803 Orang Keracunan MBG di Grobogan, Puluhan Orang Masih Rawat Inap

Ratusan orang keracunan setelah menyantap menu Makan Bergizi Gratis di Grobogan, Jateng. Puluhan orang masih dirawat inap hingga Selasa.

13 Jan 2026 17:42 WIB · Kesehatan

DOK DINKES GROBOGAN

Oleh Kristi Dwi Utami

GROBOGAN, KOMPAS — Sebanyak 803 pelajar dari sejumlah sekolah dan pondok pesantren di Kecamatan Gubug, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, mengeluhkan gejala keracunan seusai menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Jumat (9/1/2026). Dari jumlah tersebut, sebanyak 54 orang masih dirawat inap di sejumlah fasilitas layanan kesehatan hingga Selasa (13/1/2026).

Peristiwa itu diketahui setelah para siswa mendadak mengeluhkan gejala pusing, mual, muntah, hingga diare pada Jumat petang. Dari sekitar 803 orang yang mengeluhkan gejala itu, sebanyak 688 orang menjalani rawat jalan dan 115 orang lainnya menjalani rawat inap di sejumlah rumah sakit dan pusat kesehatan masyarakat.

Hingga Selasa, 61 orang yang sebelumnya dirawat inap sudah diperbolehkan pulang karena kondisinya membaik. Adapun 54 orang lainnya masih dirawat inap.

Petugas dinas kesehatan mengecek kondisi siswa yang mengeluhkan gejala keracunan di salah satu satuan pendidikan di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, Sabtu (10/1/2026). Di Grobogan dilaporkan ada 803 pelajar dari berbagai sekolah mulai dari kelompok bermain, taman kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas dan kejuruan, hingga pondok pesantren mengeluhkan gejala keracunan usai menyantap makan bergizi gratis pada Jumat (9/1/2026).

”Kalau dilihat, perkembangannya sudah semakin baik, mual sudah berkurang, buang air besar juga sudah tidak terlalu sering, tapi perut masih sakit. Semoga hari ini bisa sembuh semua dan bisa pulang,” kata Kepala Dinas Kesehatan Grobogan Djatmiko saat dihubungi, Selasa.

Menurut Djatmiko, para pelajar yang mengeluhkan gejala keracunan menyantap menu MBG berupa nasi kuning, telur dadar, tempe orek, abon, selada dan timun, serta jeruk. Sampel dari masing-masing makanan di menu itu, disebut Djatmiko, sudah diambil untuk diuji di laboratorium kesehatan Dinas Kesehatan Jateng.

”Masih dalam proses pemeriksaan. Hasilnya akan keluar 7 sampai 10 hari ke depan,” ucapnya.

Siswa mengambil makan bergizi gratis (MBG) untuk dibawa ke kelasnya di SMP 11 Kota Semarang, Jawa Tengah, Senin (29/9/2025). Banyaknya kasus keracunan diduga karena MBG di Jateng membuat para siswa di sekolah itu khawatir. Namun, mereka meyakini bahwa kualitas makanan yang disajikan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi yang menyuplai MBG ke sekolahnya baik. Pengecekan kualitas makanan juga lebih dulu dilakukan oleh guru dan kepala sekolah sebelum disajikan pada para siswa.

Sekretaris Kelompok Kerja Percepatan Pelaksanaan Program MBG Jateng AR Hanung Triyono mengatakan, pihaknya turut memantau penanganan kasus dugaan keracunan MBG di Grobogan. Dugaan sementara, menu yang memicu timbulnya gejala keracunan adalah abon atau telur dadar. Meskipun demikian, hal itu masih harus dipastikan melalui hasil uji laboratorium.

MBG yang dikonsumsi oleh para korban keracunan, disebut Hanung, diproduksi oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Grobogan Gubug Kwaron 1. Setelah kejadian tersebut, pengoperasian SPPG itu dihentikan sampai batas waktu yang belum ditentukan.

”SPPG itu juga telah diinspeksi oleh tim investigasi Badan Gizi Nasional. Penerima manfaat yang terdampak keracunan telah dikunjungi dan dipastikan keadaannya. Segala bentuk pengobatan ditanggung oleh BGN,” ujar Hanung.

Peserta membawa poster tuntutan dalam aksi dan piknik ibu-ibu di depan kantor Badan Gizi Nasional, Jakarta, Rabu (15/10/2025). Aksi yang diinisiasi Suara Ibu Indonesia dan sejumlah organisasi perempuan ini menuntut penghentian program Makan Bergizi Gratis (MBG) karena maraknya kasus keracunan akibat program tersebut. Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) mencatat, lebih dari 10.482 anak menjadi korban keracunan menu MBG di berbagai daerah.

KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA (YGA)
15-10-2025

Para korban yang mengeluhkan gejala keracunan itu berasal dari sejumlah sekolah berbeda di Kecamatan Gubug, mulai dari kelompok bermain, taman kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas dan kejuruan, hingga pondok pesantren. Setelah kasus dugaan keracunan diketahui pada Sabtu, Dinas Pendidikan Grobogan langsung berkoordinasi dengan instansi terkait, termasuk sekolah yang siswanya terdampak keracunan.

”Dari setiap sekolah terdampak, secara umum anak-anak yang sudah dinyatakan sembuh, sementara waktu dikondisikan istirahat di rumah selama tiga hari. Ini sekaligus untuk memastikan kesehatan anak-anak sebelum kembali menimba ilmu,” kata Kepala Dinas Pendidikan Grobogan Purnyomo.

Sebelumnya, kasus keracunan juga terjadi di Kota Semarang, Jateng, Kamis (8/1/2026). Sebanyak 75 pelajar SMK Negeri 11 Semarang mengeluhkan gejala seperti pusing, mual, muntah, dan sakit perut seusai menyantap MBG dengan menu nasi, tumis labu, perkedel tahu, ayam suwir, dan buah semangka.

Petugas gabungan mendatangi SMKN 11 Semarang, Jawa Tengah, Jumat (9/1/2026) untuk menyelidiki penyebab keracunan diduga akibat makan bergizi gratis.

Dari 75 pelajar yang bergejala, sebanyak empat orang dirawat inap di rumah sakit. Sisanya menjalani rawat jalan. Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang Mochamad Abdul Hakam mengatakan, berdasarkan pemeriksaan sementara, SPPG yang menyuplai makanan ke SMKN 11 Semarang tidak memenuhi prosedur operasi standar (SOP) yang berlaku.

Dari 12 SOP yang harus dipenuhi, beberapa di antaranya dinilai Hakam tidak dijalankan dengan tepat. ”Saya tidak hafal apa saja, tetapi salah satunya bermasalah di penyimpanan. (Penyimpanan) itu tidak sesuai dengan suhu dan sebagainya,” kata Hakam.

Menurut Hakam, pihaknya sudah mengambil sampel makanan dan air di SPPG tersebut untuk diuji di laboratorium. Hal itu untuk menentukan apa yang menyebabkan keracunan tersebut. Untuk sementara waktu, SPPG yang menyuplai makanan ke SMKN 11 Semarang dihentikan operasionalisasinya sembari menunggu hasil pemeriksaan laboratorium.


Kerabat Kerja

Penulis:

Kristi Dwi Utami
 | 

Editor:

Rini Kustiasih
 | 

Penyelaras Bahasa:

Amin Iskandar