Para siswa mengalami muntah, mual, dan diare. BGN pun akan bertanggung jawab untuk setiap biaya perawatan. Dapur SPPG yang terlibat dihentikan operasinya.
04 Apr 2026 19:03 WIB · Kesehatan
KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN
JAKARTA, KOMPAS — Setidaknya 72 siswa dari empat sekolah di Pondok Kelapa, Duren Sawit, Jakarta Timur, diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi menu Makan Bergizi Gratis atau MBG pada Kamis (2/4/2026). Operasional dapur dari satuan pelayanan pemenuhan gizi atau SPPG di wilayah itu pun segera dihentikan.
Gubernur Jakarta Pramono Anung mengatakan, akibat produk makanan yang disiapkan oleh SPPG Pondok Kelapa 2, setidaknya ada 72 siswa yang terdampak. Siswa itu berasal dari SD Negeri Pondok Kelapa 1, SDN Pondok Kelapa 09, SDN Pondok Kelapa 07, dan SMA Negeri 91.
Hingga saat ini, lanjut Pramono, semua korban masih menjalani perawatan di tiga rumah sakit, yakni Rumah Sakit Khusus Daerah (RSKD) Pondok Kopi, RSKD Duren Sawit, dan Rumah Sakit Harum. ”Mereka mengalami gejala seperti demam, panas, mual, muntah, dan diare,” ujar Pramono.
Dari pemeriksaan awal, ada dugaan masalah itu muncul setelah siswa mengonsumsi spageti. Namun, untuk penyebab pasti, Pramono menyatakan, pihaknya masih menunggu hasil uji laboratorium. ”Saya tidak mau berandai-andai biar hasil laboratorium dan pihak yang bertanggung jawab yang menjelaskannya secara terbuka,” ujar Pramono.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/04/c6bfe564d590c1a94c207cd0b30aed11-antarafoto_gubernur_dki_jakarta_menjenguk_siswa_diduga_korban_keracunan_1775307223.jpg)
Setelah insiden ini terkuak, kata Pramono, pihaknya segera berkoordinasi dengan Badan Gizi Nasional (BGN). ”Untuk pembiayaan, bagi mereka yang terdaftar di dalam BPJS Kesehatan, maka sepenuhnya akan di-cover oleh BPJS Kesehatan. Yang tidak ter-cover oleh BPJS Kesehatan, BGN menyatakan akan bertanggung jawab untuk itu,” tuturnya.
Pramono menilai, penanganan terhadap siswa yang terdampak sudah berjalan dengan baik. Terkait penanganan MBG ke depan, lanjut Pramono, semua akan diserahkan kepada pemerintah pusat karena ini program yang diatur oleh pemerintah pusat. ”Kami sepenuhnya memberikan support (dukungan) untuk itu,” ujar Pramono.
Menurut Pramono, yang terpenting saat ini semua siswa yang terdampak dapat segera tertangani dengan baik. ”Alhamdulillah, kondisinya sekarang semuanya stabil. Pemulihan mudah-mudahan 1-2 hari sudah selesai semua,” ujarnya.
Terkait insiden ini, BGN menyampaikan permohonan maaf. BGN juga memastikan akan menanggung seluruh biaya pengobatan korban dan langsung menghentikan operasional dapur terkait.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/04/aa892f15a9b82a5153c85466fcfe789b-IMG_20260404_181224.jpg_1_.jpg)
Hal ini disampaikan Wakil Kepala BGN Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi Nanik Sudaryati Deyang di Jakarta, Sabtu (4/4/2026). ”Kami menyampaikan permohonan maaf atas kejadian ini. BGN juga akan bertanggung jawab terhadap seluruh biaya pengobatan di rumah sakit,” ujar Nanik.
Nanik menambahkan, BGN juga telah mengambil langkah tegas sebagai bentuk tanggung jawab dan pengamanan dengan menghentikan operasional SPPG tersebut.
”Selain itu, SPPG Pondok Kelapa kami hentikan untuk waktu yang tidak terbatas karena kondisi dapur, termasuk tata letak dan IPAL (instalasi pengolahan air limbah), masih belum memenuhi standar,” tegasnya.
Nanik menjelaskan, insiden ini terjadi pada Jumat (3/4/2026) setelah sebelumnya pada Kamis (2/4/3036) sore pihak SPPG menerima laporan dari guru terkait sejumlah siswa yang mengalami gejala sakit perut, diare, dan mual seusai mengonsumsi makanan.
Menu yang disajikan saat itu meliputi spageti bolognese, bola-bola daging, orak-arik tahu telur, sayuran campur, serta buah stroberi. Dari hasil pemeriksaan, total 60 orang terdampak. ”Semua korban telah mendapatkan penanganan medis dan dilaporkan dalam kondisi membaik,” katanya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/04/c3b6e8f7f0fa5feb82334c0cba37fc79-DJI_20260404172523_0091_D_003.jpg)
Adapun dugaan sementara penyebab kejadian berkaitan dengan makanan yang dikonsumsi tidak dalam kondisi segar. Menurut dia, jeda waktu yang terlalu lama antara proses memasak dan konsumsi berpotensi menurunkan kualitas makanan dan memicu gangguan kesehatan.
BGN memastikan akan memperketat pengawasan guna memastikan kejadian serupa tidak terulang kembali dan menjamin keamanan pangan dalam pelaksanaan program MBG.
Penulis:
Rhama Purna JatiEditor:
Harry SusiloPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan