21 Perusahaan Siap Melantai di Bursa RI Tahun 2025

Prospek IPO tahun 2025 semakin optimistis berkat pengaruh tren besar, seperti transformasi kebijakan moneter dan fiskal.

01 Jan 2025 15:20 WIB · Ekonomi

Oleh Erika Kurnia

JAKARTA, KOMPAS — Sebanyak 21 perusahaan dalam daftar calon perusahaan tercatat baru di Bursa Efek Indonesia kemungkinan akan melantai tahun 2025 ini. Otoritas bursa menargetkan 66 perusahaan melaksanakan penawaran saham perdana di tahun baru ini setelah melalui tahun 2024 yang menantang.

Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI) I Gede Nyoman Yetna dalam keterangan kepada wartawan, Selasa (31/12/2024), menyampaikan hingga akhir penutupan perdagangan BEI tahun 2024, Senin (30/12/2024), terdapat 21 perusahaan dalam daftar prospek initial public offering (IPO).

”Dari jumlah itu, tiga perusahaan di antaranya merupakan lighthouse (perusahaan berkapital besar). Adapun mayoritas berasal dari sektor-sektor prospektif tersebut, menandakan optimisme pemulihan minat IPO di tahun mendatang,” ujarnya.

Secara mendetail, ia menyebutkan, ada 18 perusahaan aset berskala besar atau di atas Rp 250 miliar. Kemudian, dua perusahaan aset skala menengah di antara Rp 50 miliar sampai Rp 250 miliar, dan satu perusahaan aset kecil di bawah Rp 50 miliar.

Tren penerbitan efek berbasis saham hingga surat utang di pasar modal hingga 27 Desember 2024.

Jumlah ini akan menyumbang sepertiga target IPO 2025 yang sebanyak 66 perusahaan. Target tersebut lebih besar dari pencapaian di 2024 yang hanya mencatatkan sebanyak 41 perusahaan baru dengan total dana yang dihimpun sebanyak Rp 14,3 triliun. Jumlah ini turun drastis dari 79 kegiatan IPO di 2023 yang berhasil menghimpun dana hingga Rp 54,1 triliun.

Sementara itu, tahun ini, otoritas pasar modal menilai prospek IPO pada tahun 2025 diharapkan tetap menarik, terutama untuk perusahaan di sektor konsumen dan energi yang tahun lalu melakukan banyak aksi IPO. Harapan itu juga diperkuat optimisme akan stabilitas ekonomi domestik dengan target pertumbuhan ekonomi dan proyeksi inflasi yang terkendali.

Selain target IPO, BEI juga menetapkan peningkatan target jumlah penerbitan beragam efek, seperti saham, obligasi, sukuk, waran terstruktur, dana tukar dagang atau exchange traded fund (ETF), dana investasi real estat (DIRE), dana investasi infrastruktur (DINFRA), efek beragun aset (EBA) dari 340 penerbitan di 2024 menjadi sebanyak 407 penerbitan sepanjang 2025.

Target itu diharapkan bisa terlampaui seperti tahun lalu yang mencetak 680 penerbitan efek atau 200 persen dari yang telah ditargetkan.

”BEI optimistis bahwa stabilitas politik pascapelantikan Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia dapat mendorong kepercayaan investor dan meningkatkan minat perusahaan untuk melakukan IPO dan tercatat di BEI. Stabilitas ekonomi domestik yang terjaga dan proyeksi positif atas kebijakan makro akan menjadi faktor pendukung untuk memperkuat daya saing pasar modal Indonesia sebagai destinasi investasi yang atraktif di kawasan ASEAN,” tutur Nyoman.

Bersamaan dengan itu, BEI juga melakukan penguatan edukasi dengan tetap berfokus kepada peningkatan kualitas kepatuhan untuk menjaga kepercayaan pasar. Kemudian, melakukan penyesuaian regulasi yang adaptif, kolaborasi institusi, dan pengembangan infrastruktur yang berkesinambungan.

Sekretaris Umum Asosiasi Emiten Indonesia Welly Salam kepada Kompas mengatakan, mereka mendukung target penerbitan saham yang ditetapkan BEI. ”Kami punya tim yang akan selalu membantu perusahaan yang ingin menjadi calon emiten di bursa,” katanya.

Terkait target penerbitan efek korporasi di 2025, ia menilai emiten memiliki pasarnya tersendiri, khususnya dari investor global. Efek korporasi, menurut dia, juga bisa bersaing dengan efek yang dimiliki pemerintah, seperti surat berharga negara (SBN).

Quote

Transformasi bisnis membutuhkan pendanaan, dan IPO menawarkan jalan yang kuat untuk meningkatkan modal guna mendorong pertumbuhan dan inovasi.

Pada 2025, pemerintah merencanakan penerbitan SBN senilai Rp 642,56 triliun. Ini belum termasuk penerbitan untuk kebutuhan refinancing atau pembiayaan utang sebelumnya yang diperkirakan mencapai Rp 800 triliun. Adapun menurut proyeksi PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo), nilai produk serupa yang akan diterbitkan korporasi bisa berkisar Rp 139 triliun-Rp 155 triliun.

”Pemerintah tentunya sudah hitung keseimbangan likuiditas di pasar. Bank Indonesia punya data dana pihak ketiga di perbankan pertumbuhannya berapa dan pemerintah bisa mengeluarkan berapa agar terserap juga ke SBN dan tidak mengganggu likuiditas,” ujarnya.

Korporasi diharapkan mampu menghadapi persaingan tersebut dengan meningkatkan daya tarik produk mereka. Contohnya, menawarkan suku bunga yang lebih tinggi atau masuk ke pasar global.

Peresmian Hari Ulang Tahun ke-36 Asosiasi Emiten Indonesia (AEI), yang antara lain dihadiri Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dan Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Iman Rachman, di Main Hall BEI, Jakarta, Jumat (13/12/2024).

Perusahaan auditor global Ernst & Young (EY) dalam laporannya pada 18 Desember 2024 lalu mencatat, volume IPO global tahun lalu turun 10 persen dengan hanya 1.215 aksi yang meraup dana segar sebesar 121,2 miliar dollar AS. Sementara aktivitas IPO di kawasan Asia-Pasifik, termasuk Indonesia, jauh lebih lemah dengan penurunan 35 persen secara tahunan meskipun kinerja di paruh kedua tahun 2024 lebih baik dibandingkan dengan paruh pertama.

Prospek IPO untuk tahun 2025 akan semakin optimistis karena dipengaruhi tren-tren besar. Tren tersebut yaitu perubahan kebijakan fiskal dan moneter; ketegangan geopolitik dan rantai pasokan global; perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan transformasi digital; prioritas lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) yang baru; serta pengaruh pemerintahan Amerika Serikat yang baru.

Tren tersebut menurut George Chan, selaku pemimpin bidang IPO Global EY, mengatakan, membuka peluang bagi pasar modal untuk mendukung penguatan perusahaan melakukan adaptasi dan transformasi bisnis.

”Transformasi bisnis membutuhkan pendanaan, dan IPO menawarkan jalan yang kuat untuk meningkatkan modal guna mendorong pertumbuhan dan inovasi. Setelah periode aktivitas yang lebih lambat, pasar IPO global mendapatkan kembali momentumnya, didukung oleh kondisi pasar yang lebih menguntungkan di 2025,” ujarnya.

Secara bersamaan, pasar IPO global tradisional berevolusi menjadi ekosistem regional yang saling terhubung sesuai spesialisasi sektor dan pendorong pertumbuhannya sendiri. Keberhasilan setiap sektor semakin dipengaruhi oleh kondisi ekonomi pasar lokalnya dan prioritas strategis kawasan tersebut.


Kerabat Kerja

Penulis:

Erika Kurnia
 | 

Editor:

Muhammad Fajar Marta