Munculnya ungkapan-ungkapan tersebut merupakan respons taktis dan pragmatis terhadap kondisi ketidakpastian sosial, politik, dan ekonomi yang kian meningkat.
08 Des 2025 13:23 WIB · Ekonomi & Bisnis
KOMPAS
Beberapa pekan terakhir, media sosial diwarnai diskusi tentang ungkapan ”lebih baik capek bekerja dibandingkan capek cari kerja”. Ungkapan yang semakin lumrah dijumpai di kalangan warganet itu biasanya diikuti ajakan untuk bersyukur bagi mereka yang saat ini masih memiliki pekerjaan.
”Capek itu hal yang wajar. Di luar sana banyak sekali orang yang ingin berada di posisi kalian saat ini,” begitu kalimat yang sering muncul.
Begitulah, pekerja sekarang bisa dibilang ”pasrah” dengan pekerjaan yang mereka miliki. Enak tidak enak mesti dipeluk erat-erat sehingga muncul istilah job hugging.
Namun, seiring dengan fenomena mempertahankan pekerjaan dalam kondisi apa pun daripada tidak punya pekerjaan sama sekali, berkembang pula gejala minimalisme karier atau career minimalism di sejumlah angkatan kerja muda di beberapa negara. Forbes, akhir pekan lalu, menurunkan artikel yang mengulas gejala itu, tetapi spesifik di Amerika Serikat.
Mengutip survei Glassdoor terbaru terhadap lebih dari 1.000 profesional AS, Forbes menuliskan, gejala minimalisme karier menyebar di kalangan pekerja muda, terutama berlatar belakang generasi Z. Pemicunya antara lain kelelahan bekerja yang luar biasa, sistem pengembangan diri yang rusak, dan pergeseran jalur karier.
Laporan Labor Market Brief yang diterbitkan Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) pada 28 November 2025 menyebutkan gelombang pekerja yang frustrasi mencari kerja terus naik. Berdasarkan olah data Survei Angkatan Kerja Nasional Badan Pusat Statistik, jumlah penduduk yang tidak bekerja dan tidak mencari kerja karena putus asa pada Februari 2025 mencapai 1,87 juta orang. Jumlah ini naik 11 persen dibandingkan Februari 2024.
Penduduk perkotaan lebih banyak mengalaminya. LPEM FEB UI menyebutkan, sekitar 60 persen penduduk yang putus asa mencari pekerjaan tinggal di perkotaan. Sekilas, angka tersebut tampak berlawanan dengan citra kota sebagai wilayah yang penuh peluang kerja.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/09/57cc85cf8b4ea1849ebd24482839f672-20240304AGS05.jpg)
Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional, Rusli Cahyadi, Senin (8/12/2025), di Jakarta, berpendapat, ungkapan ”lebih baik capek bekerja dibandingkan capek cari kerja” dan minimalisme karier sedikit berbeda makna. Minimalisme karier berhubungan dengan pemahaman bahwa pekerjaan atau bekerja tidak dipandang lebih dari upaya memenuhi kebutuhan dasar semata.
Tidak ada orientasi untuk mengejar jabatan yang lebih tinggi. Jabatan lebih tinggi itu tidak jelas, tidak pasti, tidak hanya butuh keterampilan dan kepintaran, tetapi juga koneksi dan dukungan.
Sementara itu, ungkapan capek kerja versus capek cari kerja lebih berarti mencari kerja itu sulit dan sering dianggap butuh ”orang dalam”. Oleh karena itu, apa pun pekerjaannya dan ketidakjelasan penghasilan, pekerjaan yang ada lebih layak dipertahankan.
”Namun, faktor penyebabnya sama, yaitu persoalan struktural terkait penyediaan lapangan pekerjaan dan melemahnya sistem meritokrasi dalam dunia kerja,” ujarnya.
Lebih jauh, Rusli menilai, munculnya ungkapan-ungkapan tersebut merupakan respons taktis dan pragmatis terhadap kondisi ketidakpastian sosial, politik, dan ekonomi yang kian meningkat. Dalam kondisi seperti itu pula, pasar kerja membuat pekerja berada dalam posisi lemah. Loyalitas terbentuk bukan karena kenyamanan, melainkan karena ketakutan akan kehilangan pekerjaan.
Saat dihubungi terpisah, Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Recruitment dan Executive Search Indonesia (Apresi) Ricky Mulani mengatakan, peluang rekrutmen untuk posisi manajer ke bawah memang terus ada dari berbagai industri. Akan tetapi, perusahaan semakin pilih-pilih talenta. Tidak mudah bagi pencari kerja untuk lolos wawancara dan direkrut.
”Banyak aspek yang diperhatikan selain keterampilan teknis. Jadi, untuk satu posisi punya pengalaman yang relevan saja tidak cukup karena perusahaan mau orang-orang yang benar benar fit dalam pekerjaan,” katanya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/18/cf8d9384e2172d4c6a7446525e3d680a-20251118_GKT_Riset_Pekerja_3_mumed.png)
Situasi itu diperkeruh dengan keadaan ekonomi tidak menentu. Perusahan tidak mau ambil risiko jika karyawan baru yang direkrut tidak sesuai harapan.
Dengan demikian, pilihan yang realistis dan optimistis perlu dimiliki oleh pekerja adalah tetap mau melatih diri sendiri. Langkah sederhananya adalah meningkatkan kemampuan berbahasa asing dan teknologi digital.
Konsultan inovasi Yoris Sebastian dalam kesempatan berbeda menceritakan, dia pernah menulis di akun Instagram pribadinya tentang pekerja berlatar belakang generasi milenial yang dulu cenderung job hopping (sering berpindah pekerjaan). Kini, banyak pekerja generasi Z terpaksa melakukan job hugging.
Mereka bertahan di pekerjaan yang hanya cukup baik karena situasi ketidakpastian ekonomi, minimnya perekrutan baru, serta semakin banyaknya pekerjaan level awal yang digantikan teknologi kecerdasan buatan. Kondisi seperti ini juga tidak sehat bagi perusahaan karena karyawan bertahan bukan karena loyalitas.
Untuk menjaga optimisme pada diri pekerja, dia menyarankan agar mereka fokus pada apa yang bisa dilakukan, bukan fokus pada hal-hal yang tidak bisa mereka ubah, seperti faktor kondisi ekonomi nasional.
Dia lantas mencontohkan beberapa langkah simpel, yaitu setiap hari membuat dua aplikasi yang benar-benar dipersonalisasi untuk perusahaan yang dituju. Era satu curriculum vitae (CV) untuk semua perusahaan sudah berakhir.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/08/07/e11602c0-e523-4dae-bad5-65a0316c75bd.jpg)
Pekerja dan calon pekerja bisa belajar satu keterampilan baru pada waktu luang sembari melamar ke berbagai perusahaan. Dengan begitu, keterampilan baru itu bisa memperkuat isi CV dan jadi diferensiasi dibandingkan orang lain.
Unggah hasil belajar keterampilan baru tersebut di media sosial. Yoris mengingatkan kisah Ryan Adriandhy yang diajak bikin film animasi oleh Visinema karena dia rajin mengunggah ilmu film animasi yang dipelajari.
”Tidak harus ilmu dari bangku kuliah, kok. Kita bisa belajar dari banyak buku, seminar, dan workshop gratis. Di era digital ini, ada begitu banyak keterampilan yang bisa dipelajari secara gratis,” ucapnya.
Yoris menambahkan saran lain, yaitu tambah satu koneksi jejaring baru setiap minggu. Hal ini bisa dilakukan lewat program sukarelawan. Sebab, peluang kerja bergerak lewat hubungan manusia.
”Catat hal-hal positif yang sudah dilakukan karena bakal membuat kita merasa berarti,” imbuh Yoris, yang juga co-founder Inspigo.
Jadi, jangan letih mencari kerja. Jangan pula sembarangan melepaskan pekerjaan.
Penulis:
Caecilia MedianaEditor:
Budi SuwarnaPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti