Ratusan murid SD di Jakarta Timur diduga keracunan menu makan bergizi gratis. Kejadian keracunan diduga akibat menu MBG terus berulang di tengah upaya perbaikan.
09 Mei 2026 14:49 WIB · Metropolitan
KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN
JAKARTA, KOMPAS — Sebanyak 252 murid sekolah dasar diduga keracunan menu Makan Bergizi Gratis atau MBG di Jakarta Timur. Berdasarkan inspeksi kesehatan lingkungan oleh Suku Dinas Kesehatan Jakarta Timur, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi yang menyuplai menu MBG itu masih dalam proses pemenuhan sertifikat laik higiene sanitasi.
Dugaan keracunan MBG itu dialami murid SD Negeri Cakung Timur 01, SD Negeri Ujung Menteng 02, dan SD Negeri Ujung Menteng 03 pada Jumat (8/5/2026). Mereka mengalami mual, pusing, dan gejala lain seusai menyantap paket makanan yang terdiri dari bakmi jawa, pangsit tahu, semangka, kecambah rebus, timun, dan tomat.
Dinas Kesehatan Jakarta dan Dinas Pendidikan Jakarta menerima 252 laporan murid bergejala keracunan. Sebanyak 188 orang dibawa ke fasilitas kesehatan dan 26 di antaranya masih dirawat hingga Sabtu (9/5/2026).
”Gejalanya memang beragam. Banyak juga yang enggak berat. Diduga (keracunan) dari pangsit isi tahu karena rasanya masam. Pemeriksaan laboratorium baru keluar paling cepat Selasa pekan depan,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Jakarta Ani Ruspitawati pada Sabtu.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/04/2d0b389dd6ff78ef019b4ea8f684b38a-DJI_20260404172446_0086_D_001.jpg)
Suku Dinas Kesehatan Jakarta Timur kemudian melakukan inspeksi kesehatan lingkungan ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pulogebang sebagai penyedia MBG. Dapur ini diketahui beroperasi sejak 31 Maret 2026 dan diberikan waktu tiga bulan untuk mengantongi sertifikat laik higiene sanitasi.
Ani menyebut, Badan Gizi Nasional (BGN) mengatur bahwa SPPG diberikan waktu tiga bulan untuk memiliki sertifikat laik higiene sanitasi. Saat ini, SPPG Pulogebang dalam proses perbaikan dan pelatihan bagi penjamah makanan.
”Bentuk pembinaan dan pengawasan melalui inspeksi kesehatan lingkungan, pelatihan bagi penjamah makanannya, dan penerbitan sertifikat,” ucap Ani.
Pada Sabtu siang, Kompas telah menghubungi Kepala BGN Dadan Hindayana dan Wakil Kepala BGN Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi Nanik Sudaryati Deyang terkait keracunan 252 murid SD di Jakarta Timur. Namun, keduanya belum memberikan keterangan terkait.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/04/d963235164e7ef26fa1861ba1892449f-IMG_20260404_175046.jpg.jpg)
Dalam siaran pers pada 21 April 2026, Dadan menyebut, sebanyak 1.780 SPPG dari total 26.800 SPPG dihentikan operasionalnya untuk sementara karena pengetatan standar. Hal ini karena SPPG-SPPG tersebut belum memiliki instalasi pengolahan air limbah (IPAL) dan sertifikat laik higiene sanitasi atau SLHS.
”Jadi, saya sampaikan di sini bahwa SPPG-SPPG yang tidak memiliki IPAL, kemudian ada SPPG yang belum daftar SLHS, kami hentikan dulu sementara. Ketika sudah daftar SLHS, tapi satu bulan belum keluar sertifikatnya, kami hentikan sementara,” kata Dadan.
Di sisi lain, kasus keracunan di Jakarta Timur ini menambah panjang kasus keracunan akibat menu MBG yang terjadi. Dalam beberapa kasus keracunan akibat menu MBG di Jakarta, ditemukan masalah kebersihan di dapur penyedia makanan serta SPPG yang belum punya SLHS.
Gejalanya memang beragam. Banyak juga yang enggak berat. Diduga (keracunan) dari pangsit isi tahu karena rasanya masam.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/26/064b11e79b4720e4bf0c37748944f54f-20250926_H01_ADI_Keracunan_MBG_mumed.jpg)
Sebelumnya diberitakan, sebanyak 72 siswa dari empat sekolah di Pondok Kelapa, Duren Sawit, Jakarta Timur, diduga keracunan menu MBG pada Kamis (2/4/2026). Setelah kejadian itu, operasional SPPG Pondok Kelapa 2 pun dihentikan.
Nanik Sudaryati Deyang ketika itu menyampaikan, kondisi dapur, tata letak, dan IPAL di SPPG itu belum memenuhi standar. Diduga makanan yang dikonsumsi juga tak segar lantaran jeda waktu yang terlalu lama antara proses memasak dan konsumsi.
Dalam peristiwa lainnya, sebanyak 20 siswa dari SD Negeri 01 Gedong, Pasar Rebo, Jakarta Timur, diduga keracunan MBG pada Selasa (30/9/2025).
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jakarta Ani Ruspitawati ketika itu menyebut, secara umum, penyebab keracunan adalah kontaminasi bakteri. Hal tersebut diketahui dari sembilan kejadian sebelumnya di lokasi berbeda se-Jakarta.
Kontaminasi bakteri itu antara lain e coli pada nasi, tahu, air, dan ayam; salmonela pada ayam; staphylococcus aureus pada tempe dan bakso; serta Bacillus cereus pada mi.
Penulis:
Fransiskus Wisnu Wardhana DanyEditor:
Haris FirdausPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra