Bantuan ke Aceh Didistribusikan via Udara dan Laut

Untuk atasi akses darat yang masih putus, distribusi bantuan logistik ke wilayah terdampak bencana di Aceh dilakukan via udara dan laut yang dimulai sejak Minggu.

30 Nov 2025 19:25 WIB · Lingkungan

DOKUMENTASI PEMERINTAH ACEH

Oleh Adrian Fajriansyah

JAKARTA, KOMPAS — Untuk mengatasi akses darat yang masih terputus, proses pendistribusian bantuan logistik ke wilayah terdampak bencana di Aceh dilakukan melalui udara dan laut. Proses pendistribusian terus dipercepat karena kondisi warga terdampak semakin kritis.

Pendistribusian bantuan dengan cara dijatuhkan langsung dari udara mulai dilakukan pada Minggu (30/11/2025) pagi. Cara itu dipilih karena sebagian besar akses darat dari dan menuju wilayah terdampak di Aceh masih putus, terutama di wilayah pegunungan.

Pola pendistribusian itu memanfaatkan pesawat dan helikopter milik TNI. Logistik yang didistribusikan, terdiri dari makanan, air bersih, obat-obatan, hingga pakaian.

Sesampai pesawat atau helikopter di titik tertentu di wilayah terdampak, logistik langsung dilemparkan dari udara. Sementara itu, di darat, sejumlah prajurit TNI yang disiagakan langsung menyambut logistik tersebut. Setelah dikumpulkan, barulah logistik disalurkan kepada warga terdampak.

Adapun pola pendistribusian itu disepakati oleh sejumlah pejabat dari pemerintah pusat dan pemerintah daerah seusai meninjau wilayah terdampak di Gampong Blang Awee, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, Sabtu (29/11/2025). Pola itu dipilih setelah mereka mendengar keluhan dan kebutuhan mendesak dari warga terdampak.

Dari apa yang disampaikan warga, Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin menilai, pendistribusian bantuan tidak bisa ditunda lagi. Proses pendistribusiannya harus dilakukan sesegera mungkin karena kondisi warga sudah sangat darurat dan butuh pertolongan cepat. Atas dasar itu, pola pendistribusian bantuan dengan dilempar langsung dari udara dipilih.

Gubernur Aceh Muzakir Manaf atau Mualem mengecek kedatangan bantuan tanggap darurat bencana yang dibawa menggunakan pesawat Hercules di Bandara Malikussaleh, Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh, Minggu (30/11/2025).

”Mulai hari Minggu dan seterusnya, pemerintah akan membawa semua kebutuhan vital bagi pengungsi di seluruh Aceh. Untuk mempercepat prosesnya, pesawat dan helikopter TNI akan menjatuhkan bantuan dari udara ke setiap titik wilayah terdampak. Bantuan yang dijatuhkan akan diterima prajurit TNI yang disiagakan di darat untuk selanjutnya disalurkan ke pengungsi,” tuturnya.

Dalam kesempatan itu, Sjafrie meminta semua pihak terkait segera membeli ataupun menyiapkan kebutuhan yang akan diberikan kepada warga. Dia meminta proses penyiapan kebutuhan itu dilakukan cepat tanpa perlu dirapatkan. ”Tidak perlu rapat lagi, tindakan langsung,” ucapnya menegaskan.

Seiring dilakukannya pendistribusian bantuan, Sjafrie mengatakan, pemerintah segera menyiapkan kebutuhan untuk tahap penanganan berikutnya, yakni rehabilitasi infrastruktur yang mengalami kerusakan berat. Itu meliputi akses transportasi darat, jaringan listrik, dan telekomunikasi. Itu bertujuan untuk membuka keterisolasian yang masih terjadi di sejumlah wilayah.

Sempat terkendala komunikasi

Wakil I Asisten Teritorial Kepala Staf Kodam Iskandar Muda Kolonel Inf Fransisco menjelaskan, seluruh posko wilayah terdampak telah diinstruksikan untuk mendata titik koordinat desa yang masih terisolasi, sebagai dasar penyaluran bantuan via udara. Dia mengakui, kendala jaringan komunikasi sempat menghambat proses tersebut.

”Karena itu, bantuan perangkat komunikasi darurat Starlink lebih dahulu dikirim ke wilayah terdampak, khususnya di wilayah pegunungan di Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah. Starlink disediakan untuk memperlancar koordinasi,” katanya.

Fransisco menuturkan, selain membantu pendistribusian bantuan, angkutan udara TNI turut membantu pengangkutan bahan material untuk pemulihan jaringan listrik. ”Untuk memperkuat proses pendistribusian bantuan dan pengangkutan material melalui udara tersebut, kami mendapatkan dukungan penambahan helikopter dari tiga unit menjadi enam unit,” tuturnya.

Gubernur Aceh Muzakir Manaf menyalurkan bantuan tanggap darurat ke sejumlah titik pengungsian di Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh, Sabtu (29/11/2025) malam. Bantuan didistribusikan hingga tengah malam kepada warga yang membuka dapur umum di sepanjang jalan nasional Banda Aceh-Medan.

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menyampaikan, pemulihan jaringan listrik menjadi prioritas lain yang sedang dikerjakan. PLN disebutkan telah mengirim 30 ton material untuk membangun tower listrik baru dari Jakarta ke Aceh.

Pengangkutan material itu dilakukan menggunakan helikopter yang mampu membawa 6 ton material per hari. Dengan kapasitas tersebut, Tito memprediksi proses pemindahan seluruh material tuntas dalam lima hari.

Seusai semua material dipindahkan, proses selanjutnya ialah pengerjaan kontruksi yang butuh waktu dua hari. ”Insya Allah, pekan depan, listrik dan komunikasi akan kembali lancar,” katanya.  

Pendistribusian melalui laut

Selain melalui udara, pendistribusian bantuan ke wilayah terdampak di Aceh pun dilalukan menggunakan kapal laut. Bantuan yang diberikan, antara lain, bahan makanan, air bersih, perlengkapan kebutuhan wanita dan anak balita, perlengkapan tidur, genset, perahu karet, serta perangkat Starlink.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Abdul Muhari mengatakan, bantuan itu diberangkatkan dari Pelabuhan Ulee Lheue di Banda Aceh dengan kapal cepat Express Bahari mulai hari Minggu. Kapal itu membawa bantuan menuju lima wilayah, yakni di Kota Lhokseumawe, Kabupaten Aceh Utara, Aceh Timur, Kota Langsa, dan Aceh Tamiang.

Barang bantuan logistik dan peralatan dikirim melalui jalur laut dengan menggunakan kapal Express Bahari di Pelabuhan Ulee Lheu, Banda Aceh, Provinsi Aceh, Minggu (30/11/2025). Direncanakan bantuan ini akan menjangkau lima wilayah yakni Lhokseumawe, Aceh Utara, Aceh Timur, Kota Langsa dan Aceh Tamiang.

”Total bantuan seberat 27 ton itu akan berlabuh di dua lokasi, yakni Pelabuhan Krueng Geukueh, Lhokseumawe, untuk menjangkau wilayah Lhokseumawe dan Aceh Utara. Kemudian, kapal berhenti di Pelabuhan Kuala Langsa untuk menjangkau wilayah Langsa, Aceh Timur, dan Aceh Tamiang,” tuturnya.

Di tengah berjalannya proses pendistribusian dari udara dan laut, Sekretaris Daerah Aceh M Nasir menuturkan, pihaknya tetap berusaha membuka akses darat yang terputus dari dan menuju wilayah terdampak di Aceh. Pembukaan akses darat diperlukan untuk semakin mempercepat proses evakuasi dan pendistribusian bantuan.

Quote

Mulai hari Minggu, petugas akan melakukan pengerjaan untuk membuka akses darat yang terputus agar proses evakuasi dan pendistribusian bantuan bisa dilakukan lebih cepat.

Hingga saat ini, pemerintah Aceh bersama Badan SAR Nasional (Basarnas) terus berupaya membuka akses menuju wilayah pegunungan Aceh, yakni di Bener Meriah dan sekitarnya yang masih terisolasi. Salah satu langkah yang ditempuh dengan membangun jembatan bailey atau jembatan rangka baja portable yang bisa dirakit dalam waktu singkat.

”Kita sudah mengirim alat berat ke sana. Mulai hari Minggu, petugas akan melakukan pengerjaan untuk membuka akses darat yang terputus agar proses evakuasi dan pendistribusian bantuan bisa dilakukan lebih cepat,” ujar Nasir.


Kerabat Kerja

Penulis:

Adrian Fajriansyah
 | 

Editor:

Siwi Yunita Cahyaningrum
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra