Negosiasi Tarif Trump, 50 Negara Sudah Mulai ”Merayu” Gedung Putih

Vietnam, India, Taiwan, Israel, dan negara-negara lainnya tengah merayu Trump agar melunak soal pengenaan kenaikan tarif impor.

07 Apr 2025 09:19 WIB · Internasional

Oleh Elsa Emiria Leba

WASHINGTON DC, SENIN — Lebih dari 50 negara menghubungi Gedung Putih untuk bernegosiasi terkait dengan tarif impor. Negara-negara ini ingin mencari solusi yang sama-sama menguntungkan. Namun, Presiden Amerika Serikat Donald Trump sedang berada di atas angin.

Dilansir kantor berita Reuters, Senin (7/4/2025), Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent mengatakan, 50 negara lebih telah memulai negosiasi dengan AS sejak pengumuman tarif dasar dan bea masuk baru pada 2 April 2025. Bessent dan pejabat lainnya tidak menyebutkan nama negara atau rincian pembicaraan.

”Praktik perdagangan yang tidak adil bukanlah hal yang dapat dinegosiasikan dalam hitungan hari atau minggu. Amerika Serikat harus melihat apa yang ditawarkan negara-negara tersebut dan apakah itu dapat dipercaya,” ujar Bessent.

Tarif universal AS sebesar 10 persen berlaku ke seluruh dunia pada 5 April 2025. Adapun tarif ”timbal balik” berkisar 11-50 persen ke sejumlah negara akan mulai per 9 April 2025.

Menteri Keuangan Amerika Serikat, Scott Bessent, menghadiri pidato Presiden AS Donald Trump tentang tarif timbal balik selama acara yang disebut "Make America Wealthy Again" di Rose Garden, Gedung Putih, Washington, DC, AS, pada Rabu (2/4/2025). Trump mengumumkan serangkaian tarif yang menargetkan negara-negara di seluruh dunia termasuk beberapa mitra dagang terdekatnya.

Bessent tetap memandang optimistis terkait dengan keputusan Trump karena pertumbuhan lapangan kerja AS lebih kuat dari perkiraan. Dia juga tidak masalah dengan anjloknya pasar saham.

Bursa saham AS anjlok pada Minggu (6/4/2025) malam. Dow Jones Industrial Average dan S&P 500 turun hampir 4 persen. Nasdaq merosot hampir 5 persen. Bahkan, harga bitcoin yang relatif stabil pekan lalu ikut turun hampir 6 persen. Bursa di negara-negara lain ikut memerah.

”Tidak perlu ada resesi. Siapa yang tahu bagaimana pasar akan bereaksi dalam sehari, dalam seminggu? Yang kami lihat adalah membangun fundamental ekonomi jangka panjang untuk kemakmuran,” kata Bessent.

Menteri Perdagangan Howard Lutnick menegaskan, tidak ada penundaan tarif yang akan berlaku dalam beberapa hari lagi. Saat berbicara dalam acara Face the Nation di CBS News, dia mengatakan, tarif akan tetap berlaku ”selama berhari-hari dan berminggu-minggu”.

Respons negara

China menjadi negara yang membalas keras dengan memberlakukan tarif impor resiprokal sebesar 34 persen. Uni Eropa menyiapkan tarif balasan sembari mendekati negara-negara Asia Tengah. Sementara Australia memutuskan untuk tidak membalas.

Penasihat ekonomi utama Gedung Putih, Kevin Hassett, mengakui, banyak negara ”marah dan membalas”, tetapi negara-negara lainnya mau berunding. ”Negara-negara mencari kompromi karena memahami mereka menanggung banyak tarif. Saya tidak berpikir Anda akan melihat dampak yang besar pada konsumen di AS,” ujarnya.

Sejumlah negara sudah aktif mendekati Gedung Putih. Vietnam telah menghubungi Trump dan berjanji memangkas tarif impor terhadap AS. Seorang pejabat Pemerintah India mengatakan, negara itu tidak berencana untuk membalas dan sedang bernegosiasi dengan AS.

Langkah serupa diambil Indonesia. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, Jakarta memilih untuk menempuh jalur diplomasi dan negosiasi guna menemukan solusi yang saling menguntungkan.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto tiba di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (21/3/2025). Presiden Prabowo Subianto memimpin rapat tertutup di Istana Merdeka Jumat siang.

Presiden Taiwan Lai Ching-te menawarkan tarif nol, menghapus hambatan perdagangan, dan meningkatkan investasi sebagai dasar negosiasi dengan AS. Di Italia, Perdana Menteri Giorgia Meloni menyatakan siap mengerahkan semua alat—negosiasi dan ekonomi.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu akan bertemu Trump pada Senin (7/4/2025). Selain membahas Gaza, dia juga akan meminta penangguhan tarif 17 persen terhadap Israel.

Namun, Lawrence Summers, ekonom dan mantan Menteri Keuangan AS, berpendapat, Trump dan tim ekonominya mengirimkan pesan yang bertentangan. Mereka ingin menghidupkan kembali sektor manufaktur AS, tetapi tetap terbuka untuk bernegosiasi.

Apabila negara lain menghapus tarif mereka, AS juga melakukan hal yang sama. ”Jika tarif merupakan sumber pendapatan permanen dan upaya membuat bisnis pindah ke Amerika Serikat, kita akan menerapkan tarif ini secara permanen. Jadi, presiden tidak bisa mendapatkan keduanya,” tuturnya.

”Minum obat”

Trump menghabiskan akhir pekan bermain golf di Florida. Dia menulis di media sosial, ”Kita akan menang. Tetaplah teguh, ini tidak akan mudah.”

Selesai berakhir pekan, Trump kembali ke Gedung Putih dengan pesawat Air Force One, Minggu (6/3/2025). Kepada wartawan, dia mengatakan, anjloknya bursa saham AS dan dunia menunjukkan strategi tarifnya berhasil.

”Terkadang Anda harus minum obat untuk memperbaiki sesuatu. Kita telah diperlakukan sangat buruk oleh negara lain karena kita memiliki kepemimpinan bodoh yang membiarkan hal ini terjadi,” kata Trump.

Trump mengklaim telah berbicara dengan pemimpin negara Eropa dan Asia. Menurut dia, mereka sangat ingin mencapai kesepakatan.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump berjalan di halaman selatan Gedung Putih, Washington DC, AS, pada Minggu (6/4/2025). Presiden menghabiskan akhir pekan bermain golf di Senior Club Championship di Jupiter, Florida.

Di Kongres, penerapan tarif mendapat sambutan hangat dari Partai Republik, tetapi diiringi kegelisahan. Beberapa senator Republik telah menandatangani RUU bipartisan baru yang mengharuskan presiden mendapat persetujuan Kongres soal tarif. Anggota parlemen harus menyetujui tarif dalam waktu 60 hari atau tarif tersebut kedaluwarsa.

Anggota DPR dari Republik, Don Bacon, mengatakan, Kongres perlu memulihkan kewenangan atas tarif. ”Kami memberikan sebagian kekuasaan itu kepada eksekutif. Kalau dipikir-pikir lagi, itu kesalahan,” ucapnya.

Senator Republikan, John Barrasso, menilai, Trump melakukan ”apa yang menjadi haknya”. Namun, ia mengakui, ada kekhawatiran di seluruh negeri. ”Akan ada diskusi di Senat. Kita lihat saja ke mana arah diskusi ini,” katanya. (AP/AFP/Reuters)


Kerabat Kerja

Penulis:

Elsa Emiria Leba
 | 

Editor:

Fransisca Romana Ninik W
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .