Di panggung debat Pilkada 2024, kandidat tak hanya mempromosikan program, tetapi juga beradu gimik untuk memikat pemilih. Apa plus-minus dari memainkan gimik ini?
16 Nov 2024 11:00 WIB · Politik & Hukum
Teriakan dan tepuk tangan dari pendukung bersahutan saat calon gubernur Jawa Barat, Ahmad Syaikhu, menyampaikan pernyataan penutup di debat calon gubernur dan wakil gubernur Jawa Barat, Senin (11/11/2024) malam. Suasana bahkan semakin riuh tatkala wakilnya, Ilham Habibie, mengepakkan kedua tangannya seperti burung yang terbang saat Syaikhu mengeluarkan kalimat pamungkas untuk meyakinkan pemilih.
Keriuhan tak berhenti karena Ilham kembali memeragakan gerakan tangan seperti pesawat lepas landas untuk mengiringi kalimat terakhir dari Syaikhu.
”Sehingga Jabarku, Jabarmu, Jabar kita tercinta bisa lepas landas dan terbang tinggi. Syaikhu-Habibie menang. Jabarku terbang...,” ucap Syaikhu diikuti tepuk tangan ratusan pendukung yang hadir menyaksikan debat.
Ilham Habibie, seperti diketahui, merupakan putra dari Presiden ke-3 RI BJ Habibie. BJ Habibie dikenal sebagai Bapak Pesawat Indonesia karena ia merancang dan memproduksi pesawat pertama Indonesia, yaitu N250 Gatot Kaca.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/11/e7222a36-e8d1-4bad-beb5-5e2dc42f5b92_jpg.jpg)
Pada debat perdana Pemilihan Gubernur Jawa Barat itu, empat pasangan calon menyampaikan visi, misi, dan program terkait dengan tema ”Membangun Jawa Barat Menuju Masyarakat Digital yang Sejahtera dan Berdaya Saing Global”. Sejumlah kandidat bahkan membuat gimik-gimik tertentu untuk lebih meyakinkan publik.
Tak hanya pasangan Syaikhu-Ilham, pasangan Jeje Wiradinata-Ronal Surapradja juga mengeluarkan gimik berbeda. Keduanya menutup penyampaikan pernyataan penutup dengan tos tangan dan kaki.
Calon gubernur dan wakil gubernur Jabar nomor urut dua itu juga membuat kata-kata unik yang dapat memudahkan pemilih mengingat visi dan misi mereka. Ronal mengajak publik memaknai tempat berlangsungnya debat, yakni Universitas Padjajaran atau Unpad. Pesohor itu kemudian menyebut bahwa kata padjajaran diambil dari kata ngajajar.
Ronal pun memasukkan jargon yang mereka usung, yakni semangat Jawa Barat untuk semua. Artinya, jika mereka terpilih, keduanya akan menjadi pemimpin yang membuka ruang komunikasi bagi rakyat Jabar.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/12/e3a008e6-cccd-4938-b431-abe24d95dbca_png.png)
Sementara calon wakil gubernur Jabar nomor urut 1, Gitalis Dwi Natarina, mengangkat tangannya sambil melantunkan bait lagu dangdut ”Rungkad”. Pesohor itu kemudian menjelaskan makna rungkad yang merupakan singkatan dari respons untuk kebahagiaan dan aksi darurat (Rungkad).
Pemilihan kata rungkad ini digunakan untuk memudahkan pemilih mengenali program-program yang ditawarkan. Sebab, kandidat tersebut akan membuat program Rungkad Care, yakni program respons cepat bagi warga yang menghadapi kekerasan dan krisis mental.
Gimik-gimik tak hanya muncul saat debat cagub-cawagub Jabar. Di debat Pilkada Pemalang, Jawa Tengah, Kamis (31/10/2024), calon bupati Vicky Prasetyo bahkan bernyanyi saat debat. Ia menyanyikan lagu ”Lestari Alamku” yang dipopulerkan oleh Gombloh.
Tak hanya menyanyi, Vicky juga melakukan selebrasi siu ala pesepak bola Christiano Ronaldo. Alhasil, tingkahnya membuat suasana debat menjadi bergemuruh.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/12/22/490bd8e4-9c83-4566-9c5e-e449e49a5e38_jpg.jpg)
Penggunaan gimik memang sering digunakan oleh kandidat saat debat. Termasuk saat debat Pilpres 2024, calon wakil presiden Gibran Rakabuming Raka serta Mahfud MD bahkan beradu gimik.
Mulanya, Gibran melakukan gerakan seperti mencari sesuatu. Gerakan itu dilakukan sekitar lima detik. Gibran kemudian mengatakan, ”Saya lagi nyari jawabannya Prof Mahfud. Saya nyari-nyari di mana ini jawabannya, kok, enggak ketemu jawabannya. Saya tanya masalah inflasi hijau, kok, malah menjelaskan ekonomi hijau.
Gimik itu kemudian dibalas Mahfud dengan gerakan yang kurang lebih sama. Ia juga menyatakan, ”Saya juga ingin mencari, tuh, jawabannya ngawur juga, tuh,” kata Mahfud.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2021/07/28/99644f11-a30f-46f7-8caf-1706d55854c9_jpg.jpg)
Pendiri dan Fasilitator Soul of Speaking Rani Badri Kaliandra mengatakan, gimik dalam konteks kampanye calon kepala daerah merupakan strategi komunikasi yang melibatkan elemen hiburan, humor, atau simbol-simbol khas yang menarik perhatian. Dalam debat publik, gimik bisa berbentuk lagu singkat, simbol tertentu, slogan, ataupun gerakan-gerakan khas yang mencerminkan karakter dan program dari kandidat.
”Gimik dibuat untuk menciptakan daya tarik visual dan emosional agar pesan dari kandidat lebih mudah diingat oleh publik,” ujarnya.
Rani Badri menuturkan, ada lima alasan kandidat sering mengeluarkan gimik saat debat publik. Pertama, kandidat ingin menciptakan daya tarik emosional. Gimik yang bersifat emosional atau menyentuh biasanya mampu memancing respons emosional dari audiens.
Saat audiens merasa terhibur atau tersentuh, ada kecenderungan bahwa mereka akan lebih mudah terhubung dengan calon tersebut. Akhirnya, gimik yang dibuat dapat meningkatkan kemungkinan audiens untuk memilihnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/10/31b2c3fe-f9ab-4b98-9602-ec30da5acb7d_jpg.jpg)
Kedua, gimik dibutuhkan untuk memperkuat branding dan identitas. Gimik yang konsisten dapat memperkuat identitas calon dan membedakannya dari pesaing. Misalnya, lagu atau gerakan khas membuat calon tertentu lebih mudah diingat dan dikenali. ”Ini mirip dengan cara merek komersial mempromosikan diri melalui slogan atau jingle,” ucapnya.
Rani Badri melanjutkan, gimik juga dapat mengatasi keterbatasan pesan verbal. Dalam debat, durasi waktu sangat terbatas sehingga calon kepala daerah tidak selalu bisa mengungkapkan semua programnya secara detail.
Gimik kemudian dibutuhkan sebagai sebagai penanda atau simbol dari pesan yang ingin disampaikan. Misalnya, gerakan tangan tertentu bisa menunjukkan semangat kebersamaan atau kerja keras.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/09/f3f84448-b138-4003-95f0-58cc555a7fbc_jpg.jpg)
Keempat, kandidat sering kali mengeluarkan gimik karena ingin memanfaatkan elemen viral di media sosial. Gimik yang menarik atau kreatif mudah menjadi konten viral di media sosial. Hal ini dapat memperluas jangkauan kampanye dan membuat kandidat lebih dikenal masyarakat luas.
”Ini strategi yang efektif di era digital untuk menarik perhatian masyarakat muda atau audiens yang aktif di platform online,” ucap Rani Badri.
Terakhir, penggunaan gimik biasa digunakan untuk menutupi kelemahan kandidat. Gimik ibarat ”tirai” untuk mengalihkan perhatian dari kekurangan dalam kompetensi atau gagasan program. Ketika ini terjadi, masyarakat mungkin mulai melihat gimik sebagai upaya pencitraan semata tanpa komitmen nyata terhadap visi dan misi.
Jika kandidat merasa tidak terlalu kuat dalam hal program yang konkret, mereka mungkin akan menggunakan gimik untuk mengalihkan perhatian atau membuat debat lebih ringan dan menghibur. Keriuhan yang ditimbulkan dari gimik membuat masyarakat tidak terlalu fokus pada program atau solusi yang ditawarkan.
”Pendekatan ini memiliki risiko, apabila pemilih menyadari adanya kekurangan substansi, mereka bisa kehilangan kepercayaan terhadap kandidat,” tutur Rani Badri.
Labih jauh, gimik ibarat pisau yang memiliki dua sisi positif dan negatif. Hal itu sangat bergantung pada eksekusi dan konteks penggunaannya.
Satu sisi, gimik dapat meningkatkan kesan positif dan akrab. Gimik yang kreatif dan positif cenderung membangun citra calon sebagai sosok yang ramah, mudah didekati, dan dekat dengan masyarakat. Kandidat terlihat lebih membumi, humanis, dan mampu memahami budaya masyarakat.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/10/984762f2-dd50-44a1-b6b3-2350907a611c_jpg.jpg)
Gimik yang dikemas dengan tepat dapat membantu pemilih memahami pesan utama yang disampaikan. Contohnya, gimik berupa lagu yang menunjukkan komitmen kandidat untuk membangun daerahnya. Lagu-lagu populer dapat menjadi medium untuk menyampaikan pesan visi dan misi secara ringan, tetapi tetap efektif.
Di sisi lain, gimik juga dapat berdampak negatif apabila dilakukan secara berlebihan dan tidak relevan dengan konteks debat. Masyarakat akhirnya meragukan keseriusan calon dalam menjalankan program-program yang ditawarkan. Situasi ini dapat membuat pemilih menganggap kandidat hanya ”menghibur” tanpa ada substansi yang berarti.
Oleh karena itu, menurut Rani Badri, gimik adalah alat yang efektif untuk menarik perhatian dan memperkuat daya ingat publik terhadap seorang kandidat. Namun, efektivitasnya sangat bergantung pada bagaimana dan dalam konteks apa gimik tersebut digunakan.
Jika dilakukan dengan tepat, gimik bisa memberi dampak positif dalam meningkatkan popularitas dan elektabilitas. Akan tetapi, jika terkesan berlebihan atau digunakan sebagai upaya menutupi kekurangan, gimik bisa menjadi bumerang yang merusak kandidat di mata calon pemilih.
Penulis:
Iqbal BasyariEditor:
A. Ponco AnggoroPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra