Atalanta dan AC Milan mengucapkan selamat tinggal kepada Liga Champions. Kesalahan individu membuat dua wakil Italia itu tersingkir.
19 Feb 2025 10:12 WIB · Olahraga
BERGAMO, RABU — Langit di dunia calcio atau sepak bola Italia terasa kelabu setelah dua tim asal wilayah Lambordia, Atalanta dan AC Milan, tersisih dari Liga Champions 2024-2025. Keluarnya kedua tim memastikan asa Liga Italia untuk mengirim lima wakil ke kompetisi antarklub paling bergengsi di Eropa musim depan sirna.
Atalanta, yang menghuni peringkat kesembilan di fase penyisihan, disingkirkan secara agregat 2-5 oleh Club Brugge, yang lolos ke playoff dengan berada di posisi ke-24. Hasil negatif ”Si Dewi” itu mengikuti jejak ”Si Setan Merah” alias AC Milan yang disingkirkan Feyenoord akibat kalah agregat 1-2.
Kepastian kedua tim itu gagal menembus babak 16 besar tercipta di bumi Lambordia. Milan merenung di Stadion San Siro. Berselang sekitar dua jam kemudian, giliran Atalanta tersentak kecewa di Stadion Gewiss.
Atalanta sudah tertinggal tiga gol pada paruh pertama oleh Brugge, duta Belgia. Brace dari penyerang sayap kanan remaja Chemsdine Talbi pada menit ketiga dan ke-25 dilengkapi oleh sumbangan gol penyerang tengah Ferran Jutgla (45+3).
Atalanta sempat membuka harapan berkat gol dari Ademola Lookman pada awal babak kedua. Namun, Lookman pula yang meruntuhkan spirit timnya akibat gagal mengeksekusi penalti pada menit ke-61. Kekalahan 1-3 di kandang mempertegas performa inferior dari Atalanta setelah juga tumbang 1-2 di Belgia.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/19/a4ca6bb9e7d6bfcffce620450758bd04-wires_photo_55_.jpg)
Pelatih Atalanta Gian Piero Gasperini kesal terhadap keputusan Lookman untuk mengambil penalti. Eksekutor utama penalti ”Si Dewi”, kata Gasperini, adalah Charles de Ketelaere dan Mateo Retegui.
Selain baru masuk pada awal babak kedua, Lookman juga dianggap Gasperini memiliki rekor amat buruk dalam sesi latihan penalti bersama tim.
”Lookman tidak seharusnya mengambil penalti. Dia salah satu penendang penalti terburuk yang pernah saya lihat,” kata Gasperini dilansir La Gazzetta dello Sport.
”Dia sangat sedikit sukses mengeksekusi penalti di latihan. Retegui dan De Ketelaere ada di sana, tetapi Lookman sangat antusias setelah mencetak gol sehingga memutuskan mengambil bola. Sikap itu yang sama sekali tidak saya sukai,” ujarnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/19/3015102611cf9597e6844b7f28922075-wires_photo_68_.jpg)
Dalam perjalanan musim ini, De Ketelaere baru sekali menendang penalti dan mampu menjalankan tugasnya dengan baik. Retegui mencatatkan tingkat keberhasilan penalti 50 persen. Ia mencetak dua gol melalui eksekusi titik putih dari empat kesempatan.
Terlepas dari kegagalan Lookman, Atalanta memang tidak dipayungi dewi fortuna dalam setiap mendapatkan peluang penalti. Retegui gagal mencetak gol penalti ketika menghadapi Arsenal dan Torino sehingga laga berakhir imbang tanpa gol. Begitu pun Mario Pasalic yang telah mencatatkan satu kegagalan mengeksekusi penalti.
Setelah gagal mencetak gol melalui penalti, Lookman sejatinya telah mengerahkan segalanya untuk menebus kesalahannya itu. Meski hanya bermain selama 45 menit, Lookman adalah pemain yang paling banyak melepaskan tembakan pada laga itu.
Tujuh tembakan dihasilkan Lookman dengan catatan 1,29 expected goals (xG). Namun, efektivitas Lookman dan rekan setimnya amat buruk. Dari tiga tembakan tepat sasaran yang dihasilkan Lookman, hanya sekali yang menggetarkan jala gawang kiper Brugge, Simon Mignolet.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/19/ca9681209dd34518835a3d3cc0d7fb82-wires_photo_58_.jpg)
Secara total, Atalanta menghasilkan 30 tembakan. Dari jumlah peluang itu, mereka menghasilkan 3,28 xG. Angka xG itu mengonfirmasi buruknya penyelesaian akhir Atalanta.
Di sisi lain, Brugge juga patut berterima kasih kepada Mignolet yang tampil gemilang. Kiper berusia 36 tahun itu melakukan sembilan penyelamatan, termasuk sepakan penalti Lookman. Jumlah itu sudah jauh melampaui rerata tiga penyelamatan per laga yang dilakukannya di Liga Champions musim ini.
Ketika pemain depan tampil tidak efektif, performa buruk Atalanta diperparah akibat kartu merah yang didapatkan bek dan kapten tim Rafael Toloi, tiga menit menjelang waktu normal rampung. Gasperini mengakui Toloi melakukan pelanggaran ceroboh yang merugikan timnya.
”Kami kecewa, tetapi Atalanta pantas keluar dari Liga Champions dengan kebanggaan. Kami memainkan performa baik menghadapi tim-tim seperti Real Madrid, Arsenal, dan Barcelona,” tutur Gasperini.
Sementara itu, Milan yang memburu kemenangan dengan margin dua gol hanya bisa bermain imbang 1-1 kontra Feyenoord. Kekecewaan yang dirasakan Milan jelas lebih parah dibandingkan dengan Atalanta.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/19/211973aeaf2477b3f43c63bc53760714-wires_photo_62_.jpg)
Pasalnya, Milan sudah memboyong penyerang sekaligus sumber gol Feyenoord, Santiago Gimenez, pada bursa transfer musim dingin lalu. Gimenez, yang mencetak lima gol untuk Feyenoord di babak penyisihan, membuka keunggulan Milan melalui sontekan ketika laga belum berjalan satu menit.
Selain itu, Feyenoord juga baru saja memecat Brian Priske dari kursi pelatih, pekan lalu. Klub asal Belanda itu menyingkirkan Milan dengan pelatih interim Pascal Bosschaart.
Meskipun tampil menyerang dengan kreasi 18 tembakan berbanding enam tembakan milik Feyenoord, Milan gagal menambah keunggulan. Upaya menambah gol justru mendapat kendala setelah bek sayap kiri Theo Hernandez menerima kartu kuning kedua pada menit ke-51 akibat melakukan diving.
Keunggulan jumlah pemain mampu dimanfaatkan Feyenoord. Mereka mencetak gol penyama kedudukan melalui sundulan Julian Carranza pada menit ke-73. Itu adalah satu-satunya tembakan tepat sasaran Feyenoord di San Siro.
”Kami memulai dengan baik dan langsung mencetak gol. Kelihatannya Feyenoord tidak bisa melukai kami, tetapi segalanya bisa berubah dalam hitungan detik di sepak bola. Kami sangat kecewa,” kata Gimenez dilansir laman UEFA.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/19/8c277fc088f3eb6b7ecc1dcf9bb887c5-wires_photo_60_.jpg)
Namun, Pelatih Milan Sergio Conceicao enggan menyalahkan performa pemainnya secara individu. Ia bertanggung jawab atas kegagalan Milan gagal memenuhi target lolos ke babak 16 besar.
”Kami seharusnya bermain lebih kuat secara mental. Saya bertanggung jawab, bukan Theo (Hernandez). Dia telah memberikan banyak hal untuk Milan dan saya membuat banyak kesalahan dalam karier saya,” ujar Conceicao.
”Kami sangat marah. Hingga kartu merah Theo, Feyenoord tidak tahu cara untuk menjangkau gawang kami. Hasil ini sangat mengecewakan dan sebuah kegagalan bagi kami,” tambahnya.
Gugurnya Atalanta dan Milan membuat harapan Italia untuk duduk di peringkat dua besar dalam peringkat koefisien kompetisi UEFA 2024-2025 pupus. Dengan koleksi 17.687 poin, UEFA memastikan dua tim dengan peringkat tertinggi di kompetisi Eropa musim ini akan mendapat jatah lima tim di Liga Champions 2025-2026.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/19/a8622b2f2370f147b99e7e7e22747cf4-wires_photo_61_.jpg)
Liga Italia sulit untuk bersaing dengan Liga Spanyol (18.035 poin) dan Liga Inggris (20.892 poin) yang sudah memiliki tim lebih banyak di babak 16 besar.
Inggris telah diwakili oleh Liverpool, Arsenal, dan Aston Villa di perdelapan final, sedangkan Spanyol telah memiliki Barcelona dan Atletico Madrid. Jatah kedua liga itu bisa bertambah menyusul hasil duel Real Madrid kontra Manchester City, Kamis (20/2/2025) dini hari WIB.
Adapun Italia hanya berbekal Inter Milan di babak 16 besar. Peluang Italia menambah duta di fase gugur Liga Champions tergantung hasil Juventus yang wajib mengalahkan PSV Eindhoven di laga playoff.
Penulis:
Muhammad Ikhsan MaharEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Nur Adji