Ratusan siswa dan guru di SMKN 6 Semarang diduga keracunan seusai menyantap MBG pada Jumat. Penyebab pasti keracunan masih diselidiki.
01 Agt 2026 12:00 WIB · Kesehatan
DOK HUMAS PEMKOT SEMARANG
SEMARANG, KOMPAS — Sebanyak 707 siswa dan guru di SMK Negeri 6 Semarang, Jawa Tengah, mengeluhkan gejala keracunan seusai menyantap makanan dari program Makan Bergizi Gratis atau MBG pada Jumat (31/7/2026). Dari jumlah tersebut, puluhan orang dilarikan ke rumah sakit dan puskesmas.
Peristiwa itu bermula ketika pada Jumat pukul 10.30 WIB, para siswa dan guru di sekolah itu mengeluhkan pusing, mual, muntah, dan diare seusai menyantap makanan MBG. Pihak sekolah lantas menghubungi Dinas Kesehatan Kota Semarang dan puskesmas terdekat, yakni Puskesmas Halmahera di Kelurahan Karangtempel, Kecamatan Semarang Timur.
Tak lama setelah itu, tiga ambulans dan sejumlah tenaga medis tiba di sekolah, kemudian pemeriksaan dilakukan kepada para siswa dan guru. Kepala SMKN 6 Semarang Berti Sagendra menyebutkan, keluhan para siswa dan guru itu sudah ditangani. Namun, para orangtua yang khawatir memilih untuk membawa anak-anak mereka ke puskesmas atau rumah sakit untuk pemeriksaan lanjutan.
”Yang sempat dirawat di puskesmas dan rumah sakit ada 42 orang,” kata Berti saat dihubungi, Sabtu (1/8/2026).
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/08/01/2a7e69890197e3ee2162f1138521c87c-IMG_0171.jpeg)
Hingga Sabtu ini, dua orang masih dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah KRMT Wongsonegoro. ”Kami masih menunggu perkembangan data selanjutnya karena ini kami masih mencoba menghubungi dan melakukan kunjungan ke rumah sakit,” tambahnya.
Berti menyebut belum mengetahui penyebab pasti dugaan keracunan tersebut. Namun, gejala itu muncul setelah para siswa dan guru menyantap menu MBG pada Jumat. MBG hari ini berisi nasi, rendang ayam, tahu krispi, sayur daun singkong, dan pisang.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang Mochamad Abdul Hakam mengatakan, setelah menerima laporan terkait dugaan keracunan, pihaknya langsung mengirimkan tim kesehatan untuk memberikan pelayanan medis, melakukan penelusuran epidemiologi, serta mengambil sampel makanan dan spesimen korban untuk diperiksa di laboratorium.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/08/01/05bc242e991b69597a3a9b97a78c9a00-IMG_0170.jpeg)
”Fokus kami memastikan seluruh siswa maupun guru yang mengalami gejala memperoleh pelayanan kesehatan sesuai kebutuhannya. Secara bersamaan, tim juga melakukan penyelidikan epidemiologi serta pengambilan sampel makanan dan spesimen korban untuk diperiksa di laboratorium sebagai bagian dari penelusuran penyebab kejadian,” ucap Hakam dalam keterangannya, Jumat malam.
Menurut Hakam, perkembangan penyelidikan epidemiologi ataupun hasil pemeriksaan laboratorium akan disampaikan secara berkala setelah seluruh proses pemeriksaan selesai dilakukan. Hasil pemeriksaan itu diperkirakan diketahui dalam waktu tiga pekan.
Sebagai langkah kehati-hatian, distribusi makanan dari penyelenggara SPPG terkait dihentikan sementara hingga proses penyelidikan epidemiologi dan pemeriksaan laboratorium selesai dilakukan.
Hakam menyebut, pihaknya juga masih terus memantau kondisi para siswa yang menjalani perawatan ataupun yang sedang diobservasi. Selain itu, pendataan terhadap seluruh penerima manfaat yang berpotensi terdampak juga dilakukan. Dengan demikian, penanganan diharapkan dapat dilakukan secara menyeluruh.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/27/beb04d557c426af45df6f7a7742dabf8-20250927_OPINI_Menggugat_Kelalaian_Negara.jpg)
Dinkes Kota Semarang juga, lanjutnya, telah berkoordinasi dengan berbagai pihak, mulai dari sekolah, penyelenggara Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kota Semarang Timur, serta Yayasan Putra Maju Mapan Mandiri. Yayasan tersebut yang membawahkan SPPG penyuplai MBG ke SMKN 6 Semarang.
”Sebagai langkah kehati-hatian, distribusi makanan dari penyelenggara SPPG terkait dihentikan sementara hingga proses penyelidikan epidemiologi dan pemeriksaan laboratorium selesai dilakukan,” ujar Hakam.
Penulis:
Kristi Dwi UtamiEditor:
Irma TambunanPenyelaras Bahasa:
Priskilia Bintang Cornelia Sitompul