Para pelaku usaha rental mobil menghadapi risiko kejahatan yang belum terurai hingga kini. Ada sindikat penggelapan dan penadah yang mengintai bisnis ini.
09 Jan 2025 07:27 WIB · Metro
Menggeluti usaha sewa atau rental kendaraan bukan tanpa risiko. Harga mobil yang tinggi menjadi incaran sindikat kejahatan. Kehilangan kendaraan yang harganya ratusan juta rupiah hingga nyawa pun menjadi taruhan.
”Mobil kami New Veloz, beberapa waktu lalu digelapkan sampai kawasan hutan di Jember, Jawa Timur. Sampai tengah malam kami mengejar dan berupaya merebutnya kembali,” kata Sofian Nuh, pemilik rental mobil Bintang Mas di kawasan Pasar Minggu, Jakarta selatan, Rabu (8/1/2025).
Sofian bersyukur bisa mengambil kembali mobil produksi tahun 2023 itu walaupun harus mengeluarkan sejumlah uang untuk menebusnya. Selain itu, ada beberapa bagian yang dipreteli oleh penyewa yang diduga bagian dari sindikat penggelapan kendaraan sewa.
Saat kembali ke pangkuan, isi dasbor mobilnya berantakan, diacak-acak oleh penyewa yang kesulitan mencari salah satu dari tiga unit pemosisi global (GPS) yang ditanamkan di mobil itu. Dua unit GPS lain bisa ditemukan dan dipotong oleh mereka.
Sofian menuturkan bagaimana awal mula mobilnya bisa sampai ke Jember yang berjarak hampir 1.000 kilometer dari Jakarta. Semula pelaku bermaksud menyewa mobil Innova Reborn. Karena tipe mobil yang dimaksud sedang disewa orang lain, maka New Veloz-lah yang ditawarkan. Penyewa akhirnya setuju.
”Saat itu data penyewa lengkap. Memang ada yang aneh sebenarnya. Kami juga merasa ragu saat penyerahan. Dia bilang pengusaha dengan alamat di Pandeglang, Banten, tetapi tinggal di apartemen di daerah Pulogebang, Cakung, Jakarta Timur,” ujarnya.
Saat serah terima mobil, yang bersangkutan juga tidak ada di tempat dan mengaku sedang berada di Tebet, Jakarta Selatan. Dia menitipkan kepada temannya. Sang teman pun berusaha meyakinkan kepada pemilik rental soal itu. ”Dia sewa lepas kunci lima hari. Katanya mau dipakai buat liburan keluarga ke Yogyakarta,” ujarnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2021/11/23/833230d0-2fa4-4be3-b71d-4740be2e3a91.jpeg)
Dari hasil pengecekan GPS oleh Sofian, hari pertama posisi mobil masih di Pulogebang dan baru jalan pada hari kedua. Namun, setelah itu, mobil bukannya mengarah ke Yogyakarta, melainkan ke Jawa Timur. Sofian pun meminta si penyewa memotret kondisi mobil, tetapi mereka terus mengelak, tidak mengindahkan permintaan itu. Pesan Whatsapp yang dikirim ke penyewa diabaikan, telepon juga tidak direspons.
”Akhirnya, saya info ke teman-teman komunitas BRN (Buser Rentcar Nasional) Jatim, khususnya Jember, untuk membantu. Selama lima hari di tangan mereka, mobil itu telah berpindah tangan sampai tangan ketiga. Sepertinya mereka sindikat. Memang kalau rental mobil musuhnya sindikat,” kata Sofian.
Wakil Ketua Umum DPP Asosiasi Pengusaha Rental Mobil Daerah Indonesia (Asperda) Erwin Suryana mengatakan, yang saat ini banyak jadi target penjahat adalah segmen pelanggan lepas kunci perseorangan. Mereka rawan tindak penggelapan atau penggadaian, sementara untuk konsumen korporasi atau pemerintahan relatif aman.
Bos BTM Rental Banten ini pun mengimbau agar pengusaha rental lebih meningkatkan standar keamanan. Upaya itu mulai dari mengidentifikasi calon penyewa, melalui dokumen yang relevan, hingga tujuan perjalanan. Penyewa yang benar pasti akan jujur menjelaskan tujuan perjalanannya.
”Kalau dia menyewa mau ke Bandung, tetapi GPS mobil lari ke daerah lain, itu bermasalah. Itu harus langsung dicurigai dan ditarik karena indikasi akan bermasalah,” ujarnya.
Erwin juga menyarankan agar pengusaha rental memakai sistem keanggotaan (membership). Setiap anggota konsumen mesti melalui proses verifikasi. Jadi, konsumen yang dilayani ialah mereka yang telah menjadi anggota, sedangkan orang baru diarahkan untuk menjadi anggota lebih dulu. Memang agak sedikit repot, tetapi lebih aman lantaran kebanyakan yang jadi masalah adalah penyewa-penyewa baru.
Kasus-kasus penggelapan mobil rental yang muncul ke publik belakangan merupakan fenomena puncak gunung es. Menurut Erwin, kasus kejahatan rental sebenarnya banyak sekali, tetapi tidak semua terungkap ke publik. Ada perusahaan rental yang terang-terangan mengadukan ke polisi atau asosiasi, ada juga yang tidak.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2020/11/19/20201119JAKBAR-Pencuri-Mobil-1_1605786661.jpeg)
Erwin pun mengamini rata-rata kejahatan rental melibatkan sindikat. Mereka terhubung ke penadah karena tidak mungkin ”pemetik” bekerja sendiri. Mereka pasti sudah punya jaringan penadah. ”Kelompoknya ada kesamaan-kesamaan,” ujarnya.
Selama 13 tahun menjalani bisnis ini, Erwin pernah mengalami satu kasus. Saat sedang melayani persewaan, sopirnya dihantam oleh pelaku di jalan. Beruntung mobil itu tidak jadi hilang.
Adapun penggunaan teknologi, seperti GPS, tidak selamanya bisa membantu. Sebab, pelaku telah mempelajari dan kemungkinan punya alat khusus untuk mendeteksi sinyal peranti tersebut. ”Saran saya yang lain gabunglah dengan komunitas. Selama ini banyak yang belum tergabung sehingga tidak punya jaringan. Ini akan menyulitkan jika terjadi sesuatu ke depan,” ujarnya.
Kasus kejahatan rental terbaru yang menarik perhatian publik terjadi di area istirahat (rest area) Kilometer 45 Jalan Tol Tangerang-Merak, Kamis (2/1/2025). Dalam peristiwa itu, bos rental Ilyas Abdurrahman (48) tewas dan seorang rekannya, Ramli Abu Bakar (60), kritis.
Sebelum penembakan terjadi, anak korban, yakni Muhammad Agam, sempat melapor ke Polsek Cinangka, Kabupaten Serang, Banten, guna meminta pendampingan terkait penggelapan yang dia alami. Permintaan itu disampaikan setelah dia menerima ancaman dari salah satu pelaku yang menodongkan senjata api kepadanya.
Namun, permintaan pendampingan itu ternyata ditolak dengan alasan Agam tidak bisa menunjukkan legalitas dari kendaraan yang digelapkan. Merasa tidak mendapat respons, Agam bersama tim yang berjumlah enam orang akhirnya mengejar sendiri pelaku penggelapan mobil hingga peristiwa naas itu terjadi.
Kejahatan yang dialami bos rental mobil bukan kali ini saja. Pada 6 Juni 2024, bos rental asal Kemayoran, Jakarta Pusat, Burhanis (52), tewas setelah dikeroyok warga dan dituduh maling di Desa Sumbersuko, Kecamatan Sukolilo, Pati, Jawa Tengah.
Peristiwa itu berawal saat Burhanis menyewakan mobil kepada seseorang, tetapi mobil itu tidak kunjung dikembalikan. Dari alat pemosisi global, mobil itu diketahui ada di Sumbersuko.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2019/03/14/26cbcf46-2af2-4b38-a18d-12b9071460df.jpg)
Bersama tiga rekannya, korban menuju lokasi dan berusaha mengambil mobil itu dengan kunci cadangan. Namun, mereka diteriaki maling oleh warga dan dikeroyok. Korban meninggal dalam peristiwa itu, sementara tiga rekannya, yakni SH (28), KB (54), dan AS (37), mengalami luka berat.
Polisi kemudian menahan sejumlah warga, termasuk AG (34), yang menguasai kendaraan itu. Peristiwa ini pun viral hingga kemudian muncul stigma negatif terhadap daerah yang dimaksud.
Pengamat transportasi, Budiyanto, menilai kejahatan rental sebenarnya sudah berlangsung sejak lama. Untuk itu perlu pembenahan manajemen meski selama ini secara gradual sebenarnya perbaikan-perbaikan telah dilakukan, salah satunya mewajibkan data lengkap bagi penyewa kendaraan.
Secara fisik, menurut Budiyanto, mobil juga sudah dipasangi GPS dan jika memungkinkan peranti lain, seperti kamera dashboard. ”Perlu juga kerja sama dengan polisi untuk pemasangan panic button sehingga jika ada hal mencurigakan, polisi bisa bertindak cepat,” ujarnya.
Metode penyewaan lepas kunci yang ada selama ini juga perlu dievaluasi, pemilik rental harus benar-benar selektif. Pihak rental juga bisa menyiapkan sopir untuk melayani penyewa, kecuali jika orang itu benar-benar sudah dikenal.
Selain itu, juga perlu edukasi secara menyeluruh kepada masyarakat yang akan membeli kendaraan bekas, mulai dari surat tanda nomor kendaraan (STNK) sebagai bukti operasional di jalan, buku pemilik kendaraan bermotor (BPKB), dan koordinasi dengan Samsat.
”Nomor mesin dan rangka sama atau tidak. Kalau semua itu tidak sesuai, kita patut curiga. Begitu pula harga mobil yang terlalu murah juga bisa menjadi penanda jika ada yang tidak beres,” katanya.
Budiyanto mengakui, perusahaan rental skala besar telah memiliki manajemen yang baik. Sebaliknya, untuk rental skala kecil masih riskan. Namun, dengan saran-saran di atas, harapannya kejahatan terhadap rental bisa dicegah. Semoga.
Penulis:
Defri WerdionoEditor:
Mukhamad KurniawanPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan