban meninggal di Aceh mencapai 102 orang. Selain itu, tercatat 116 orang hilang, 326 orang luka berat, dan 1.286 orang luka ringan.

Dampak bencana di Aceh pun menyebabkan 62.141 keluarga atau 292.806 orang mengungsi dari total 104.901 keluarga atau 526.098 orang di 1.652 kampung dari 224 kecamatan di 18 kabupaten/kota yang terdampak. Para pengungsi tersebar di 403 titik lokasi.

Jurus bicara Posko Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi Aceh, Murthalamuddin, mengatakan, data jumlah korban bencana Aceh sangat dinamis. ”Angkanya kemungkinan akan terus bertambah seiring perluasan operasi SAR yang dilakukan tim gabungan,” ujarnya.

Murthalamuddin tidak menafikan operasi SAR belum menyentuh seluruh wilayah yang terdampak. Alasannya, ada wilayah terdampak yang masih terisolasi akibat akses transportasi darat ataupun jaringan telekomunikasi putus.

”Saat ini belum semua wilayah terdampak bisa terakses karena jalan ataupun jembatan dari dan menuju wilayah tersebut masih putus,” katanya.

Personel Kantor SAR Aceh melakukan proses evakuasi korban terdampak bencana di kawasan Lhoksukon, Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh, Minggu (30/11/2025).

Data itu dihimpun dari seluruh petugas di lapangan dan rumah sakit. Murthalamuddin menuturkan, data tersebut sekaligus untuk membantah hoaks yang beredar di media sosial bahwa jumlah korban meninggal akibat bencana Aceh mencapai 400 orang.

”Saya pastikan informasi itu tidak benar alias kabar bohong,” ucapnya.

Terlepas dari itu, Murthalamuddin menyampaikan, angka tersebut menunjukkan bahwa dampak bencana Aceh sangat serius. ”Untuk itu, pemerintah terus berupaya memperkuat upaya evakuasi, pelayanan kesehatan, dan penyediaan bantuan logistik,” tuturnya.

Quote

Pemerintah terus berupaya memperkuat upaya evakuasi, pelayanan kesehatan, dan penyediaan bantuan logistik.

Kerusakan infrastruktur

Di samping menimbulkan korban, bencana Aceh juga telah meluluhlantakkan sejumlah fasilitas infrastruktur, baik milik masyarakat maupun untuk layanan umum.

Setidaknya, 49.822 rumah warga rusak ringan hingga berat. Derita masyarakat diperparah dengan hilangnya 18 hewan ternak serta rusaknya 138.447 hektar sawah dan sekitar 12.000 hektar area perkebunan.

Fasilitas umum yang terdampak, antara lain, 275 titik jalan putus dan 146 jembatan putus. Selain itu, 46 tempat ibadah, 157 bangunan sekolah, 132 perkantoran, dan 2 pondok pesantren mengalami kerusakan ringan hingga berat.

”Pemulihan kerusakan infrastruktur, terutama jalan dan jembatan, menjadi perhatian serius pemerintah karena menghambat proses penanganan darurat bencana ke wilayah terdampak. Saat ini, tim gabungan terus berusaha membuka akses secara darurat di sejumlah titik lokasi yang putus tersebut,” ujar Murthalamuddin.

Personel Kantor SAR Aceh melakukan proses evakuasi korban terdampak bencana di kawasan Lhoksukon, Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh, Minggu (30/11/2025).

Sementara itu, Sekretaris Daerah Aceh M Nasir mengatakan, genangan air di sebagian besar wilayah terdampak sudah mulai surut. Tantangan yang dihadapi saat ini adalah endapan lumpur yang masih menutupi wilayah terdampak.

Pembersihan material sisa banjir itu memerlukan penanganan tambahan. ”Proses pembersihan terus dilakukan untuk memperlancar proses evakuasi,” ucapnya.

Mengenai pendistribusian bantuan logistik, lanjut Nasir, pihaknya memastikan bantuan sudah mulai disalurkan melalui udara dan laut. Pendistribusian melalui udara dilakukan untuk menjangkau wilayah pegunungan dan pedalaman yang masih terisolasi, seperti Kabupaten Aceh Tengah dan Aceh Tamiang.

Pendistribusi via laut dilakukan untuk menjangkau wilayah di pesisir timur yang masih terisolasi, meliputi Lhokseumawe, Aceh Utara, Aceh Timur, Langsa, dan Aceh Tamiang.

”Sejumlah wilayah telah menerima bantuan yang didistribusikan melalui udara dan laut tersebut. Proses pendistribusian itu akan terus dilakukan berkelanjutan,” kata Nasir.

Nasir menegaskan, selama masa tanggap darurat bencana yang ditetapkan 14 hari, semua pihak terkait berkomitmen untuk memastikan seluruh kebutuhan darurat masyarakat terpenuhi, mulai dari proses evakuasi, penyediaan kebutuhan pokok, hingga pemulihan konektivitas transportasi ataupun telekomunikasi.

”Selama masa tanggap darurat tersebut, kami berupaya pastikan semua masyarakat sehat, selamat, dan tidak kekurangan suatu apa pun. Distribusi bantuan logistik dan layanan kesehatan juga dipastikan akan betul-betul menjangkau warga yang terdampak,” ucap Nasir.


Kerabat Kerja

Penulis:

Adrian Fajriansyah
 | 

Editor:

Cornelius Helmy Herlambang
 | 

Penyelaras Bahasa:

Retma Wati