5.360 Anak Keracunan, MBG Didesak Dihentikan

Ribuan pelajar keracunan sejak program Makan Bergizi Gratis diluncurkan. Presiden RI didesak untuk menghentikan program sementara dan melakukan evaluasi total.

18 Sep 2025 18:46 WIB · Pendidikan & Kebudayaan

Oleh Saiful Rijal Yunus

KENDARI, KOMPAS — Kasus keracunan pelajar akibat paket Makan Bergizi Gratis terus bertambah dan dialami oleh lebih dari 5.360 anak. Presiden Prawobo Subianto didesak untuk menghentikan sementara program tersebut dan melakukan evaluasi menyeluruh. Sebab, nyawa anak terus menjadi taruhan.

”Kasus keracunan akibat makanan dari program MBG terus berulang. Dalam pemantauan kami, 5.360 anak mengalami keracunan. Jumlah ini bahkan bisa lebih seiring kasus yang terus terjadi dan sebagian ditutupi,” kata Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), Ubaid Matraji, saat dihubungi dari Kendari, Sulawesi Tenggara, Kamis (18/9/2025).

Ia berharap Presiden Prabowo Subianto dan Badan Gizi Nasional (BGN) untuk tidak bermain-main dengan keselamatan anak-anak. ”Kalau program ini benar-benar berpihak pada anak, hentikan sekarang juga sebelum lebih banyak korban berjatuhan,” ujarnya.

Sejak program MBG diluncurkan, kasus demi kasus keracunan massal terus terjadi. Anak-anak mengalami gejala mual, pusing, muntah, bahkan hingga sebagian di antaranya harus dirawat di rumah sakit. Kasus-kasus keracunan itu tersebar hampir merata di semua provinsi. Pemerintah berdalih akan melakukan perbaikan, tetapi kasus baru terus muncul.

Menurut Ubaid, situasi itu menunjukkan bahwa masalahnya bukan hanya terjadi di level teknis. Namun, adanya persoalan akut pada sistem, kontrol kualitas yang buruk, dan tata kelola yang tidak berjalan. Hal ini berujung pada pelaksanaan yang amburadul dan anak-anak yang menjadi korbannya.

Tampak sejumlah siswa di Kecamatan Kandungora, Kabupaten Garut, Jawa Barat yang mengalami keracunan setelah menyantap makanan program MBG, pada Rabu (17/9/2025) malam. Total sebanyak 194 siswa yang menjadi korban dalam peristiwa ini.

Parahnya, program ini juga dinilai sarat konflik kepentingan yang mengutamakan bisnis. Aroma koruptif begitu lekat di banyak tempat. Padahal, seharusnya keselamatan dan kesehatan anak menjadi hal yang utama.

Oleh karena itu, kata Ubaid, tidak ada jalan selain menghentikan program ini untuk sementara. Ia meminta pemerintah tidak bermain-main dengan nyawa anak dan segera melakukan evaluasi menyeluruh. ”Ini bisa menjadi tragedi besar akan keselamatan anak. Hilangkan dulu soal target, soal serapan anggaran. Utamakan keselamatan nyawa anak,” ujarnya.

Salah satu kasus terakhir yang terjadi adalah keracunan massal di Baubau, Sulawesi Tenggara. Sebanyak 46 pelajar di Kota Baubau, Sulawesi Tenggara, keracunan setelah menyantap makanan bergizi gratis. Makanan yang berbau, berbusa, dan terasa asam membuat pelajar muntah hingga harus dirawat. Pemerintah meminta audit mutu makanan terhadap pengelola.

Menurut Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Baubau Fanti Frida Yanti, salah satu persoalan yang terjadi selama program MBG berlangsung adalah tidak berjalannya inspeksi kesehatan lingkungan dapur penyedia. Dari tujuh dapur yang berjalan saat ini, baru dua di antaranya yang telah dilakukan inspeksi.

Siswa menunjukkan menu ayam yang berbau dan hitam dalam penyajian paket Makan Bergizi Gratis di Bombana, Sulawesi Tenggara, Rabu (23/4/2025). Belasan siswa keracunan dan ratusan lainnya tidak bisa memakan paket yang diduga basi tersebut.

Persoalannya, inspeksi itu idealnya didanai oleh Badan Gizi Nasional. Namun, dalam faktanya, hal itu belum terealisasi sehingga Pemerintah Kota Baubau berinisiatif melakukan inspeksi. Dengan anggaran yang ada, pihaknya baru bisa menginspeksi dua dapur.

Inspeksi memegang peran penting dalam pengawasan sebelum makanan disiapkan.  Higienitas dan mutu makanan bisa dipantau sejak awal dapur berdiri. Berbagai kekurangan juga bisa diperbaiki dan ditingkatkan kualitasnya.

Sementara itu, 194 siswa dari jenjang SD, SMP, hingga SMA di Kabupaten Garut, Jawa Barat, mengalami keracunan pada Rabu (17/9/2025) malam. Para korban diduga keracunan setelah menyantap makanan dari program MBG sehari sebelumnya.

Berdasarkan data yang dihimpun Kompas dari Polres Garut, 194 siswa yang keracunan itu berasal dari sekolah di Kecamatan Kadungora, Kabupaten Garut. Sebanyak 177 orang di antaranya mengalami gejala ringan, sedangkan 19 orang lain perlu menjalani perawatan intensif di Puskesmas Kadungora.

Kasus keracunan itu terjadi setelah para siswa mengonsumsi menu MBG yang disiapkan oleh dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Al Bayyinah 2 Garut di Desa Karangmulya, Kecamatan Kadungora (Kompas, 18/9/2025).


Kerabat Kerja

Penulis:

Saiful Rijal Yunus
 | 

Editor:

Mukhamad Kurniawan
 | 

Penyelaras Bahasa:

Retma Wati