Tak satu pun negara ingin rakyatnya tenggelam dalam situasi kacau dan kalah. Kini saatnya belajar dari krisis agar ”selamat” dengan meminimalkan korban.
06 Apr 2025 14:15 WIB · Internasional
Kamus Bahasa Inggris Cambridge memuat kata fubar sebagai kata sifat dengan definisi ”teramat buruk, bisa dipastikan gagal, kalah, atau rusak”. Ditambahkan pula keterangan, dalam slang, kerap ditulis sebagai akronim FUBAR, kependekan dari fouled up beyond all recognition.
Akronim FUBAR dikenal luas oleh publik melalui film Saving Private Ryan (1998) yang berlatar invasi Normandia pada tahun 1944 (imdb.com, 20/8/2023). Akronim itu berulang kali dilontarkan Kapten Miller (diperankan Tom Hanks) yang bersama pasukannya harus melacak keberadaan seorang prajurit dan menyelamatkannya di tengah kebrutalan medan tempur Perang Dunia II.
Tugas menyelamatkan satu nyawa itu mesti dilakukan dengan mempertaruhkan begitu banyak nyawa lainnya. FUBAR dianggap sebagai akronim yang akurat menggambarkan sentimen para anggota pasukan. Dikisahkan, sebagian besar dari mereka berakhir gugur.
Akhir Maret lalu, ketika rencana serangan militer Amerika Serikat di Yaman bocor ke publik, akronim FUBAR digunakan di beberapa artikel di sejumlah media—antara lain The Guardian, Foreignpolicy.com, dan Syracuse.com—untuk menggambarkan situasi di lingkungan pemerintahan Presiden AS Donald Trump.
Akan tetapi, itu bukan klimaks ”kekacauan” yang dipicu langkah kontroversial Trump.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/06/7f86d978818a0cc9ad47dc9d62a8b5c1-US_POLITICS_TARIFF_TRADE_DIPLOMACY_128703532.jpg)
Pada 2 April 2025, Trump mendeklarasikan ”Liberation Day” alias independensi ekonomi AS yang mengejawantah dalam penetapan tarif ”resiprokal” bagi produk berbagai negara untuk masuk ke pasar AS. Penghitungan tarif sepihak (unilateral) itu mengagetkan dunia.
Kebijakan tarif Trump, baik yang bersifat sektoral maupun resiprokal, memukul berbagai kalangan ekonomi di seluruh dunia. Mulai dari eksportir kerajinan berskala usaha kecil menengah di Indonesia, buruh pabrik garmen di Kamboja, petani teh di Sri Lanka, hingga produsen otomotif di Jepang.
Para ekonom pun tak habis pikir dengan langkah Trump karena kebijakan tarif ini juga diyakini berimbas buruk bagi perekonomian AS. Bedassa Tadesse, profesor ekonomi di University of Minnesota Duluth, AS, mengingatkan, kebijakan perdagangan pada tahun 1980-an memang pernah berhasil membuat produsen otomotif Jepang membangun pabrik di AS.
Namun, ketika itu kebijakan disusun dengan jernih, dapat dinegosiasikan, bukan tiba-tiba, sepihak, bahkan terkesan memusuhi. ”Kebijakan tarif unilateral tidak membangun kepercayaan, justru merusaknya. Ketika kepercayaan rusak, begitu pun investasi,” tulis Tadesse dalam kolomnya di The Conversation (3/4/2025).
Kata Trump, kawan bisa berkelakuan lebih buruk dari lawan. Itulah yang kini dirasakan oleh negara-negara mitra dagang utama AS.
Langkah Trump kali ini mempertegas pesan kepada dunia untuk tidak lagi mengandalkan AS sebagai pasar ataupun mitra utama. Seperti disampaikan Konselir Jerman Friedrich Merz ketika Trump bicara soal ”memerdekakan” AS, sudah saatnya dunia bicara soal melepaskan diri dari ketergantungan terhadap AS (The Guardian, 2/4/2025).
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/06/2d2e9a8d-a95d-4b0e-ab73-b6a6f6cd7728_jpg.jpg)
Kebijakan tarif Trump perlu menjadi momentum bagi kerja sama kawasan yang lebih kuat, seperti diharapkan dari ASEAN, Uni Eropa, dan BRICS. Rantai pasok industri dan perdagangan pun bakal disusun ulang.
Sejumlah kalangan memprediksi kebijakan Trump bakal menggiring dunia kembali ke fase krisis. Namun, dunia sudah pernah melewati berbagai krisis.
Tak satu pun negara ingin rakyatnya terjatuh dalam situasi FUBAR. Kini saatnya belajar dari krisis agar ”selamat” dengan meminimalkan korban.
Tak satu pun negara ingin rakyatnya terjatuh dalam situasi FUBAR. Kini saatnya belajar dari krisis agar ”selamat” dengan meminimalkan korban.
Perlu diingat kembali, prasyarat mahapenting dalam menyusun kebijakan publik adalah kemampuan mengelola volatilitas, ketidakpastian, kompleksitas, dan ambiguitas (VUCA).
VUCA hanya dapat dikelola dalam ekosistem yang berpegang pada strategi sistematik dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan.
Untuk itu, tak bisa tidak, Indonesia harus membereskan ”pekerjaan rumah”: membenahi iklim investasi berikut kondisi fundamental industri dan perdagangan di dalam negeri. Lantas, bergandeng tangan dengan mitra-mitra global.
Penulis:
Nur HidayatiEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari