Milan menyelamatkan musim dengan berkesempatan besar memenangi Piala Italia. Tampil tertekan, ”Rossoneri” justru mampu membungkam Inter dan meraih tiket final.
24 Apr 2025 04:55 WIB · Olahraga
MILAN, KAMIS — Derbi Della Madonnina lagi-lagi berakhir antiklimaks bagi Inter Milan. Meski tampil lebih dominan, Inter tidak kuasa membendung AC Milan yang tampil lebih efisien pada pertemuan kedua semifinal Piala Italia di Stadion Giuseppe Meazza, Kamis (24/4/2025) dini hari WIB. Milan menang tiga gol tanpa balas sehingga unggul 4-1 secara agregat. Kemenangan itu sekaligus merusak angan treble winner Inter.
Ada semacam gejala aneh yang menaungi Inter musim ini. Tim besutan Pelatih Simone Inzaghi tersebut menjalani musim yang gemilang dengan menembus semifinal Liga Champions Eropa serta menjadi kandidat kuat juara Liga Italia.
Akan tetapi, di balik kegemilangan itu, Inter tidak pernah sekali pun mampu mengalahkan Milan yang kini tengah terpuruk. Dari lima pertemuan melawan Inter musim ini, Milan mengemas tiga kemenangan dan dua hasil imbang.
Kekhawatiran kembali tersandung Milan terbukti jadi kenyataan. Milan yang tampil di bawah tekanan justru tampil lebih efisien dan mencetak tiga gol melalui aksi Luka Jovic (dua gol) dan Tijjani Reijnders. Pada pertemuan pertama, kedua tim bermain imbang 1-1.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/24/dddcd2ca2bc1e2213f90055c79ec6fbd-wires_photo_9_.jpg)
Kemenangan ini menghidupkan asa Milan untuk mengakhiri musim setidaknya dengan satu trofi. Tidak seperti Inter, musim Milan terancam gagal total setelah tersingkir dari Liga Champions dan tercecer di peringkat kesembilan. Satu-satunya harapan Milan meraih trofi tersisa di Piala Italia. Namun, harapan terakhir meraih trofi terasa kian mengecil karena Milan harus menghadapi Inter yang tengah konsisten.
Siapa sangka ternyata Milan mampu mengubah secercah harapan itu kian mendekati kenyataan. Berkat kemenangan penting atas Inter, Milan berpeluang menjuarai Piala Italia sekaligus merebut satu tiket tampil di Liga Europa musim depan. Di final, Milan akan menghadapi pemenang laga semifinal lainnya antara Empoli dan Bologna.
Adapun bagi Inter, kekalahan ini merupakan aib yang tidak mampu mereka tutupi. Milan, seberapa pun inkonsistennya musim ini, ternyata mampu tampil konsisten tiap kali bertemu Inter. Secanggih apa pun taktik yang diterapkan Simone Inzaghi, itu tidak pernah bisa membongkar strategi racikan Pelatih Milan Sergio Conceicao.
Di tangan Milan pula angan Inter meraih treble winner atau tiga trofi sekaligus dalam satu musim rusak secara instan. Kans Inter memenangi trofi kini hanya tersisa di Liga Champions dan Liga Italia. Kegagalan Inter melaju ke final Piala Italia berarti hanya ada dua tim di Eropa yang masih berpeluang meraih treble, yaitu Paris Saint-Germain dan Barcelona.
Pelatih Milan Sergio Conceicao menginstruksikan para pemainnya untuk tidak meladeni permainan terbuka Inter. Para pemain Milan bertahan dengan garis pertahanan medium. Saat Inter sedang berupaya membangun serangan dari bawah, trio penyerang Milan yang diisi Christian Pulisic, Jovic, dan Rafael Leao tidak langsung menekan, tetapi menunggu para pemain Inter memasuki area pertahanan mereka terlebih dulu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/24/ed9c5d94898f0d5ae1c00e761cd1acc8-Italy_Soccer_Italian_Cup_3_.jpeg)
Setelah bola memasuki area permainan Milan, barulah mereka menekan pemain Inter. Taktik ini tidak cukup efektif meredam agresivitas Inter yang memiliki gelandang-gelandang resisten.
Salah satu dari dua bek sayap Milan yang tampil dalam formasi 3-4-3 juga tidak segera bertransisi saat mendapat serangan. Akibatnya, Lautaro Martinez dan Mehdi Taremi kerap membahayakan pertahanan Milan karena terbantu Matteo Darmian dan Federico Dimarco yang turut naik membantu serangan.
Pada babak pertama, Inter mencatatkan tujuh tembakan, tetapi hanya satu yang tepat sasaran. Statistik serangan itu terasa hambar mengingat Inter yang amat dominan dalam penguasaan bola, yaitu mencapai 58 persen. Adapun Milan yang lebih banyak tertekan juga mampu melepaskan satu tembakan tepat sasaran, tetapi itu mampu dikonversi menjadi gol oleh Jovic pada menit ke-36.
Jovic kembali menjadi momok bagi pertahanan Inter lewat gol keduanya pada menit ke-50. Pemain timnas Serbia itu hanya menyentuh bola sebanyak 32 kali sepanjang laga, paling sedikit di antara para penyerang Milan, tetapi pergerakannya sangat efektif dan kerap tidak disadari bek Inter.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/24/af1e1d83de0ef6e954c4757abed311be-Italy_Soccer_Italian_Cup.jpeg)
Jovic menjadi semacam oase di saat dua penyerang sayap Milan, Leao dan Pulisic, tampil di bawah performa. Leao bahkan menjadi pemain terbanyak yang kalah duel (13 kali) di laga ini. Padahal, Leao tergolong pemain dengan kecepatan dan kemampuan menggiring bola di atas rata-rata. Saat Leao tenggelam, Jovic tampil menyelamatkan Milan dengan kejeliannya membaca ruang.
Reijnders menutup kemenangan Milan melalui golnya lima menit jelang waktu normal berakhir. Setelah gol Reijnders, para pemain Inter sudah kehilangan seluruh semangatnya untuk mengatasi ketertinggalan. Hingga laga usai, skor 3-0 untuk keunggulan Milan tetap bertahan.
”Sangat yakin (memenangi Piala Italia). Kami kesulitan di Liga Italia, ini adalah jalan terbaik untuk tampil di kancah Eropa musim depan. Jika kami bermain seperti hari ini, saya yakin kami akan menjadi juara,” kata Reijnders. (REUTERS)
Penulis:
I Gusti Agung Bagus Angga PutraEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .