Kementerian Kesehatan berupaya menangani secara komprehensif untuk pencegahan penyebaran penyakit-penyakit itu.
19 Des 2025 20:20 WIB · Kesehatan
KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO
BANDA ACEH, KOMPAS — Berdasarkan data Kementerian Kesehatan mengenai Laporan Situasi Penyakit Potensi KLB/Wabah pada Situasi Bencana di Aceh, terpantau 21.079 kasus dari sembilan jenis penyakit merebak pascabencana ekologis melanda di Aceh. Kasus-kasus itu berpotensi menjadi KLB atau wabah dengan ancaman terbesar pada infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA dan penyakit kulit.
Dari 21.079 kasus, temuan terbanyak adalah penyakit ISPA sebanyak 9.731 kasus dan penyakit kulit 8.026 kasus, Jumat (19/12/2025) hingga pukul 14.00 WIB.
Kemudian, 1.543 kasus influenza like illness (ILI), 1.492 kasus diare akut, 261 kasus suspek demam tifoid, 14 kasus suspek dengue, 9 kasus suspek campak, 2 kasus suspek leptospirosis dan 1 kasus pertusis. Semua kasus itu tersebar di hampir semua wilayah terdampak dari total 18 kabupaten/kota terdampak di Aceh.
ISPA banyak terjadi di Kabupaten Aceh Utara dengan catatan 2.818 kasus, Bireuen dengan 2.293 kasus, dan Pidie Jaya dengan 2.072 kasus. Penyakit kulit banyak terjadi di Aceh Utara dengan 2.127 kasus, Bireuen dengan 1.929 kasus, dan Pidie Jaya 1.534 kasus.
ILI banyak terjadi di Aceh Utara dengan 501 kasus, Nagan Raya dengan 280 kasus, dan Aceh Timur dengan 238 kasus. Diare akut banyak terjadi di Pidie Jaya dengan 454 kasus, Aceh Utara dengan 332 kasus, dan Bireuen dengan 331 kasus.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/19/81992d3f2487f190dd6348a45551197b-WhatsApp_Image_2025_12_19_at_7.23.43_PM.jpeg)
Suspek demam tifoid banyak terjadi di Bireuen dengan 77 kasus, Pidie Jaya dengan 74 kasus, dan Aceh Utara 25 kasus. Suspek dengue banyak terjadi di Aceh Tamiang dengan 11 kasus, Bireuen dengan 2 kasus, dan Pidie Jaya dengan 1 kasus.
Suspek campak banyak terjadi di Pidie Jaya dengan 3 kasus, Aceh Tamiang dengan 3 kasus, dan Bireuen dengan 2 kasus. Dua kasus suspek leptospirosis dan satu kasus pertusis terjadi di Aceh Tamiang.
Semua kasus penyakit itu banyak dialami oleh kelompok perempuan. Adapun rentan usia yang banyak mengidap penyakit-penyakit itu rata-rata berusia di atas 5 tahun.
Sejauh ini, Direktur Pendayagunaan Sumber Daya Manusia (SDM) Kesehatan, Kementerian Kesehatan, Direktorat Jenderal SDM Kesehatan, Kementerian Kesehatan, Ika Trisna mengatakan, kondisi lingkungan menjadi faktor utama penyebab munculnya semua penyakit tersebut.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/19/e33525487f23f534751dab33189af693-WhatsApp_Image_2025_12_19_at_7.23.42_PM.jpeg)
Selama berada di pengungsian, warga yang sakit atau memiliki sakit bawaan dan sehat berkumpul jadi satu.
Sanitasi memburuk dan sumber air bersih tercemar oleh air banjir sera lumpur yang terbawa bencana. Lumpur di jalanan yang telah mengering pun menimbulkan polusi udara berupa debut pekat. "Selain itu, sejumlah penyakit cepat merajalela karena warga mungkin belum diberi diimunisasi, antara lain untuk campak," ujar Ika.
Bukan hanya penyakit-penyakit itu saja yang butuh perhatian. Ika menuturkan, pihaknya pun terus mengawasi potensi penyebaran penyakit-penyakit lainnya, seperti tuberkulosis, penyakit kelamin, dan penyakit yang butuh penanganan khusus meliputi talasemia.
”Selama berada di pengungsian, warga yang sakit atau memiliki sakit bawaan dan sehat berkumpul jadi satu. Itu yang membuat penyakit menular lainnya, seperti tuberkulosis dan penyakit kelamin berpotensi menyebar di pengungsian,” katanya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/14/c1fc517916d8a5d223201742a86762ee-WhatsApp_Image_2025_12_14_at_19.43.11.jpeg)
Ikan menyampaikan, pihaknya telah melakukan beragam cara untuk menangani dan mencegah semua penyakit itu menyebar lebih luas. Sejak tiga hari pascabencana, Kemenkes bersama sejumlah lembaga atau instansi lain telah mengirimkan sukarelawan medis secara bertahap.
Para sukarelawan itu terdiri dari dokter, antara lain psikiater. Kemudian, ada perawat, psikolog, hingga sanitarian. Ada pula tim surveilans untuk mengonfirmasi atau memastikan setiap informasi mengenai potensi penyebaran suatu penyakit.
Kini, terdata, ada kurang lebih 1.400 sukarelawan medis di seluruh Aceh. Terbaru, pada Jumat, mereka mengirim tambahan 31 sukarelawan medis yang dikirim dari Banda Aceh ke sembilan kabupaten/kota di Aceh.
”Ini menjadi gelombang keempat pengiriman sukarelawan medis. Kami akan terus menambah jumlah sukarelawan medis maupun melakukan rotasi setiap dua minggu sekali hingga tiga bulan ke depan,” tutur Ika.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/14/6b0110ba6ccdab4479bb12d84e91006f-WhatsApp_Image_2025_12_14_at_19.43.06.jpeg)
Yang menjadi permasalahan, sebaran para sukarelawan medis itu belum terlalu merata. Umumnya, mereka menumpuk di lokasi yang lebih mudah terjangkau.
Ini menjadi gelombang keempat pengiriman sukarelawan medis.
Untuk itu, Ika menuturkan, mereka akan mendata ulang para sukarelawan medis dan melakukan pemetaan lokasi-lokasi yang masih butuh tambahan sukarelawan medis. Tujuannya, agar layanan medis bisa lebih merata atau menjangkau semua warga terdampak.
”Di Aceh Tamiang, misalnya, sukarelawan medis sudah sangat banyak di sana. Sebab, Aceh Tamiang menjadi daerah terdampak sangat besar. Hanya, mereka banyak menumpuk di suatu lokasi. Padahal, Aceh Tamiang sangat luas dan dampak terjadi di banyak tempat,” ujarnya.
Menurut Ika, salah satu tujuan pemerataan mereka adalah ke wilayah tengah atau pegunungan Aceh. Sejauh ini, masih minim sukarelawan medis ke sana karena akses darat yang masih sulit dilalui. ”Nanti, kami akan koordinasi dengan BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) untuk mengirim sukarelawan medis ke sana melalui akses udara,” katanya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/05/97d68a6c4b5cd8b359439fd39e44cb2f-20251205TOK10.jpg)
Mengenai layanan medis, merujuk data Kementerian Kesehatan, ada 62 rumah sakit dari total 65 rumah sakit serta 279 puskemas dari total 309 puskemas yang beroperasi di 18 kabupaten/kota terdampak. Dari semua itu, ada layanan medis yang masih beroperasi sebagian, seperti di Aceh Tamiang, Langsa, Aceh Timur, Aceh Utara, Bireuen, Aceh Tengah, dan Aceh Tenggara.
”Untuk daerah yang rumah sakitnya masih belum bisa memberikan layanan medis dengan optimal, kami akan merujuk pasien ke rumah sakit lain yang sudah beroperasi penuh di kabupaten/kota terdekat. Sebaliknya, kami akan mendirikan posko layanan medis di lokasi puskemas yang rusak atau tidak bisa beroperasi,” tutur Ika.
Ika mengutarakan, terkait ketersediaan obat, pihaknya memastikan sudah mencukupi. Sebab, tim pusat krisis telah mendistribusikan berbagai obat yang diperlukan sejak awal-awal pascabencana. ”Hingga kini, kita terus menyuplai obat-obatan dan peralatan yang diperlukan secara bertahap,” ujarnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/17/a70a912c57563e59a615bacdbcf1002f-WhatsApp_Image_2025_12_16_at_10.12.16_PM.jpeg)
Direktur Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Aceh Abdurrahman mengatakan, sejauh ini, sukarelawan medis, peralatan, layanan medis, dan obat-obatan sudah mencukupi di wilayah terdampak bencana di Aceh. Yang diperlukan saat ini adalah pemerataan penyeberangan semua sumber daya tersebut.
Selain itu, perlu ada pendataan yang terus-menerus atau berkelanjutan untuk memastikan keberadaan warga yang masih butuh layanan medis, terutama yang mendesak meliputi cuci darah. Pendataan terus-menerus pun dibutuhkan untuk memetakan secara lebih detail terhadap penyakit-penyakit yang berpotensi menular dan menjadi wabah.
”Semua itu diperlukan agar semua warga terdampak mendapatkan layanan medis dengan memadai dan mencegah terjadinya wabah di wilayah terdampak ataupun pengungsian. Selebihnya, kita perlu melakukan pembersihan material sisa bencana secepat mungkin agar lingkungan menjadi lebih sehat,” pesannya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/12/1e226e395359a96e690d7c45c491758c-WhatsApp_Image_2025_12_12_at_9.58.47_AM.jpeg)
Sukarelawan medis asal Puskemas Buloh Seuma Aceh Selatan, Ainal Rahma Fitri (25), menuturkan, dirinya adalah lulusan Jurusan Kesehatan Lingkungan/Sanitasi dari Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Aceh. Maka dari itu, dengan ditugaskan di kawasan Pidie Jaya, dia akan fokus untuk membantu pemulihan sanitasi dan lingkungan yang terdampak sisa material bencana.
Warga yang sakit harus menggunakan masker.
Sanitasi dan sumber air bersih harus dibersihkan. Itu bertujuan untuk mencegah penyebaran diare dan penyakit kulit. Demikian sisa lumpur yang bisa menyebabkan debu pekat saat cuaca panas dan becek ketika cuaca hujan. Itu harus segera dibersihkan untuk mengantisipasi penyebaran ISPA dan sejenisnya.
”Di sisi lain, yang tidak kalah penting, kita harus menyebarkan kampanye gaya hidup sehat kepada para warga terdampak atau pengungsi. Warga yang sakit harus menggunakan masker. Sebaliknya, yang sehat harus rajin cuci tangan. Itu cara sederhana untuk mencegah penyebaran penyakit menular pascabencana, terutama yang sering muncul diare, penyakit kulit, dan ISPA,” pungkas Ainal
Penulis:
Adrian FajriansyahEditor:
Irma TambunanPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase