PERTAHANAN NEGARA

2.019 ASN Ikuti Seleksi Komcad, Peserta yang Lolos Akan Dilatih Menembak

Meski sempat dikritik karena terindikasi militerisasi di ranah sipil, pemerintah tetap melatih ASN untuk menjadi bagian dari komponen cadangan atau komcad.

13 Apr 2026 12:49 WIB · Politik & Hukum

Kompas/Hendra A Setyawan

Oleh Willy Medi Christian Nababan

JAKARTA, KOMPAS — Meski dikritik, pemerintah tetap berkukuh melatih aparatur sipil negara atau ASN untuk menjadi bagian dari komponen cadangan. Sebanyak 2.019 ASN dari 49 kementerian/lembaga diseleksi. ASN yang lolos akan mengikuti latihan dasar kemiliteran selama 1,5 bulan. Mereka, antara lain, akan diberikan pengetahuan militer, seperti latihan menembak, selama masa pelatihan.

Ribuan ASN yang akan mengikuti seleksi tersebut dilepas di kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta, Senin (13/4/2026). Hadir dalam pelepasan itu, antara lain, Kepala Badan Cadangan Nasional Kementerian Pertahanan (Kabacadnas Kemenhan) Letnan Jenderal Gabriel Lema serta Kepala Pusat Komponen Cadangan (Kapus Komcad) Bacadnas Kemenhan Brigadir Jenderal (TNI) Hengki Yuda Setiawan.

Sebanyak 2.000 Aparatur Sipil Negara dari (ASN) kementerian/lembaga mengikuti apel pemberangkatan mengikuti program Komponen Cadangan (Komcad) di kawasan Monumen Nasional, Jakarta, Senin (13/4/2026). Kementerian Pertahanan menyebutkan, pelibatan 4.000 ASN sebagai komponen cadangan ditujukan guna memperkuat pertahanan negara. Kompas/Hendra A Setyawan

Setelah dilepas, mereka langsung diberangkatkan menuju enam lembaga pendidikan untuk menjalani seleksi kompetensi jasmani, psikologi, dan mental ideologi yang dijadwalkan berlangsung hingga 17 April mendatang.

Para Aparatur Sipil Negara dari (ASN) kementerian/lembaga berangkat menuju lembaga pendidikan usai mengikuti apel pemberangkatan program Komponen Cadangan (Komcad) di kawasan Monumen Nasional, Jakarta, Senin (13/4/2026). Sebanyak 2.000 ASN dari rencana Kementerian Pertahanan memberangkatkan 4.000 ASN diberangkatkan mengikuti program Komcad di enam lembaga pendidikan. Progam ini bertujuan sebagai komponen cadangan guna memperkuat pertahanan negara. Kompas/Hendra A Setyawan

Keenam lembaga pendidikan dimaksud ialah Puskom Belneg Badiklat Kemenhan (304 orang), Rindam Jaya (302 orang), dan Pusdikkes Puskesad (505 orang). Selain itu, peserta juga disebar ke Brigif 1 Pasmar 1 (300 orang), Pusbahasa Kodiklatau (305 orang), dan Wingdik 500 Atang Sanjaya (303 orang).

Selanjutnya, ASN yang lolos seleksi akan resmi mengikuti latihan dasar kemiliteran (latsarmil) yang menurut rencana akan dibuka Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta, pada 22 April 2026.

Dalam laporannya, Hengki Yuda Setiawan menyebutkan, usulan awal untuk menjadi bagian dari komcad dari 48 instansi sebanyak 2.205 ASN. Namun, hanya 2.115 peserta yang lanjut mengikuti tahap pemeriksaan kesehatan.

”Yang lulus ke seleksi selanjutnya berjumlah 2.019 orang, sementara yang tidak lulus 96 orang,” ujarnya.

Sebanyak 2.000 Aparatur Sipil Negara dari (ASN) kementerian/lembaga mengikuti apel pemberangkatan mengikuti program Komponen Cadangan (Komcad) di kawasan Monumen Nasional, Jakarta, Senin (13/4/2026). Kementerian Pertahanan menyebutkan, pelibatan 4.000 ASN sebagai komponen cadangan ditujukan guna memperkuat pertahanan negara. Kompas/Hendra A Setyawan
Sebanyak 2.000 Aparatur Sipil Negara dari (ASN) kementerian/lembaga mengikuti apel pemberangkatan mengikuti program Komponen Cadangan (Komcad) di kawasan Monumen Nasional, Jakarta, Senin (13/4/2026). Kementerian Pertahanan menyebutkan, pelibatan 4.000 ASN sebagai komponen cadangan ditujukan guna memperkuat pertahanan negara. Kompas/Hendra A Setyawan

Potensi strategis

Gabriel Lema menyampaikan, ASN merupakan potensi strategis yang menjadi kekuatan terbesar dalam sistem pertahanan negara. Kolaborasi antarkementerian dalam pembentukan komcad menjadi langkah nyata menyiapkan sumber daya manusia unggul menuju Indonesia Emas 2045.

”Dalam kondisi apa pun, baik negara dalam kondisi aman, damai, maupun dalam kondisi tertentu, secara bersama jiwa bela negara yang mendasar ini sudah dalam satu frekuensi, walaupun dengan porsi tanggung jawab profesi berbeda. Ini yang paling utama,” ujar Gabriel.

Quote

Dalam kondisi apa pun, baik negara dalam kondisi aman, damai, maupun dalam kondisi tertentu, secara bersama jiwa bela negara yang mendasar ini sudah dalam satu frekuensi, walaupun dengan porsi tanggung jawab profesi berbeda. Ini yang paling utama.

Menurut Gabriel, kurikulum saat latihan dasar kemiliteran dirancang tidak hanya berfokus pada kedisiplinan dan jiwa korsa, tetapi juga pada ketahanan mental serta kemampuan memecahkan masalah. Peserta didorong agar tidak menanggapi suatu persoalan hanya dari sudut pandang pribadi, tetapi lewat kolaborasi antarkelompok atau antarkementerian.

Selain itu, kurikulum pelatihan bagi ASN juga tetap menyertakan pengetahuan dasar yang bernuansa militer secara terbatas. Pengenalan pada kegiatan kemiliteran tersebut bertujuan untuk memastikan setiap instruksi dapat dijalankan bersama-sama dalam sebuah kesatuan.

Para Peserta Latihan Gabungan Bersama (Latgabma) Super Garuda Shield 2024 berlatih meningkatkan kemampuan menembak bertempat di lapangan tembak Dodiklatpur Rindam V/Brawijaya Asembagus Situbondo Jawa Timur. Kamis (29/8/2024).

”Pengetahuan senjata juga demikian karena mereka nanti harus melaksanakan latihan menembak terbatas. Kegiatan-kegiatan yang lebih condong ke militer ini untuk menjamin bagaimana suatu command (perintah) yang diterima itu dijawab secara kolaboratif di dalam suatu sistem dan komunitas bersama,” tutur Gabriel.

Antusias

Salah satu calon anggota Komcad ASN, Maulidia Fatima Latifa Nisa (24), calon pegawai negeri sipil dari Kementerian Ekonomi Kreatif, mengaku antusias untuk mengikuti latsarmil. Perempuan asal Indramayu itu menganggap program Komcad sebagai kesempatan sekali seumur hidup.

”Apalagi saya suka aktivitas outdoor dan naik gunung, jadi pas ada kegiatan ini saya senang ikut. Harapannya bisa lebih tangguh, apalagi untuk hidup di Jakarta, lebih disiplin, dan tepat waktu,” tuturnya sebelum berangkat menjalani seleksi di Pusbahasa Kodiklatau, Halim Perdanakusuma, Jakarta.

Maulidia Fatima Latifa Nisa (24), Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) dari Kementerian Ekonomi Kreatif, yang mengikuti pelepasan calon Komponen Cadangan (Komcad) ASN di Monas, Jakarta, Senin (13/4/2026).

Terkait pekerjaannya, Maulidia mengaku sudah melimpahkan tugasnya sejak sebulan lalu. Ia pun sudah menyiapkan bahan-bahan kerja agar tugasnya dapat dilanjutkan oleh rekan sekantornya. Keluarga pun disebutnya sudah mendukung meski ibunya sempat khawatir hingga tidak bisa tidur. Akan tetapi, ayahnya sangat mendukung langkahnya.

Selain Maulidia, motivasi untuk meningkatkan kedisiplinan kerja juga diungkapkan Suherlan Maulana (35), ASN Kementerian Sosial dari Kabupaten Sukabumi. Ia mendaftarkan diri karena merasa program Latsarmil Komcad menarik untuk membentuk pribadi yang lebih disiplin di dunia kerja.

”Harapannya kembali bertugas ke tempat kerja bisa lebih disiplin dan melaksanakan tugas lebih tepat lagi,” ucap Suherlan.

Ia memastikan keikutsertaannya tidak mengganggu pelayanan publik karena pekerjaannya telah diurus oleh tim rekannya di daerah. Selain mendapat surat tugas resmi dari kementerian, Suherlan yang sudah berkeluarga ini juga telah mengantongi dukungan penuh dari istri dan keluarganya untuk mengikuti Latsarmil Komcad.

<p>Rangkaian upacara Penetapan Komponen Cadangan tahun 2021 di Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pasukan Khusus (Pusdiklatpassus), Bandung, Jawa Barat, Kamis (7/10/2021).</p>

Rencana mengikutsertakan ASN untuk menjadi bagian dari komcad sudah dikemukakan Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin pada akhir Januari 2026. Sejak rencana itu mencuat, lantas muncul kritik dari sejumlah pihak.

Guru Besar Administrasi Publik Universitas Gadjah Mada (UGM) Agus Pramusinto, misalnya, menyoroti lekatnya kultur komando dan komcad yang terkesan militeristis. Dalam hal ini, wacana pelatihan justru berkebalikan dengan semangat pelayanan publik. Sebagai tugas utamanya, ASN diharuskan menekankan aspek demokratis dalam layanan publik yang diberikan.

”Kultur komando beda dengan kultur pelayanan. ASN harus mengutamakan pelayanan publik yang demokratis. Ketika warga tidak puas dengan pelayanan, mereka punya ruang untuk mengadu. Itulah demokrasi dalam pelayanan publik,” kata Agus.

HUT Korpri - Para aparatur sipil negara (ASN) mengikuti upacara hari ulang tahun ke-47 Korps Pegawai Republik Indonesia (Korpri) di Istora Senayan, Jakarta, Kamis (29/11/2018). Kegiatan tersebut dihadiri oleh Presiden Joko Widodo yang bertindak sebagai inspektur upacara.

Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia Usman Hamid bahkan melihat pelibatan ASN dalam komcad mengindikasikan terjadinya militerisasi dalam ranah sipil yang berpotensi melanggar hak asasi manusia. Ia mengingatkan, pemisahan antara sipil dan militer telah diamanatkan oleh Reformasi 1998.

Lebih lanjut, ia mengkhawatirkan komcad bakal menanamkan kultur kekerasan dalam birokrasi dan masyarakat. Alih-alih melebarkan kultur itu, seharusnya pemerintah meningkatkan profesionalitas prajurit. ”Negara seharusnya fokus memperkuat tentara profesional pada tubuh TNI. Bukan menciptakan pelatihan militer yang berisiko menimbulkan gesekan sosial di tengah masyarakat,” kata Usman.

Keahlian spesifik

Saat dihubungi Senin (13/4/2026), konsultan Marapi Consulting & Advisory, Beni Sukadis, pun mengkritisi rencana perekrutan ASN untuk Komcad. Sebab, kebijakan tersebut berpotensi menyimpang dari tujuan awal pembentukan Komcad. ASN pada dasarnya adalah pelayan publik yang memiliki fungsi vital dalam menjaga keberlangsungan layanan pemerintahan.

”Mengalihkan sebagian dari mereka ke peran pertahanan berpotensi mengganggu efektivitas pelayanan publik, terutama jika tidak didasarkan pada kebutuhan yang benar-benar mendesak,” kata Beni.

Petugas melayani warga yang hendak mengurus perizinan usaha di ruang Pelayanan Terpadu Satu Pintu Pusat di Kantor Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Jakarta, Kamis (23/7/2020). Berdasarkan data BKPM, realisasi investasi penanaman modal dalam negeri pada semester I-2020 naik 13,2 persen secara tahunan menjadi Rp 207 triliun. Sementara, penanaman modal asing turun 8,1 persen secara tahunan menjadi Rp 195,6 triliun pada Januari-Juni 2020.KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO (TOK)23-07-2020

Alih-alih menjadikan ASN sebagai target utama, Beni menyarankan agar rekrutmen Komcad lebih difokuskan pada individu dengan keahlian spesifik. Kompetensi seperti insinyur, tenaga medis (dokter dan perawat), ahli teknologi informasi, pilot, dan ahli bahasa dinilai lebih relevan dalam spektrum ancaman modern. Keahlian tersebut krusial untuk menghadapi ancaman tradisional ataupun nontradisional, seperti serangan siber, terorisme, dan pembajakan.

Selain itu, Beni menyoroti target kuota 4.000 ASN yang dinilai berisiko memicu pemborosan anggaran jika tidak dilandasi analisis kebutuhan yang terukur. Menurut dia, masih banyak warga negara dari sektor swasta yang dapat direkrut dan lebih fleksibel, khususnya mereka yang memiliki kemampuan di bidang informatika dan teknologi digital yang dibutuhkan untuk menghadapi situasi peperangan modern.


Kerabat Kerja

Penulis:

Willy Medi Christian Nababan
 | 

Editor:

A. Ponco Anggoro
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji