12.246 Warga Terdampak, Gubernur Jabar Dedi Mulyadi Tetapkan Siaga Darurat Bencana

Jabar menetapkan status siaga darurat bencana. Di awal musim hujan, puluhan bencana sudah dan menyebabkan empat orang tewas.

27 Okt 2025 13:01 WIB · Metropolitan

BPBD Jawa Barat

Oleh Fabio Maria Lopes Costa

BANDUNG, KOMPAS — Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menetapkan status siaga darurat bencana banjir, cuaca ekstrem, gelombang tinggi, hingga tanah longsor. Hal ini dipicu kejadian bencana alam yang terus melanda wilayah tersebut sepekan terakhir dan mengakibatkan 12.246 warga terdampak.

Penetapan status tersebut tertuang dalam Keputusan Gubernur Jawa Barat Tahun 2025 tentang Status Siaga Darurat Bencana. Hal itu berlaku hingga 30 April 2026.

Status siaga darurat ini meliputi 27 kabupaten/kota. Daerah itu adalah Kabupaten Bandung, Bandung Barat, Bekasi, Bogor, Ciamis, Cianjur, Cirebon, dan Garut.

Selain itu, ada juga Indramayu, Karawang, Kuningan, Majalengka, Pangandaran, Purwakarta, Subang, Sukabumi, Sumedang, dan Tasikmalaya.

”Termasuk pula wilayah Kota Bandung, Banjar, Bekasi, Bogor, Cimahi, Cirebon, Depok, Sukabumi, dan Kota Tasikmalaya,” ujar Dedi, Senin (27/10/2025).

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi saat diwawancarai ketika mendatangi Kantor Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mendatangi Kantor Badan Pemeriksa Keuangan Perwakilan Provinsi Jawa Barat di Kota Bandung, Jumat (24/10/2025) siang.

Ia menuturkan, penetapan status tersebut dilakukan menyusul hasil prediksi curah hujan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Di sana disebutkan, sebagian besar wilayah Jabar diperkirakan akan mengalami curah hujan dengan kategori tinggi hingga sangat tinggi.

Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan berbagai bencana hidrometeorologi, seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor, cuaca ekstrem, hingga gelombang ekstrem dan abrasi di wilayah pesisir.

Adapun bencana hidrometeorologi akibat cuaca ekstrem terus melanda Jabar selama sepekan terakhir. Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah Jabar mencatat ada 37 kejadian bencana. Bentuknya meliputi banjir, tanah longsor, dan angin kencang periode 19-27 Oktober 2025.

Sebanyak 37 kejadian bencana ini meliputi 7 banjir, 11 longsor, 18 cuaca ekstrem (puting beliung), dan 1 kebakaran lahan. Semuanya terjadi di 17 kabupaten dan kota.

Infografis bencana hidrometeorologi di Jawa Barat tanggal 19-27 Oktober 2025.

Puluhan peristiwa tersebut mengakibatkan 105 rumah rusak berat, 205 rumah rusak sedang, dan 1.207 rumah rusak ringan.

Sementara itu, 3.070 rumah terendam banjir. Sebanyak 12.246 warga terdampak dan 4 orang di antaranya tewas akibat puting beliung.

”Kami menilai, penetapan status siaga darurat diperlukan sebagai langkah antisipasi dan kesiapsiagaan dalam mencegah serta menangani dampak bencana yang mungkin terjadi akibat kondisi cuaca ekstrem tersebut,” kata Dedi.

Ia menambahkan, dalam keputusan tersebut, pembiayaan untuk penanganan status siaga darurat bencana bersumber dari APBD Jabar.

”Langkah ini diharapkan dapat memperkuat koordinasi lintas instansi dan pemerintah daerah kabupaten/kota dalam upaya penanggulangan bencana sekaligus memastikan kesiapan sumber daya, logistik, serta pembiayaan penanganan darurat di seluruh wilayah,” tambah Dedi.

Prakiraan cuaca

Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Bandung Teguh Rahayu memaparkan, cuaca di Jabar pada Senin hingga 2 November 2025 akan didominasi cuaca cerah berawan pada pagi hari dan berpotensi hujan dengan intensitas ringan hingga lebat pada siang, sore, hingga malam hari.

Hal ini dipicu dinamika atmosfer global dan regional menunjukkan peningkatan aktivitas konvektif di sebagian besar wilayah Indonesia bagian barat, termasuk Jabar.

Bencana tanah longsor terjadi di Pondok Pesantren Attohiriyah, Kampung Pasir Buleud, Desa Cinengah, Bandung Barat, Jawa Barat, Minggu (26/10/2025). Seorang santriwati meninggal dalam peristiwa ini.

”Adanya fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) bernilai -1,27 yang berpotensi meningkatkan pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia barat. Selain itu, Madden-Julian Oscillation (MJO) juga aktif di kuadran 4 atau Maritime Continent, yang turut mendorong peningkatan curah hujan di Jabar dalam sepekan ke depan,” jelas Teguh.

Ia menuturkan, secara umum, cuaca di Jabar diprakirakan cerah berawan hingga berawan pada pagi hari. Hal itu lalu berpotensi hujan ringan hingga lebat antara siang, sore, dan malam hari.

Suhu udara berkisar 17-35 derajat celsius dengan kelembaban udara 55-95 persen. Arah angin dominan dari tenggara dengan kecepatan 5-30 kilometer per jam.

BMKG memperkirakan potensi hujan lebat (50-100 milimeter per hari) akan terjadi di sejumlah daerah, seperti Kabupaten dan Kota Bogor, Sukabumi, Cianjur, Bekasi, Bandung, Garut, Tasikmalaya, Ciamis, serta Pangandaran sepanjang periode 27 Oktober hingga 2 November 2025.


Kerabat Kerja

Penulis:

Fabio Maria Lopes Costa
 | 

Editor:

Cornelius Helmy Herlambang
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan