Ada Risiko Bakteri pada Kasus Menu MBG di Sumba Timur

Kepala Badan Gizi Nasional menyatakan bakal mengevaluasi temuan daging ayam berdarah dalam kotak makanan program Makan Bergizi Gratis di Sumba Timur, NTT.

26 Feb 2025 12:05 WIB · Nusantara

Oleh Fransiskus Pati Herin

KUPANG, KOMPAS - Daging ayam mentah dan berdarah yang ditemukan dalam paket makanan program Makan Bergizi Gratis di Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, dikhawatirkan mengandung bakteri salmonella dan campylobacter. Kedua bakteri ini bisa menyebabkan infeksi saluran pencernaan pada anak yang mengonsumsinya.

Potensi munculnya bakteri berbahaya itu disampaikan Indhira Shagti, ahli gizi pada Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan di Kupang, NTT, lewat sambungan telepon pada Rabu (26/2/2025). Indhira kini sedang menyelesaikan pendidikan doktoral program gizi di IPB University.

Ia menyatakan keprihatinannya atas temuan daging ayam berwarna merah dan berdarah dalam kotak makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Daging ayam yang belum matang sempurna berisiko mengandung bakteri salmonella dan campylobacter.

"Ini berbahaya bagi anak-anak yang sistem kekebalan tubuhnya masih berkembang. Ini bisa berdampak buruk bagi kesehatan anak-anak yang mengonsumsinya," ujar Indhira.

Indhira Shagti

Jika ada anak yang terserang bakteri itu, lanjutnya, bisa mengalami infeksi saluran pencernaan seperti diare, muntah, hingga demam. Lebih dari itu, anak bisa mengalami dehidrasi berat sehingga memerlukan penanganan segera.

Pengolahan daging ayam 

Menurut Indhira, pihak vendor seharusnya bisa mencegah hal tersebut jika benar-benar menerapkan standar keamanan selama pengolahan MBG. Ini dimulai dari penerimaan bahan baku dengan memastikan ayam berasal dari sumber tepercaya. Tujuannya adalah memastikan daging ayam layak konsumsi.

Selanjutnya, daging ayam harus disimpan di bawah suhu 4 derajat Celcius untuk mencegah pertumbuhan bakteri. Kemudian saat memasak, suhu minimal 74 derajat Celcius untuk membunuh bakteri salmonella dan campylobacter.

"Yang penting, diselenggarakan pelatihan rutin untuk staf dapur tentang keamanan makanan dan pengawasan oleh ahli gizi yang profesional dan independen," katanya. Di setiap dapur MBG yang disebut Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) terdapat seorang ahli gizi.

Seperti diberitakan sebelumnya, Hamuli Ngguna Manggil, Kepala SD Inpres 3 Waingapu, Kabupaten Sumba Timur, lewat sambungan telepon pada Selasa (25/2/2025), mengatakan, daging mentah berdarah itu ditemukan dalam dua kotak makan. "Pas mau makan, siswa lihat itu sehingga tidak mau makan," katanya.

Daging ayam berdarah ditemukan dalam kotak Makan Bergizi Gratis di SD Inpres 3 Waingapu, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur pada Rabu (19/2/2025).

Temuan pada Rabu (19/2/2025) itu, lanjut Hamuli, menambah daftar temuan lainnya sejak sekolah itu menerima program MBG mulai Senin (17/2/2025). Temuan lainnya adalah di dalam kontak makan terdapat helai rambut sehingga membuat anak-anak merasa jijik.

Ada juga menu yang menurut pihak sekolah tidak bergizi. "Pada hari pertama siswa dikasih nasi dan mi. Nasi belum matang. Kami pihak sekolah sempat pertanyakan gizi makanan itu. Nasi dan mi, dimana gizinya? Tetapi ahli gizi (dari pihak vendor) bilang, makanan itu bergizi. Kami ikut saja," tutur Hamuli.

Temuan ayam mentah berdarah itu sempat heboh sehingga pihak vendor dan aparat keamanan ramai-ramai datang ke sekolah. Bukannya meminta maaf dan berjanji memperbaiki pelayanan, menurut Hamuli, pihak vendor malah marah-marah.

Seorang siswa tidak menyantap paket Makan Bergizi Gratis di SD Katolik St Yoseph 3, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur pada Selasa (25/2/2025). Ia malah makan nasi kuning.

"Mereka balik menuduh kami dari sekolah yang melakukan rekayasa dan itu yang membuat kami tidak terima. Hanya Tuhan yang tahu, mana yang benar," tutur Hamuli.

Tak hanya itu, pihak vendor juga mengancam menghentikan pemberian MBG ke sekolah itu. "Dan betul, mereka tidak antar makanan ke sekolah. Vendor bilang, MBG itu pakai uang pribadi dia," ujarnya (Kompas.id 26/2/2025).

Hingga Rabu (26/2/2025) siang ini, tim program MBG di NTT belum memberikan keterangan resmi.  Florencio Mario Vieira, tim monitoring dari Badan Gizi Nasional lewat pesan singkat mengarahkan Kompas untuk menghubungi Oswaldus, orang yang ia sebut sebagai koordinator SPPG di NTT. Oswaldus yang dihubungi belum merespons.

Atas temuan itu, Kepala Badan Gizi Nasional Dadan Handayani kepada Kompas mengatakan akan mengevaluasinya.


Kerabat Kerja

Penulis:

Fransiskus Pati Herin
 | 

Editor:

Mukhamad Kurniawan
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .