Otoritas Bursa Coba Tenangkan Investor

Otoritas terkait pasar modal nasional berusaha menenangkan investor dari eskalasi sentimen negatif. Mereka meminta investor rasional dan mencermati fundamental.

09 Feb 2026 15:02 WIB · Ekonomi & Bisnis

KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN

Oleh Erika Kurnia

JAKARTA, KOMPAS — Otoritas keuangan mengklaim performa fundamental perusahaan terbuka atau emiten di pasar saham nasional masih kuat menghadapi sentimen negatif akibat koreksi prospek oleh Moody’s Investors Service. Otoritas Jasa Keuangan bersama jajaran self-regulatory organization pasar modal, dalam hal ini, meminta investor tetap rasional dalam menyikapi dinamika pasar modal sepekan terakhir.

Pejabat Sementara Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi, dalam Konferensi Pers Perkembangan Terkini Pasar Modal Indonesia, di Jakarta, Senin (9/2/2026), mengungkapkan bahwa hingga pekan pertama Februari 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpantau bergerak dinamis dengan kecenderungan melemah.

Quote

Jika ditarik dari awal 2026, IHSG telah terkoreksi sebesar 8,23 persen.

Pada penutupan pekan lalu, Jumat (6/2/2026), IHSG bertengger di level 7.935,26 atau merosot 4,73 persen secara bulan berjalan. Jika ditarik dari awal 2026, IHSG telah terkoreksi 8,23 persen. Meski indeks tertekan, likuiditas pasar masih sangat terjaga. Ini tecermin dari rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) yang menembus Rp 32,88 triliun sejak awal 2026.

”Kami mengimbau publik, khususnya investor, untuk selalu bersikap tenang, rasional, dan tidak reaktif. Kami meyakini dalam jangka menengah dan panjang, pasar modal kita masih sangat prospektif sebagai alternatif investasi,” ujar Hasan.

Pejabat Sementara Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Hasan Fawzi, memimpin Konferensi Pers Perkembangan Terkini Pasar Modal Indonesia, di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (9/2/2026). Turut berbicara dalam konferensi tersebut Kepala Departemen Pengaturan dan Pengembangan Pasar Modal OJK, Eddy Manindo; Pejabat Sementara Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Jeffrey Hendrik; dan Direktur Utama PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), Samsul Hidayat.

Ia menjelaskan, di pasar saham, investor asing mencatatkan jual bersih (net sales) senilai Rp 1,14 triliun sepanjang Februari berjalan atau mencapai Rp 11,02 triliun secara tahun berjalan. Sebaliknya, industri pengelolaan investasi justru menunjukkan ketahanan. Nilai aktiva bersih (NAB) reksa dana per 5 Februari 2026 tetap tumbuh 2,98 persen secara bulanan menjadi Rp 722,21 triliun.

Pejabat Sementara Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik menekankan pentingnya melihat kinerja fundamental emiten di tengah sentimen makro. ”Secara mikro, kami melihat fundamental perusahaan-perusahaan tercatat masih kuat. Investor perlu menyesuaikan keputusan dengan profil risiko masing-masing,” tuturnya.

Quote

Secara mikro, kami melihat fundamental perusahaan-perusahaan tercatat masih kuat. Investor perlu menyesuaikan keputusan dengan profil risiko masing-masing.

Tekanan hebat terjadi pada IHSG menyusul keputusan lembaga pemeringkat Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang menunda evaluasi reguler saham-saham perusahaan Indonesia. Salah satu pertimbangannya, MSCI menilai sistem di pasar modal Indonesia kurang transparan dalam hal kepemilikan saham.

Tidak lama berselang, Moody's menurunkan prospek peringkat kredit Indonesia dari stabil menjadi negatif. Sementara, peringkat utang dipertahankan pada level Baa2.

Layar di Main Hall Bursa Efek Indonesia, Jakarta, menunjukkan posisi Indeks Harga Saham Gabungan pada akhir sesi I perdagangan, Senin (9/2/2026), ditutup di level 8.012.

Dampak rentetannya, Moody’s kemudian menurunkan prospek peringkat kredit 19 perusahaan di Indonesia. Sebanyak 14 perusahaan di antaranya BUMN, antara lain Telkom, Pertamina, PLN, PGN, Bank Mandiri, BRI, dan BNI.

Moody’s menilai risiko terhadap kredibilitas kebijakan Indonesia meningkat akibat menurunnya prediktabilitas dan koherensi kebijakan, serta lemahnya komunikasi pemerintah dalam setahun terakhir. Kondisi ini dinilai dapat memengaruhi kemampuan pemerintah dan entitas terkait untuk memperoleh pendanaan dengan biaya yang kompetitif.

Sementara itu, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi, dalam keterangannya, menjelaskan bahwa penurunan prospek peringkat kredit Indonesia berdampak berantai pada batas atas peringkat (rating cap) sejumlah emiten besar.

”Kondisi ini mempersempit ruang kenaikan peringkat dan membuat emiten lebih sensitif terhadap potensi kenaikan biaya pendanaan jika tekanan fiskal berlanjut,” kata Imam.

Imam memprediksi IHSG pada pekan ini akan bergerak melemah terbatas. Batas bawah di 7.716, batas atas di 8.207. Sampai dengan perdagangan sesi I Senin ini, IHSG bergerak positif di level 8.012.

Bagaimanapun, menurut Imam, pelaku pasar masih akan berhati-hati dengan berbagai sentimen global maupun domestik. Memasuki pekan kedua Februari, perhatian pasar akan terbagi pada rilis data inflasi Amerika Serikat dan China, serta data penjualan ritel domestik.

Dari dalam negeri, performa penjualan mobil Januari 2026 akan menjadi indikator awal kekuatan daya beli masyarakat di awal 2026. Optimisme ini juga didukung oleh data pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 sebesar 5,11 persen.

Lonjakan signifikan pada triwulan IV-2025 sebesar 5,39 persen, ia menambahkan, menunjukkan mesin pertumbuhan dari sektor transportasi dan konsumsi digital masih berputar kencang.


Kerabat Kerja

Penulis:

Erika Kurnia
 | 

Editor:

FX Laksana Agung Saputra
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan