PPIH Arab Saudi Atur Penggabungan Kembali 2.500 Anggota Jemaah yang Terpisah

Petugas Penyelenggara Ibadah Haji terus mengupayakan penggabungan jemaah yang terpisah. Harapannya, mereka bisa digabungkan di Mekkah hingga puncak ibadah haji.

18 Mei 2025 20:22 WIB · Humaniora

Oleh Reny Sri Ayu dari Mekkah, Arab Saudi

MEKKAH, KOMPAS — Data sementara Petugas Penyelenggara Ibadah Haji Arab Saudi memperlihatkan, ada setidaknya 2.500 anggota jemaah atau 1.250 pasangan yang terpisah akibat pelayanan berbasis syarikah.  Penggabungan mereka kembali di Mekkah kini sedang diatur.

Hal tersebut disampaikan Ketua Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi yang juga Direktur Layanan Luar Negeri Muchlis M Hanafi kepada wartawan di Kantor Daerah Kerja Mekkah di Mekkah, Arab Saudi, Minggu (18/5/2025).

”Kami belum bisa mencatat berapa pastinya, tapi untuk sementara ada 2.500 jemaah atau 1.250 pasangan yang berpotensi terpisah. Atas alasan kemanusiaan, kami sedang mengatur penggabungan kembali pasangan terpisah ini agar bisa satu hotel dan tetap bersama hingga fase Arafah, Muzdalifah, dan Mina,” tutur Muchlis.

Pasangan dimaksud adalah suami dan istri, orangtua dan anak, hingga lansia dan penyandang disabilitas dengan pendampingnya. Jemaah terpisah juga terjadi antara sesama rombongan/kloter, hingga pimpinan rombongan dan anggota, bahkan pembimbing ibadah.

Sejumlah jemaah haji asal Indonesia turun dari bus shalawat sepulang dari Masjidil Haram, Rabu (14/5/2025). Sementara yang lain bersiap naik.

”Kami mengupayakan 1 x 24 jam setelah tiba di Mekkah sudah dapat digabungkan. Namun, memang dalam perkembangan di lapangan cukup dinamis karena setiap hari banyak yang datang, baik dari Jeddah maupun Madinah,” kata Muchlis.

Muchlis mengatakan, kisruh jemaah terpisah ini terjadi akibat masa transisi sistem layanan haji yang saat ini mengalami penyesuaian besar-besaran, baik dari sisi penyelenggaraan di Indonesia maupun sistem layanan di Arab Saudi.

”Dalam skema baru ini jemaah dilayani oleh perusahaan-perusahaan penyedia layanan atau syarikah yang telah ditetapkan secara resmi menggantikan sistem zonasi atau wilayah yang sebelumnya digunakan. Dari semula bersifat mandatori berbasis zonasi, wilayah geografis, menjadi pilihan terbuka oleh perusahaan-perusahaan penyedia layanan bagi jemaah haji luar negeri,” katanya.

Sebelumnya, Muchlis mengatakan kloter campuran yang menyebakan banyak pasangan terpisah dari rombongan juga terjadi akibat keterlambatan visa, perubahan manifes, dan sinkronisasi data. Ini membuat satu kloter bisa terdiri atas jemaah dari lebih dari satu syarikah. Padahal, idealnya satu kloter dilayani satu syarikah.

Jemaah memadati kawasan Masjidil Haram di Mekkah, Arab Saudi pada Rabu (14/5/2025) malam. Seiring kian banyaknya jemaah ke Mekkah, kawasan ini kian padat.

Gelombang pertama jemaah yang tiba di Madinah ditempatkan berdasarkan kloternya dari Tanah Air. Namun, saat di Mekkah penempatan hotel menyesuaikan tanggung jawab setiap syarikah.

Perbedaan pendekatan inilah yang kemudian secara teknis menimbulkan kekisruhan terutama karena satu kloter bisa terdiri dari jemaah yang terdaftar di lebih dari satu syarikah.

Quote

Kami belum bisa mencatat berapa pastinya, tapi untuk sementara ada 2.500 jemaah atau 1.250 pasangan yang berpotensi terpisah.

”Di Mekkah tidak bisa lagi digabung berdasarkan kloter karena layanannya berbasis syarikah. Hanya saja untuk pasangan suami istri, orangtua dan anak, hingga lansia, kami koordinasikan dengan syarikah agar bisa digabungkan kembali,” kata Muchlis.

PPIH akhirnya menerbitkan surat edaran yang mengatur penggabungan jemaah haji dalam penempatan di Mekkah. Surat edaran ini dikeluarkan Sabtu (18/5/2025) dan langsung ditindaklanjuti dengan meminta para ketua kloter untuk mendata pasangan jemaah yang terpisah.

Petugas pendamping lansia PPIH Arab Saudi mendorong kursi roda seorang jemaah gelombang 2 yang tiba di Mekkah, Sabtu 17/5/2025).

Pendataan juga harus mencantumkan nama jemaah dan identitas syarikah masing-masing. Data tersebut selanjutnya disampaikan ke sektor untuk diproses lebih lanjut oleh Daerah Kerja Mekkah untuk digabung.

Data tersebut akan diberikan ke semua syarikah. Hal ini karena semua perusahaan penyedia layanan jemaah haji pun mengalami persoalan sama yakni pencampuran kloter jemaah yang harus dilayani. Pencocokan data juga akan memudahkan pemindahan jemaah dan mengisi kamar kosong yang ditinggalkan.

Saat ini arus jemaah yang masuk ke Mekkah terus bertambah. Tak hanya jemaah gelombang kedua yang berangkat dari Tanah Air tetapi juga jemaah gelombang pertama dari Madinah.

Jemaah gelombang 2 asal Padang memilih koper mereka diantara jejeran koper mereka sesaat setelah tiba di Hotel Manar Almashaeir, Sabtu (17/5/2025).

Ali Machzumi, Kepala Daerah Kerja Mekkah mengatakan, lebih separuh dari total 210.000 jemaah telah tiba di Arab Saudi. “Dari Madinah semua telah ada di Mekkah dan jemaah gelombang kedua juga terus berdatangan,” katanya.

Aktivitas di hotel-hotel yang ditempati jemaah pun semakin ramai. Sepanjang pagi hingga dinihari, bus-bus yang mengantar jemaah hampir tak pernah berhenti datang dan pergi. Mekkah pun kian padat.


Kerabat Kerja

Penulis:

Reny Sri Ayu dari Mekkah, Arab Saudi
 | 

Editor:

Adhitya Ramadhan
 | 

Penyelaras Bahasa:

Rosdiana Sitompul