Ada Apa Gerangan, Cole Palmer?

Cole Palmer sedang dalam tren paceklik gol dan asis. Padahal, tidak ada penurunan signifikan dalam produksi tembakan dan umpan. Lalu, apa masalahnya?

01 Mar 2025 07:49 WIB · Olahraga

Oleh Kelvin Hianusa

Publik Stamford Bridge mulai bertanya-tanya. Apa yang sebenarnya dialami pemain favorit mereka, Cole Palmer? Gelandang serang Chelsea yang dikenal sangat “dingin” di pertahanan lawan itu, mulai “menghangat” belakangan ini. Gejala kurang baik terlihat dalam beberapa bulan terakhir.

Layaknya karakter Elsa di film animasi Frozen yang bisa membekukan apa pun di sekitar, seperti itu pula Palmer. Ketika dia menggiring bola ke kotak penalti, para pemain lawan seolah membeku. Tiba-tiba bola sudah bersarang di gawang. Wajar jika julukannya adalah “Cold Palmer”.

Masalahnya, daya magis Palmer sedang melemah. Hipotesis itu tercermin dari produksi gol dan asis yang mendadak mandek. Enam pertandingan sudah, dia tidak menyumbang satu pun gol atau asis. Padahal, dia sempat memborong 14 gol dan 6 asis dalam 21 pertandingan awal Liga Inggris.

Quote

Cole Palmer hanya manusia biasa. Hal terpenting adalah dia bahagia dan dia mengetahui itu sesuatu yang normal.

Manchester City's head coach Pep Guardiola, right, speaks with Chelsea's Cole Palmer at the end of the English Premier League soccer match between Manchester City and Chelsea at Etihad Stadium in Manchester, England, Saturday, Jan. 25, 2025. (AP Photo/Scott Heppell)

Semua akan terlihat lebih logis jika Chelsea sedang paceklik gol. Kenyataannya, tidak. “Si Biru”, julukan mereka, bahkan baru menang empat gol tanpa balas atas Southampton pada Rabu (26/2/2025). Tidak ada nama Palmer di deretan pencetak gol maupun asis.

Pelatih Chelsea Enzo Maresca enggan menyimpulkan terlalu cepat. Baginya, semua pemain bintang di setiap tim pasti pernah mengalami paceklik gol ataupun asis. “Cole Palmer hanya manusia biasa. Hal terpenting adalah dia bahagia dan dia mengetahui itu sesuatu yang normal,” katanya.

Jika ingin mencari akar masalah dari tren tersebut, cara paling mudah adalah membandingkan situasi skuad. Apa yang hilang dari Palmer setelah 15 Januari, saat terakhir dia mencetak gol. Terlihat, tidak ada penyerang Nicolas Jackson yang absen dalam tiga laga terakhir karena cedera paha.

Menurut mantan gelandang serang tim nasional Inggris, Paul Merson, dua masalah itu saling berhubungan. “Dia (Palmer) merindukan Jackson. Jika Anda lihat, dia seperti melakukan semuanya sendirian sekarang. Ketika ada Jackson, serangan mereka lebih menyebar,” ujarnya kepada Sky Sports.

Palmer bermain sebagai pemain “nomor 10” atau tepat di belakang striker dalam sistem 4-2-3-1 ala Maresca. Biasanya, Jackson yang memimpin garis depan bertugas memecah konsentrasi pertahanan lawan dengan kecepatan sprintnya. Palmer sering memanfaatkan kekacauan tersebut.

Statistik mendukung teori Merson. Palmer menciptakan 34 gol dan 17 asis dalam 53 penampilan bersama Jackson. Tanpa sang penyerang, dia hanya menyumbang dua gol dari enam laga. “Saya bukan tidak menghormati Palmer, tetapi dia butuh kecepatan di depan untuk membuka permainan. Sekarang semua terlalu rapat,” lanjutnya.

Suporter Chelsea dari Korea membawa spanduk bergambar gelandang Chelsea Cole Palmer sebelum pertandingan Liga Inggris antara Chelsea dan Southampton di Stadion Stamford Bridge, London, Selasa (25/2/2025).

Momentum Palmer

Perspektif lain bisa dilihat dari statistik lanjutan. Apakah angka-angka yang bisa mendukung produksi gol dan asis milik pemain 22 tahun itu juga menurun? The Analyst memperlihatkan data perbandingan kualitas tembakan pada musim ini, antara sebelum dan setelah paceklik gol.

Ternyata dalam catatan statistik per 90 menit, Palmer justru mengalami peningkatan jumlah tembakan dari 3,62 kali ke 3,88 kali. Sentuhannya di kotak penalti juga naik dari 4 ke 4,7 kali. Hanya rerata expected goals (xG) yang menurun, 0,13 ke 0,11.

Sampel dari enam pertandingan terakhir memang terlalu kecil untuk dibandingkan dengan separuh awal musim. Namun, hal itu cukup untuk memperlihatkan tidak ada masalah besar dalam proses penciptaan gol. Palmer tidak “menghilang” walaupun sedang paceklik gol.

Ange Postecoglou, Pelatih Tottenham Hotspur, beranggapan statistik jumlah asis bukan sesuatu yang penting untuk dihitung. Setiap pemain bisa saja tercatat sebagai penyumbang asis hanya dengan modal keberuntungan. Apalagi ketika umpan terakhir sebelum gol datang dari pertahanan sendiri.

Namun, statistik jumlah asis relevan ketika membahas tentang Palmer. Sebab, sejak pindah dari Manchester City pada musim panas 2023, dia merupakan salah satu mesin asis terbaik di Liga Inggris. Kreativitasnya memacu produktivitas Chelsea.

Chelsea's English midfielder #20 Cole Palmer celebrates scoring the team's third goal during the English Premier League football match between Chelsea and Aston Villa at Stamford Bridge in London on December 1, 2024. (Photo by Glyn KIRK / AFP) / RESTRICTED TO EDITORIAL USE. No use with unauthorized audio, video, data, fixture lists, club/league logos or 'live' services. Online in-match use limited to 120 images. An additional 40 images may be used in extra time. No video emulation. Social media in-match use limited to 120 images. An additional 40 images may be used in extra time. No use in betting publications, games or single club/league/player publications. /

Karena itu, seperti ada yang salah ketika Palmer sudah begitu lama tidak menghasilkan asis. Dia terakhir kali menyumbang asis pada awal Desember atau sudah 14 laga beruntun mengalami paceklik. Adapun sebelum itu, dia rerata hampir mencatat satu asis setiap dua pertandingan.

Data perbandingan The Analayst, antara sebelum dan sesudah paceklik asis, kembali memperlihatkan hal menarik. Kreasi peluang per 90 menit milik Palmer memang menurun cukup drastis, dari 2,4 jadi 1,7. Namun, expected assist (xA) miliknya malah naik dari 0,16 ke 0,24.

Artinya, walaupun kreasi dari Palmer tidak sebanyak sebelumnya, hal itu bisa diimbangi dengan kualitas umpan. Umpan final itu berpotensi menghasilkan gol lebih besar dibandingkan sebelummnya. Seperti halnya kualitas tembakan, terlihat tidak ada masalah serius dalam sisi kreativitas.

Tidak mudah memang bagi Palmer. Dalam usia yang masih sangat muda, dia harus menanggung beban paling berat dari pasukan “Si Biru”. Namun, terlepas dari tren kurang baik saat ini, Palmer sebenarnya akan baik-baik saja jika dilihat dari peran yang masih sangat besar di luar gol dan asis.

Seperti banyak pemain bintang lain, “Cold Palmer” hanya butuh momentum kecil untuk kembali ke versi terbaik. Saat keran gol atau asis terbuka, itu akan mengalir deras. Keyakinan tersebut pula yang dipegangnya. “Jangan khawatir, saya akan kembali,” jelasnya setelah laga tengah pekan lalu. (AP/REUTERS).

 


Kerabat Kerja

Penulis:

Kelvin Hianusa
 | 

Editor:

Wisnu Aji Dewabrata
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari