Film "Ad Vitam" karya Rodolphe Lauga menceritakan upaya mantan anggota keamanan dan antiteror Perancis dalam mengungkap kasus penembakan yang dilakukan polisi.
16 Jan 2025 15:30 WIB · Hiburan
Film thriller Ad Vitam berpusat pada sosok Franck Lazarev (Guillaume Canet) yang merupakan anggota keamanan dan antiteror Perancis (GIGN). Lazarev memiliki keahlian khusus dalam memanjat gedung atau parkur.
Di kesatuan itu, Lazarev bertemu dengan pacar yang kemudian menjadi istrinya, Leonore atau Leo (Stéphane Caillard). Di pasukan ini ia juga memiliki sahabat, yaitu Benjamin atau Ben (Nassim Lyes) serta Nico (Alexis Manenti).
Lazarev takut memiliki anak karena ayahnya meninggal saat ia berusia delapan tahun. Semasa hidup, ayahnya juga seorang anggota GIGN. Di sisi lain, Leo sangat menginginkan anak. Terlebih, di sekitar mereka, ada Nico yang terlihat bahagia bersama dengan istri dan anaknya.
Pengungkapan kasus penembakan di Hotel Trianon mengubah perjalanan hidup Lazarev bersama Leo dan kedua sahabatnya yang bahagia, menjadi pelik. Lazarev mengambil keputusan untuk datang ke Hotel Trianon ketika mendapat informasi terjadi penembakan di hotel tersebut.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/16/fdcc12784e4ae3a55736f4d6b8a2a6f9-20250116_PDS02.png)
Saat tiba di hotel, Lazarev bersama dua sahabatnya terlibat baku tembak dengan dua pencuri. Dalam peristiwa itu, Nico tewas tertembak, sedangkan Ben terluka parah. Lazarev lalu dipecat karena dianggap sebagai pihak yang bertanggungjawab atas kematian Nico.
Dalam situasi sulit ini, Leo hamil. Wajah Leo tampak semringah, sedangkan Lazarev tampak ragu. Leo sangat menginginkan kehadiran anak di dalam kandungannya itu. Di sisi lain, pikiran Lazarev berkecamuk karena ingin mengungkap kebenaran dalam peristiwa di Hotel Trianon.
Dari hasil forensik kepolisian militer diketahui, pencuri yang terlibat dalam baku tembak dengan Lazarev di Hotel Trianon merupakan polisi anggota Direktorat Keamanan. Itu diketahui dari darah yang ada di lencana pencuri tersebut.
Lazarev menyampaikan bukti yang diperolehnya itu kepada wartawan. Polisi tersebut diketahui telah menembak anggota Badan Pusat Intelijen Amerika Serikat (CIA) yang datang ke Perancis bersama pengawalnya untuk transaksi senjata dengan Australia.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/16/6313940c4231aa02e7e933bb028c325f-20250116_PDS01.png)
Tindakan Lazarev tersebut diketahui Direktorat Keamanan dan menyampaikan kepada menteri. Mereka takut kasus diketahui CIA karena bisa berdampak pada persoalan diplomatik. Menteri pun meminta Direktorat Keamanan untuk menyelesaikan kasus ini dengan berbagai cara.
Anggota polisi, Vanaken (Johan Heldenbergh) diminta untuk menyelesaikan kasus ini dengan merebut bukti yang dimiliki Lazarev. Tokoh Vanaken sudah muncul saat peristiwa penembakan di Hotel Trianon. Pertarungan seru pun terjadi dalam proses perebutan bukti.
Alur cerita film berbahasa Perancis ini diawali dengan penyerangan terhadap Lazarev dan Leo oleh Vanaken. Leo diculik oleh Vanaken yang datang bersama anak buahnya. Penonton segera disuguhi aksi laga dengan koreografi pertarungan yang apik. Terlebih, Lazarev menampilkan aksi memanjat gedung layaknya atlet parkur.
Setelah penyerangan tersebut, muncul kilas balik pertemuan Lazarev dengan Leo dan kedua sahabatnya, Ben dan Nico. Sayangnya, cerita kilas balik pertemuan tersebut terlalu lama sehingga cenderung menjenuhkan. Di sisi lain, persoalan kasus penembakan di Hotel Trianon yang menjadi jantung cerita ini kurang diperdalam.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/16/cbc8edc38d67b6c8986a2e0211ac4589-20250116_PDS03.png)
Sutradara tampak lebih suka mengeksplorasi drama percintaan antara Lazarev dan Leo daripada kasus penembakan di Hotel Trianon. Sebagai film bergenre thriller, penonton akan lebih menikmati polemik di balik kasus penembakan Hotel Trianon daripada pergolakan batin Lazarev dalam membina keluarga.
Meskipun demikian, kisah percintaan Lazarev dan Leo serta persahabatan dengan Ben dan Nico cukup menyentuh perasaan penonton. Leo berusaha mendukung langkah Lazarev dalam mengungkap kebenaran. Sebagai sahabat, Ben berusaha membantu Lazarev dalam membebaskan Leo. Drama cinta keluarga dan persahabatan tersebut mampu menyentuh perasaan penonton.
Akan tetapi, cerita yang menyentuh perasaan dan aksi yang dipertontonkan Lazarev kurang didukung pengambilan gambar dan efek visual yang variatif. Penonton hanya disuguhi beberapa sudut pengambilan gambar yang monoton dan tampak datar. Efek visual tampak menonjol hanya terlihat saat Nico tertembak. Alhasil, ketegangan aksi laga film ini kurang bisa dirasakan penonton.
The New York Times pun melihat sutradara Rodolphe Lauga tampak terombang-ambing. “Alur cerita yang minimalis dimaksudkan untuk mendukung penceritaan yang sederhana, tetapi setelah awal yang menjanjikan, film ini berbelok ke kilas balik yang terlalu panjang,” tulis surat kabar Amerika Serikat tersebut.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/16/01f1f30549279348f38e57b1b244103b-20250116_PDS04.png)
Majalah Variety juga melihat karakter Lazarev sangat menarik karena memiliki kecepatan serta keahlian parkur hingga paralayang. Itu membuat film ini tidak membosankan. Namun, struktur cerita ini terlihat canggung, terutama bagian tengah yang berupa kilas balik yang panjang.
Meskipun kurang sempurna, film berdurasi 1 Jam 38 menit ini cukup diminati penonton Indonesia. Sejak dirilis 10 Januari 2025, Ad Vitam bertengger di urutan 10 film teratas Netflix di Indonesia. Jika suka dengan olahraga parkur, film ini bisa menjadi pelepas rindu aksi parkur yang memukau pada film Perancis tahun 2004, District 13.
Penulis:
Prayogi Dwi SulistyoEditor:
Dwi AS SetianingsihPenyelaras Bahasa:
Nur Adji