SEPAK BOLA

Perlawanan Maksimal Para Semenjana di ”Playoff” Liga Champions

Sejumlah tim nonunggulan unjuk gigi pada paruh pertama ”playoff” 16 besar Liga Champions. Perlawanan mereka mendorong pertemuan kedua bakal jadi lebih menarik.

19 Feb 2026 15:53 WIB · Olahraga

AFP

Oleh I Gusti Agung Bagus Angga Putra

BODO, KAMIS — Di tengah hasil normal yang diraih tim non-unggulan, sebagian dari mereka menciptakan anomali dengan menjungkalkan laju para veteran Liga Champions Eropa. Apresiasi layak disematkan pada Bodo/Glimt, Galatasaray, dan Club Brugge yang sanggup mematahkan prediksi sekaligus membuat pertemuan kedua playoff babak 16 besar Liga Champions bakal sengit.

Bagi tim-tim dengan rekam jejak panjang di Liga Champions, seperti Real Madrid, Paris Saint-Germain, Atletico Madrid, dan Inter Milan, tampil di fase playoff 16 besar barangkali merupakan suatu langkah kemunduran. Tim-tim besar seperti mereka sudah barang tentu berambisi menyegel tiket lolos 16 besar otomatis melalui peringkat delapan teratas fase liga.

Akan tetapi, situasinya berbeda dengan Club Brugge atau bahkan Bodo/Glimt. Masuk kategori nonunggulan dan bisa memperjuangkan tempat di 16 besar melalui playoff saja sudah merupakan sebuah pencapaian dengan sistem turnamen yang sesulit sekarang.

Tidak heran, para tim semenjana ini begitu termotivasi membuktikan kelayakan di hadapan para tim raksasa. Bodo/Glimt, misalnya, lagi-lagi membuat kejutan dengan membekap raksasa lainnya, Inter Milan, 3-1, dalam laga di Stadion Aspmyra, Bodo, Norwegia, Kamis (19/2/2026) dini hari WIB.

Kemenangan bukanlah hal baru bagi tim semenjana. Namun, mereka umumnya menang dengan mengandalkan taktik bertahan lalu serangan balik kilat.

Pemain Bodø/Glimt, Kasper Høgh (kiri), berebut bola dengan bek Inter Milan, Francesco Acerbi, pada vie for the ball during a Champions League soccer match, Wednesday, Feb 18, 2026, in Bodo, Norway. (Thomas Andersen/NTB Scanpix via AP)

Bodo/Glimt sedikit berbeda. Mereka tidak pasif sembari menunggu lawan lengah, tetapi juga berupaya mengontrol jalannya laga dengan penguasaan bola. Bodo/Glimt mencatatkan 42 persen penguasaan bola, kalah tipis dibanding Inter dengan 58 persen.

Meskipun kalah dalam penguasaan bola, Bodo/Glimt sukses mencatatkan enam tembakan tepat sasaran, unggul atas Inter yang melepaskan empat kali tembakan.

”Saya rasa kami tidak bisa hanya bertahan rendah dan berharap pada serangan balik. Kami juga perlu menyerang, menggunakan garis pertahanan menengah, tinggi, atau mungkin bertahan dengan baik dan mudah-mudahan menciptakan beberapa serangan balik berbahaya,” kata Pelatih Bodo/Glimt, Kjetil Knutsen, seusai laga itu.

Inter menjadi tim besar ketiga yang takluk di hadapan Bodo/Glimt. Manchester City dan Atletico telah lebih dulu menjadi korbannya. Atletico bahkan sanggup dikalahkan di markasnya sendiri, Stadion Metropolitano, Madrid, Spanyol.

Kemenangan atas Atletico membuktikan Bodo/Glimt bukanlah tim yang hanya kuat ketika tampil di markas sendiri. Mereka pun sama berbahayanya saat menjalani laga tandang. Dengan demikian, bukanlah hal yang mustahil jika Inter berpotensi kesulitan membalikkan keadaan meski bermain di hadapan suporter sendiri.

Inter Milan's Italian defender #95 Alessandro Bastoni (C) and Bodo/Glimt's Norwegian forward #11 Ole Didrik Blomberg (L) vie for the ball next to Bodo/Glimt's Norwegian forward #26 Hakon Evjen (R) during the UEFA Champions League first-leg, play-off football match  Bodo/Glimt vs Inter Milan at Aspmyra statium in Bodo, Norway on February 18, 2026. (Photo by Thomas Andersen / NTB / AFP) / Norway OUT

Perlawanan Brugge

Tidak hanya Bodo/Glimt, perlawanan maksimal juga dilakukan Club Brugge saat menjamu Atletico di Stadion Jan Breydel, Bruges, Belgia. Sempat tertinggal 2-3, Brugge sanggup memaksakan hasil imbang 3-3 berkat gol Christos Tzolis di pengujung laga.

Hasil imbang terasa seperti kekalahan bagi para pemain Atletico yang sempat merasa sudah bisa mengamankan keunggulan sebagai modal menjamu Brugge di Madrid. Bek Atletico, David Hancko, menyesali gol penyeimbang Brugge yang dia rasa seharusnya bisa dicegah.

”Kami memulai dengan baik, terutama di babak pertama ketika mereka benar-benar kuat. Tetapi, kami bertahan dengan cukup baik dan kami mampu mencetak gol kedua. Di babak kedua, mereka mampu mencetak gol dan itulah mengapa kami sedih. Ketika Anda unggul 2-0, 3-2, dan tidak memenangkan pertandingan, itu bukan yang kami inginkan,” kata Hancko.

Pencapaian yang lebih fenomenal ditorehkan Galatasaray yang melibas raksasa Italia, Juventus, 5-2 di Turki. Unggul 2-1 pada babak pertama, Juventus kehilangan kendali dan justru kebobolan empat gol pada babak kedua.

”Kepribadian kami menurun. Kami mundur tiga langkah. Kami gagal memahami kesulitan dan bahaya dari apa yang kami lakukan. Jika kami tampil kurang baik dalam hal kualitas permainan, kami selalu berisiko di lini pertahanan. Kami akan mencoba melakukan analisis yang tepat menjelang pertandingan pertemuan kedua,” ujar Pelatih Juventus Luciano Spalletti.

TOPSHOT - Atletico Madrid's Spanish forward #10 Alex Baena (R) and Club Brugge's Greek forward #08 Christos Tzolis during the UEFA Champions League knockout round play-off first leg football match between Club Brugge and Atletico Madrid at the Jan Breydel Stadium in Brugge on February 18, 2026. (Photo by NICOLAS TUCAT / AFP)

Perlawanan maksimal dari Bodo/Glimt, Club Brugge, dan Galatasaray turut membuat pertemuan kedua playoff menjadi lebih menarik. Lolos tidaknya mereka ke 16 besar akan ditentukan hingga menit-menit terakhir pertandingan pertemuan kedua.

Jika Bodo/Glimt, Brugge, dan Galatasaray sukses meraih hasil positif pada pertemuan pertama, hal sebaliknya dialami tim nonunggulan lainnya, seperti Qarabag, Olympiakos, dan AS Monako. Qarabag dihancurkan 1-6 oleh Liverpool. Sementara Olympiakos harus mengakui keunggulan Bayer Leverkusen, 0-2.

Monako nyaris mengikuti jejak Bodo/Glimt, tetapi Paris Saint-Germain sanggup membalikkan kedudukan menjadi 3-2 di babak kedua. (AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

I Gusti Agung Bagus Angga Putra
 | 

Editor:

Yulvianus Harjono
 | 

Penyelaras Bahasa:

Rosdiana Sitompul