Tahun 2015 hingga 2025 menjadi 11 tahun terpanas dalam catatan observasi 176 tahun dengan tiga tahun terakhir rekor terpanas.
07 Nov 2025 07:55 WIB · Lingkungan
KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN
JAKARTA, KOMPAS — Rangkaian suhu luar biasa panas yang terjadi sejak satu dekade terakhir terus berlanjut pada tahun 2025, dengan tiga tahun terakhir menjadi yang terpanas dalam sejarah. Setiap kenaikan suhu berarti lebih banyak kelaparan, pengungsian, dan kerugian yang disebabkan oleh bencana iklim dengan dampak terbesar ditanggung oleh mereka yang paling kecil dalam mengeluarkan emisi gas rumah kaca.
Laporan Keadaan Iklim Global (State of the Climate Update) dari Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) tentang kenaikan suhu ini dirilis bersamaan dengan dimulainya pertemuan pada pemimpin dunia di Belem, Brasil, untuk membahas mengenai iklim pada Kamis (6/11/2025). Laporan ini menyoroti indikator-indikator iklim utama dan relevansinya dalam mendukung pembuatan kebijakan.
Tahun 2015 hingga 2025 menjadi 11 tahun terpanas dalam catatan observasi 176 tahun, dengan tiga tahun terakhir terpanas yang pernah tercatat. Suhu rata-rata di dekat permukaan selama Januari-Agustus 2025 mencapai 1,42 derajat celsius, ± 0,12 derajat celsius di atas rata-rata tahun 1850.
”Secara keseluruhan, perkembangan ini berarti bahwa hampir mustahil untuk membatasi pemanasan global hingga 1,5 derajat celsius dalam beberapa tahun ke depan tanpa melampaui target Perjanjian Paris untuk sementara waktu,” kata Kepala WMO Celeste Saulo kepada para pemimpin di Belem.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/07/7d2446e4086ecb5dfb7cd08e8f642bc0-kenaikan_suhu.png)
Saulo menegaskan bahwa meskipun situasinya mengerikan, ”sains juga menunjukkan dengan jelas bahwa masih sepenuhnya mungkin dan penting untuk menurunkan suhu kembali ke 1,5 derakat celsius pada akhir abad ini”.
Laporan juga menyebutkan, konsentrasi gas rumah kaca yang memerangkap panas dan kandungan panas laut, yang keduanya mencapai rekor tertinggi tahun 2024, terus meningkat pada 2025. Konsentrasi karbon dioksida (CO₂) di atmosfer telah meningkat dari sekitar 278 bagian per juta (ppm) tahun 1750 menjadi 423,9 ppm pada 2024, meningkat sebesar 53 persen.
Laju pertumbuhan CO₂ rata-rata selama dekade terakhir adalah 2,57 ppm per tahun. Peningkatan konsentrasi dari tahun 2023 ke tahun 2024 adalah 3,5 ppm, sebuah peningkatan yang memecahkan rekor dalam sejarah pengamatan terkini. Emisi dari bahan bakar fosil telah menjadi sumber emisi manusia terbesar sejak tahun 1950-an.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/15/97317392675592f98e74fe176eb2fa7b-FAK_9460.jpg)
Sementara itu, konsentrasi metana (CH₄) rata-rata global meningkat dari 729 bagian per miliar (ppb) tahun 1750 menjadi 1.942 ppb pada 2024, yang menunjukkan peningkatan sebesar 166 persen. Konsentrasi dinitrogen oksida (N₂O) meningkat dari 270 ppb tahun 1750 menjadi 338,0 ppb pada 2024, yang menunjukkan peningkatan sebesar 25 persen.
Dalam laporan tahunannya pada hari Selasa (4/11/2025), Program Lingkungan PBB (UNEP) mengonfirmasi bahwa emisi gas rumah kaca meningkat sebesar 2,3 persen tahun lalu. Kenaikan emisi terbesar disumbangkan oleh India, diikuti oleh China, Rusia, dan Indonesia.
Pemanasan akibat emisi gas rumah kaca tidak hanya terjadi di atmosfer. Kandungan panas lautan pada tahun 2024 juga mencapai rekor tertinggi, melebihi nilai tahun 2023 sebesar 16 ± 8 zetajoule (ZJ). Data awal dari bulan-bulan awal tahun 2025 menunjukkan bahwa kandungan panas lautan terus meningkat.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/07/15d089aa57362c719bb59f0d05df32ec-Screenshot_2025_11_06_at_20_18_25_State_of_the_Climate_2025_Update_COP30_31_oct_.pdf.png)
Laju pemanasan lautan menunjukkan peningkatan yang sangat kuat selama dua dekade terakhir. Pemanasan lautan yang teramati menunjukkan bahwa Bumi saat ini berada di luar keseimbangan energi. Laju pemanasan ini menunjukkan betapa cepatnya sistem Bumi menjebak kelebihan energi dalam bentuk panas karena lebih dari 90 persen energi tersebut digunakan untuk menghangatkan lautan.
Sebagai konsekuensi dari pemanasan ini, luas es laut Arktik setelah pembekuan musim dingin mencapai yang terendah yang pernah tercatat dan luas es laut Antartika tercatat jauh di bawah rata-rata sepanjang tahun. Tren kenaikan muka air laut jangka panjang terus berlanjut meskipun terdapat sedikit penurunan sementara akibat faktor-faktor alami, menurut laporan tersebut.
Laju kenaikan muka air laut jangka panjang juga meningkat sejak awal pencatatan satelit, meningkat dari 2,1 mm per tahun antara tahun 1993 dan 2002 menjadi 4,1 mm per tahun antara tahun 2016 dan 2025. Hal ini mencerminkan pengaruh gabungan dari pemanasan laut dan ekspansi termal, bersama dengan mencairnya gletser dan lapisan es.
Membuka Sidang Pleno Pemimpin Konfrensi Tingkat Tinggi Iklim Belém, Sekretaris Jenderal PBB António Guterres mengingatkan, kenaikan suhu saat ini akan memiliki konsekuensi yang dramatis. ”Hal ini dapat mendorong ekosistem melewati titik kritis yang tak terelakkan, membuat miliaran orang terpapar kondisi yang tidak layak huni, dan memperkuat ancaman terhadap perdamaian dan keamanan,” kata Guterres.
Ini adalah kegagalan moral dan kelalaian yang fatal.
Menurut Guterres, setiap kenaikan suhu sepersekian derajat berarti lebih banyak kelaparan, pengungsian, dan kerugian. Dampak terbesar terutama akan ditanggung oleh mereka yang paling kecil dalam mengeluarkan emisi. ”Ini adalah kegagalan moral dan kelalaian yang fatal,” katanya.
Guterres juga menyoroti Kontribusi yang Ditetapkan secara Nasional (NDC) untuk menurunkan emisi, yang baru diajukan negara-negara anggota PBB. ”NDC menunjukkan kemajuan, tetapi masih jauh dari apa yang dibutuhkan. Bahkan jika (NDC) dijalankan sepenuhnya, hal ini akan menempatkan kita pada jalur pemanasan global yang jauh di atas 2 derajat celsius,” katanya.
Dengan kenaikan suhu yang terus terjadi, bencana terkait iklim juga meningkat. Kebakaran hutan memecahkan rekor, banjir mematikan, badai dahsyat telah menghancurkan kehidupan, perekonomian, dan kemajuan selama puluhan tahun.
”Hari ini, seperti yang telah kita lihat, Organisasi Meteorologi Dunia mengonfirmasi bahwa emisi terus meningkat tahun ini. Mari kita perjelas: batas 1,5 derajat celsius adalah batas merah bagi umat manusia,” kata Guterres.
Penulis:
Ahmad ArifEditor:
Nasrullah NaraPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan