Bencana alam menerjang 34 kecamatan di Kabupaten Sukabumi. Tiga warga tewas dan empat orang belum ditemukan.
05 Des 2024 19:50 WIB · Lingkungan
BANDUNG, KOMPAS — Banjir bandang disertai longsor yang terjadi Rabu (4/12/2024) kemarin meluas hingga 34 kecamatan di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Peristiwa ini mengakibatkan tiga warga tewas dan empat lainnya belum ditemukan.
Data yang dihimpun Kompas dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi hingga Kamis (5/12/2024), bencana hidrometeorologi di 86 desa yang tersebar di 34 kecamatan. Bencana yang terjadi antara lain banjir, longsor, angin kencang, dan pergerakan tanah.
Banjir, longsor, dan pergerakan tanah dipicu hujan yang mengguyur wilayah Kabupaten Sukabumi selama dua hari terakhir. Rata-rata ketinggian air mencapai 1 meter hingga 2 meter.
Dari video yang beredar di sejumlah akun media sosial, kuatnya arus air menyeret enam mobil hingga terbalik di Kampung Parungseah, Desa Curugluhur, Kecamatan Sagaranten.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/05/a6e61978b545b0ad44855771d0591ac8-IMG_20241204_WA0056_copy_409x307.jpg)
”Total terjadi 133 titik bencana di 34 kecamatan. Ratusan titik ini meliputi 66 titik longsor, 35 titik banjir, 15 titik angin kencang, dan bencana pergerakan tanah di 17,” kata Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Provinsi Jawa Barat Bambang Imanuddin di Sukabumi.
Bambang menuturkan, warga yang terdampak 461 jiwa. Sejumlah 247 warga di antaranya mengungsi ke tempat yang aman. Sementara itu, 112 rumah rusak dan 457 rumah terendam banjir.
Ada pula fasilitas umum yang terdampak, antara lain, jembatan di delapan titik, lima saluran air, lima tempat ibadah, dua sekolah, dan satu ruas jalan. Sawah seluas 34 hektar juga terdampak bencana banjir.
Penetapan status tanggap darurat karena daerah yang terdampak sangat luas. Upaya ini juga untuk mempercepat proses bantuan bagi para korban dan pendataan bangunan yang terdampak.
Penjabat Gubernur Jawa Barat Bey Machmudin secara langsung meninjau lokasi yang terdampak di Sukabumi. Bey pun melihat warga yang di lokasi pengungsian.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/05/978da1bc69ee93c8bcff550b097cd2ee-Videoshot_20241205_191213.jpg)
Bey mengungkapkan, tiga warga tewas akibat tertimbun longsoran tanah dan empat orang belum ditemukan. Sementara enam ruas jalan provinsi yang terputus hingga kini.
”Kami telah melaksanakan rapat koordinasi dengan pemda dan BPBD Sukabumi. Langkah yang diprioritaskan adalah evakuasi warga, perbaikan jalan dan jembatan yang rusak, serta distribusi logistik ke daerah yang terisolasi dengan kapal,” kata Bey.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Kabupaten Sukabumi Ade Suryaman menyatakan, pihaknya telah menetapkan status tanggap darurat di Kabupaten Sukabumi selama sepekan. Pemda juga telah membangun posko tanggap darurat di Pendopo Kabupaten Sukabumi di Kecamatan Palabuhanratu.
”Penetapan status tanggap darurat karena daerah yang terdampak sangat luas. Upaya ini juga untuk mempercepat proses bantuan bagi para korban dan pendataan bangunan yang terdampak,” tambahnya.
Kepala BMKG Bandung Teguh Rahayu memaparkan, cuaca ekstrem di Kabupaten Sukabumi dipicu fenomena sebagian wilayah perairan Indonesia yang relatif hangat mendukung penguapan dan penambahan massa uap air di sekitar Jawa Barat. Selain itu, terdapat bibit siklon 95W di Laut Natuna Utara dan sirkulasi siklonik terpantau di Samudra Hindia Barat daya Banten.
Ia pun mengungkapkan, terpantau pertumbuhan awan di sekitar wilayah Kabupaten Sukabumi dan Cianjur yang mengindikasikan terjadi hujan sedang dan hujan lebat sejak dini hari menjelang siang.
”Diperkirakan potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat disertai angin kencang dan petir pada di sebagian wilayah Kabupaten Sukabumi dan Kabupaten Cianjur,” paparnya.
Penulis:
Fabio Maria Lopes CostaEditor:
C. Wahyu Haryo PPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari