80 Tahun Pencarian Korban Bom Atom yang Masih Berlangsung

Kisah pencarian korban bom atom di Hiroshima masih terus berlangsung hingga kini.

08 Agt 2025 07:45 WIB · Internasional

Oleh Ignatius Danu Kusworo

Mengenakan sepatu bot karet warna hitam dan helm, Rebun Kayo, seorang peneliti di Universitas Hiroshima, Jepang, mulai menyekop tanah bercampur kerikil dari lubang selebar bak mandi. Sebelumnya, tak lupa ia berdoa sambil meletakkan sebatang bunga krisan.

Sebuah ritual yang selalu ia lakukan untuk memulai penggalian. Kayo telah memulai kegiatan ini sejak tahun 2018. Tempatnya pun berpindah-pindah. Kali ini ia menggali di lereng bukit di pinggiran hutan. Mencari sisa-sisa jenazah korban bom atom Hiroshima.

Delapan puluh tahun lalu, ketika bom atom pertama meledak di atas kota Hiroshima, 6 Agustus 1945, ribuan orang yang tewas dan sekarat dibawa ke pulau kecil perdesaan Ninoshima, tepat di selatan kota Hiroshima. Mereka diangkut dengan kapal militer yang awaknya telah terlatih untuk misi serangan bunuh diri.

Rebun Kayo, seorang peneliti Universitas Hiroshima, mencari sisa-sisa korban pemboman Hiroshima 1945 di Ninoshima, 8 Juli 2025.

Banyak korban yang dalam kondisi terbakar sekujur tubuhnya. Di beberapa bagian, pakaian yang terbakar menyatu dengan kulit dan daging. Mereka mengerang kesakitan. Karena buruknya pengobatan dan perawatan, hanya beberapa ratus orang yang masih hidup ketika rumah sakit lapangan ditutup pada 25 Agustus 1945. Menurut catatan sejarah, mereka dimakamkan di sejumlah lokasi dalam operasi yang kacau dan terburu-buru.

Puluhan tahun kemudian, didorong oleh keinginan untuk memberi pertanggungjawaban dan menghormati para korban bom atom, orang-orang di daerah itu masih mencari sisa-sisa korban. Ini juga dilakukan untuk memberikan kelegaan kepada para penyintas yang masih tersiksa oleh kenangan akan orang-orang terkasih yang hilang.

Kazuo Miyazaki, seorang sejarawan lokal dan kepala Asosiasi Pemandu Relawan Sejarah Ninoshima, Selasa (8/7/2025).
Rebun Kayo, kanan, seorang peneliti Universitas Hiroshima, bersama penyintas bom atom Hiroshima di Pulau Ninoshima, Rabu (9/8/2025).
Ninoshima, sebuah pulau tempat ribuan orang mati dan sekarat dibawa setelah bom atom pertama meledak 80 tahun yang lalu, terlihat dari sebuah kapal feri, Senin (7/7/2025)
Para turis berjalan melewati Kubah Bom Atom pada Rabu (9/7/2025) di Hiroshima, Jepang.
Para pekerja membangun rak untuk menanam tiram, di lepas pantai Ninoshima, sebuah pulau tempat ribuan orang mati dan sekarat dibawa setelah bom atom pertama meledak 80 tahun yang lalu, Jepang, Selasa (7/7/2025).

Saat Kayo menggali tanah di bawah terik matahari, ia membayangkan kesakitan dan kesedihan yang dirasakan para korban saat mereka meninggal. Sejauh ini ia telah menemukan sekitar 100 fragmen tulang, termasuk potongan tengkorak dan tulang rahang bayi dengan gigi-gigi kecil yang masih menempel.

Ia menemukan tulang-tulang tersebut di area yang disarankan oleh seorang penduduk Ninoshima, yang ayahnya pernah menyaksikan tentara menguburkan mayat-mayat korban bom atom. Menurut penuturan warga, para korban saat itu dibawa ke pulau dengan perahu dari Hiroshima.

Puing-puing reruntuhan bangunan di Hiroshima, satu bulan setelah pengeboman. (AP Photo/Stanley Troutman, Pool, File) *** Local Caption *** FILE - In this Sept. 8, 1945, file photo, an allied correspondent stands in a sea of rubble before the shell of a building that once was a movie theater in Hiroshima, western Japan, a month after the first atomic bomb ever used in warfare was dropped by the U.S. to hasten Japan's surrender. Many people exposed to radiation developed symptoms such as vomiting and hair loss. Most of those with severe radiation symptoms died within three to six weeks. Others who lived beyond that developed health problems related to burns and radiation-induced cancers and other illnesses. (AP Photo/Stanley Troutman, Pool, File)

Kekacauan, kematian, dan pemakaman yang terburu-buru

Dalam dua jam setelah ledakan, para korban mulai berdatangan dengan perahu dari Hiroshima ke pusat karantina di pulau itu. Semua bangunan yang ada dipenuhi korban dengan luka parah. Banyak yang meninggal dalam perjalanan ke pulau itu. Menurut dokumen kota Hiroshima, anggota Angkatan Darat Kekaisaran bertugas sepanjang waktu untuk kremasi dan pemakaman di pulau itu.

Eiko Gishi, yang saat itu berusia 18 tahun dan tengah menjalani pelatihan perahu, mengawasi pengangkutan pasien dari dermaga ke area karantina untuk pertolongan pertama. Ia dan tentara lainnya memotong bambu untuk membuat cangkir dan nampan. Banyak korban luka meninggal tak lama setelah minum air.

Dalam kenangan yang diterbitkan oleh pemerintah kota beberapa tahun kemudian, Gishi menuliskan bahwa para prajurit dengan hati-hati menangani mayat satu per satu pada awalnya, tetapi segera kewalahan oleh banyaknya mayat yang membusuk. Banyaknya mayat membuat semua ruangan habis. 

Akhirnya tentara menempatkan mayat-mayat di lubang-lubang tempat perlindungan bom dan di gundukan pemakaman.

Foto arsip tahun 1945 menunjukkan kehancuran kota setelah bom atom dijatuhkan di Hiroshima, Jepang.
Seorang pria tak dikenal berdiri di samping perapian berubin di mana sebuah rumah pernah berdiri di Hiroshima, Jepang barat, 7 September 1945. Pengeboman 6 Agustus 1945 adalah serangan nuklir pertama di dunia. Diperkirakan 140.000 orang, termasuk mereka yang mengalami cedera dan penyakit terkait radiasi, meninggal hingga 31 Desember 1945. Itu adalah 40% dari populasi Hiroshima yang berjumlah 350.000 sebelum serangan itu.
Dua orang berjalan di daerah yang dulunya adalah kota Hiroshima yang kemudian hancur karena bom atom Amerika Serikat, 8 September 1945.
Kerangka Gereja Katolik, dan bangunan yang tidak dikenal, adalah semua yang tersisa di area pusat ledakan setelah bom atom Hiroshima, Jepang, 5 September 1945. Pada dua hari di bulan Agustus 1945, pesawat Amerika Serikat menjatuhkan dua bom atom, satu di Hiroshima, satu di Nagasaki, pertama kali senjata nuklir telah digunakan. Ledakan membakar bangunan dan orang-orang, serta meninggalkan bekas luka seumur hidup pada para penyintas, tidak hanya fisik tetapi juga psikologis, dan pada kota itu sendiri. Beberapa hari kemudian, Perang Dunia II berakhir.
Pemandangan kota Hiroshima yang hancur setelah bom atom pertama dijatuhkan oleh pesawat B-29 Angkatan Udara Amerika Serikat, 6 Agustus 1945. Pengeboman nuklir AS di Hiroshima pada tanggal 6 Agustus 1945 menewaskan sekitar 140.000 orang. Itu diikuti beberapa hari kemudian oleh pemboman Nagasaki pada 9 Agustus yang menewaskan sekitar 74.000 orang. Pengeboman kembar memberikan pukulan terakhir kepada kekaisaran Jepang, yang menyerah pada 15 Agustus 1945, mengakhiri Perang Dunia II.
Sisa-sisa gedung Promosi Industri Prefektur setelah pemboman Hiroshima, 1 September 1945. Gedung ini kemudian dilestarikan sebagai monumen. Pengeboman nuklir Amerika Serikat di Hiroshima pada tanggal 6 Agustus 1945 menewaskan sekitar 140.000 orang.

Yoshitaka Kohara, seorang mantan petugas medis tentara, menuliskan, mereka terkejut dengan banyaknya korban yang datang, dan dengan kondisi yang mengerikan. Ia yang sering merawat tentara yang terluka karena perang masih tak habis pikir dengan situasi korban yang datang dengan perahu. Ia bahkan menggambarkan suasana saat itu bagai neraka. 

Kohara berada di fasilitas itu hingga ditutup. Saat itu hanya sekitar 500 orang yang masih hidup. Ketika ia memberi tahu para pasien yang selamat bahwa perang telah berakhir pada 15 Agustus, ia ingat mereka terlihat tanpa ekspresi dan air mata mengalir tanpa sepatah kata pun.

Dalam foto file 6 Agustus 1945 ini, asap naik 20.000 kaki di atas Hiroshima, Jepang barat, setelah bom atom pertama dijatuhkan dalam perang. Hiroshima menjadi sasaran karena merupakan pusat militer utama Jepang yang dipenuhi dengan pangkalan militer dan fasilitas amunisi.

Ribuan ditemukan, jumlah yang hilang lebih banyak

Serangan bom atom Amerika Serikat di Hiroshima langsung menghancurkan kota tersebut dan menewaskan puluhan ribu orang di dekat hiposentrumnya, sekitar 10 kilometer di utara Ninoshima. Jumlah korban tewas pada akhir tahun itu mencapai 140.000 jiwa.

Saat berusia 3 tahun, Tamiko Sora tinggal bersama orangtua dan dua saudara perempuannya di rumah yang berjarak 1,4 kilometer dari pusat ledakan. Saat terjadi ledakan, rumahnya hancur. Wajah Sora juga terbakar, tetapi sebagian besar keluarganya selamat.

Dalam perjalanan mereka ke rumah kerabat, ia bertemu dengan seorang gadis berusia 5 tahun yang mengaku bernama Hiroko bersama seorang wanita dengan luka bakar yang parah. Wanita itu meminta bantuan untuk menyelamatkan bayi yang dikandungnya. 

Rebun Kayo, seorang peneliti Universitas Hiroshima, menyeka keringat dari wajahnya saat mencari sisa-sisa korban pengeboman Hiroshima 1945 di Ninoshima, Selasa (8/7/2025).
Rebun Kayo, seorang peneliti Universitas Hiroshima, mencari sisa-sisa korban pemboman Hiroshima 1945 di Ninoshima, Selasa (8/7/2025).
Rebun Kayo, seorang peneliti Universitas Hiroshima, mengendarai sepeda saat bepergian ke lokasi pencarian sisa-sisa korban pemboman Hiroshima 1945 di Ninoshima, Selasa (8/7/2025).
Tamiko Sora, seorang penyintas bom atom di Hiroshima, berdoa setelah diperlihatkan fragmen tulang manusia yang ditemukan di Pulau Ninoshima oleh Rebun Kayo, seorang peneliti Universitas Hiroshima, Rabu (9/7/2025), di Hiroshima, Jepang.
Tamiko Sora, seorang penyintas bom atom di Hiroshima, memegang sebuah wadah berisi pecahan tulang manusia yang ditemukan di Pulau Ninoshima oleh Rebun Kayo, seorang peneliti Universitas Hiroshima, Rabu (9/7/2025).

Sora masih sering memikirkan mereka dan menyesal keluarganya tidak dapat membantu. Setelah kejadian itu, keluarganya mengunjungi beberapa panti asuhan tetapi tidak dapat menemukan gadis itu. Sekarang ia berpikir, orang itu, juga paman dan bibinya yang hilang, mungkin berakhir di Ninoshima. Tempatnya ia menggali tanah sekarang.

Sekitar 3.000 jenazah korban bom atom yang dibawa ke Ninoshima telah ditemukan sejak tahun 1947. Kebanyakan ditemukan pada penggalian di lokasi yang tadinya adalah lubang tempat perlindungan bom. Ribuan orang lainnya diperkirakan hilang.

(AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Ignatius Danu Kusworo
 | 

Editor:

Heru Sri Kumoro
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan