Arsenal sebenarnya menggunakan pendekatan yang sama seperti pada paruh awal musim, tetapi hasilnya bertolak belakang. Ada problem yang harus segera dibenahi Arteta.
20 Feb 2026 04:51 WIB · Olahraga
AP
Pengumuman perpanjangan kontrak pemain bintang Arsenal, Bukayo Saka, sengaja disimpan pihak klub untuk melecut antusiasme para pendukung jelang derbi London Utara pada akhir pekan ini. Namun, euforia kabar itu ternyata kalah saing dengan kekecewaan kelompok suporter terhadap antiklimaks penampilan Saka dan rekan-rekan di Liga Inggris.
Arsenal mengumumkan kontrak baru Saka yang akan berlaku hingga 2030 pada Kamis (19/2/2026) WIB. Pengumuman hanya berselang kurang dari 24 jam setelah Arsenal ditahan imbang Wolverhampton Wanderers, 2-2, di Stadion Molineux. Mereka kehilangan kans untuk unggul tujuh poin atas pesaing terdekat, Manchester City, yang masih menyimpan satu laga lebih banyak.
Pihak klub menahan kabar baik itu karena akan bertandang ke Stadion Tottenham Hotspur, Minggu malam WIB. Harapannya atmosfer positif menyelimuti tim jelang laga derbi, terutama jika menang atas Wolves. Situasi berbalik. Kepercayaan para pendukung terhadap tim asuhan Manajer Mikel Arteta justru mencapai titik kritis akibat tren buruk sejak pergantian tahun.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/20/9da8a759cbc4e5dba1953c1f25dea905-Britain_Soccer_Premier_League_61_.jpg)
Puncaknya di kandang Wolves. Mereka gagal menang seusai unggul dua gol lebih dulu. ”Anda bertanding melawan tim peringkat terbawah di liga, seharusnya Anda bisa menang, tetapi Arsenal melepaskan itu dari genggaman. Persaingan gelar menjadi sangat terbuka,” kata mantan bek Arsenal, Martin Keown, yang pernah meraih tiga trofi Liga Inggris.
Narasi soal mentalitas pecundang di skuad Arsenal yang selalu menghantui di tiga musim terakhir kembali muncul. Mereka hanya menang dua kali dari tujuh pertandingan liga selama 2026 saat mendekati garis finis perburuan gelar. ”Si Meriam” bahkan kehilangan tujuh poin dari posisi unggul, hanya lebih baik dari Crystal Palace (8 poin).
Arteta selalu dikritik soal problem krisis gol dari permainan terbuka. Namun, itu bukan masalah utama pada tengah pekan lalu. Mereka unggul 2-0 atas Wolves berkat sepasang gol dari permainan terbuka, bahkan sudah memimpin sejak menit kelima. Manajemen permainan selama 90 menit menjadi masalah terbesar mereka.
Arsenal sering kali merusak momentum dengan memperlambat tempo permainan. Mereka berupaya mempertahankan keunggulan dengan tampil lebih berhati-hati. Lihat saja dalam paruh kedua versus Wolves, mereka didominasi oleh tim terburuk di liga karena enggan mengambil risiko saat penguasaan bola. Fokusnya adalah bertahan.
Arsenal kehilangan poin dalam tiga dari lima pertandingan liga terakhir. Di tiga laga itu, versus Wolves, Brentford, dan Manchester United, problem mereka terlihat jelas. Setelah mencetak gol dan langsung tampil pasif, mereka selalu kemasukan hanya dalam waktu kurang dari 10 menit. Kepasifan Si Meriam mengundang agresivitas lawan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/26/61a52c11968ea71bdb67f768d76ce827-wires_photo_2026_01_26T033337.539.jpg)
Tim asuhan Arteta unggul lebih dulu pada menit ke-29 atas MU, lalu dibalas delapan menit kemudian. Arsenal juga membuka keunggulan di kandang Brentford pada menit ke-61, tetapi disamakan hanya dalam sepuluh menit. Terakhir, Wolves memperkecil ketinggalan jadi 1-2 hanya lima menit setelah gol kedua Arsenal.
Menariknya, kehati-hatian seperti itu sudah dilakukan Arsenal sejak awal musim. Mereka bukan lagi tim yang menyerang intens sepanjang laga, seperti di musim 2022-23 atau 2023-24. Arteta mulai mengedepankan hasil di atas segalanya, demi trofi. Alhasil, mereka berkali-kali menang tipis dengan permainan yang kurang indah di mata, terutama setelah unggul.
Berkat prinsip tersebut pula, Arsenal sempat mencatatkan rekor 100 persen kemenangan setelah unggul lebih dulu (13 kali). Mereka juga berstatus tim dengan pertahanan terbaik. Lantas, apa yang membuat tren hasil mereka tiba-tiba jadi buruk belakangan ini? Situasi serupa, tetapi tak sama itu menjadi tanda tanya terbesar.
Perbedaannya adalah ketenangan para pemain Arsenal. Mereka, sebulan terakhir, tampak panik ketika berada dalam momen genting. Mereka agaknya mulai merasakan tekanan persaingan juara. City yang selalu menjadi mimpi buruk dalam beberapa musim terakhir terus membuntuti. Arsenal terbeban dengan rasa trauma di pundak.
Gol penyeimbang Wolves yang berasal dari bunuh diri bek Riccardo Calafiori adalah salah satu bukti. Gol itu memperlihatkan kepanikan di pertahanan Arsenal, khususnya antara kiper David Raya dan bek Gabriel Magalhaes. Mereka saling berebut bola dalam situasi umpan silang saat tidak ada tekanan dari pemain lawan.
Arteta sempat menginstruksikan tim asuhnnya agar tetap tenang dalam penguasaan bola. Namun, semuanya percuma karena momentum sudah berbalik ke sisi tuan rumah. Raya sering terburu-buru dengan mengirimkan umpan panjang ke separuh lapangan lawan. Padahal, hanya satu dari sepuluh umpan jauh sang kiper yang tepat sasaran di paruh kedua.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/18/4458f49dbd1a2ce36a99578ea732d1d7-wires_photo_2026_01_18T040836.533.jpg)
Kepanikan skuad Arsenal begitu terasa. ”Kami harus menyalahkan diri sendiri. Saya rasa performa di babak kedua tidak menunjukkan standar yang dibutuhkan di liga ini untuk menang, dengan selisih gol yang seharusnya kami miliki hari ini, terutama mengingat cara kami bermain di babak pertama. Ini adalah momen yang mengecewakan,” tutur Arteta.
Si Meriam sedang tidak baik-baik saja. Bukan hanya para pemain yang sulit mengatasi tekanan, pendekatan sang manajer juga memperburuk itu. Manajemen permainan Arteta sering membuat tim asuhannya kehilangan momentum dan berada di kondisi terdesak. Mereka berkali-kali terpaksa melewati jalan berliku saat ada jalur mudah.
Arteta agaknya perlu mengubah pendekatan. Mentalitas skuad Arsenal terbukti tidak cukup kuat menghadapi tekanan itu. Mereka perlu memanfaatkan kualitas dan kedalaman skuad untuk bisa mendominasi di setiap laga. Adapun materi pemain Si Meriam merupakan yang terbaik di seisi liga.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/10/d050622b17ace0ffb48aaa0df3681610-Arteta_vs_Guardiola.jpg)
Arsenal masih punya kesempatan memperbaiki kesalahan. Liga masih panjang, menyisakan sebelas laga. Mereka pun masih memegang kendali perburuan gelar. ”Kami hanya perlu kembali fokus dan memperbaiki masalah yang ada saat ini, lalu kembali lagi ke jalur kemenangan,” ucap Saka.
Namun, jika tidak segera berbenah, Si Meriam harus kembali menanggung malu di akhir musim. Alih-alih quadruple trofi di musim ini, mereka terancam menciptakan sejarah quattrick sebagai runner-up liga. (AP/REUTERS)
Penulis:
Kelvin HianusaEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra