Adu ”Serdadu” Diaspora, ketika Timnas Putri Lihat Pakistan Jadi ”Pemenangnya”

Selain urgensi kehadiran liga, partisipasi ”Garuda Pertiwi” di kualifikasi Piala Asia 2026 pun meninggalkan catatan soal efektivitas kehadiran pemain diaspora.

09 Jul 2025 18:04 WIB · Olahraga

Oleh Rebiyyah Salasah

Kualifikasi Piala Asia 2026 telah berakhir. Timnas sepak bola putri Indonesia gagal lolos ke turnamen tersebut dalam dua edisi beruntun. Selain meninggalkan catatan soal urgensi kehadiran liga sepak bola putri, partisipasi ”Garuda Pertiwi” juga meninggalkan catatan soal efektivitas pemain diaspora. 

Indonesia datang ke kualifikasi Piala Asia 2026 dengan tujuh pemain diaspora, enam di antaranya dinaturalisasi. Skuad Garuda Pertiwi yang diwarnai diaspora ini jadi sorotan lawan sepanjang kualifikasi, termasuk Taiwan sebagai tim terkuat di grup dan akhirnya juga lolos ke Piala Asia.

Saat lawan Kirgistan, 29 Juni 2025, pemain diaspora Indonesia memang menunjukkan kualitasnya. Isa Warps, terutama, beberapa kali menampilkan kemampuan individunya di lapangan. Tak hanya itu, pemain NAC Breda, klub divisi dua Liga Belanda, ini menjadi jawaban bagi buntunya lini serang dengan mencetak gol kemenangan Indonesia, 1-0.

Pada 10 Juni 2025, Isa bersama Felicia de Zeeuw, Iris de Rouw, dan Emily Nahon dinaturalisasi menjadi WNI. Keempat pemain ini juga langsung mendapatkan debut starter melawan Kirgistan. 

Pemain timnas putri Indonesia merayakan gol yang dicetak Isa Guusje Warps saat melawan Kirgistan dalam laga Grup D Kualifikasi Piala Asia 2026 di Stadion Indomilk Arena, Tangerang, Banten, Minggu (29/6/2025). Indonesia mengalahkan Kirgistan dengan skor 1-0.

KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA (YGA)
29-06-2025

Namun, bisa dibilang ujian justru ada pada laga selanjutnya, yakni melawan Pakistan, 2 Juli 2025. Selain menentukan langkah Indonesia selanjutnya di Piala Asia, Pakistan adalah lawan yang sepadan untuk ”beradu” serdadu diaspora. 

Pakistan memanggil sedikitnya sembilan pemain diaspora, enam di antaranya pemain baru, dengan pengalaman profesional di liga Eropa. Dalam program pemanggilan diaspora ini, mereka dimudahkan dengan Undang-Undang Kewarganegaraan Pakistan tahun 1951 yang memungkinkan warganya memiliki kewarganegaraan ganda.

Pada April 2025, Pakistan mengesahkan RUU Kewarganegaraan (Amendemen) 2024, yang memungkinkan warga negara memiliki kewarganegaraan ganda dengan 22 negara lainnya, salah satunya Inggris.

Salah satu pemain diaspora yang dipanggil adalah Layla Banaras, pemain berdarah Pakistan-Inggris. Saat melawan Indonesia, mantan pemain akademi dan tim muda klub Inggris, Birmingham City, ini pun menunjukkan kualitasnya di lapangan. Banaras menjadi benteng pertahanan yang kokoh, sulit ditembus pemain Indonesia. 

Selain itu, ada pula Aqsa Mushtaq yang kini memperkuat OFI Crete Women FC (Yunani). Pemain yang juga berkewarganegaraan Inggris dan Pakistan ini berpengalaman bermain bersama Napoli (Italia), Lewes FC (Inggris), serta Rochester United dan Leoiner-Rhyne Bears (Amerika Serikat).

Ada pula Mariam Mahmood, penyerang klub Inggris, West Bromwich Albion, dan Zeeuana Jivraj, kiper Northern Colorado Women’s FC di Amerika Serikat. Zeeuana Jivraj, yang berkali-kali mementahkan peluang Indonesia, sebelumnya bermain di liga utama Portugal bersama Clube de Albergaria.

Pemain timnas putri Indonesia, Marsela Yuliana Awi (kiri), berebut menyundul bola dengan pemain Pakistan, Layla Aliya Banaras, dalam laga Grup D Kualifikasi Piala Asia 2026 di Stadion Indomilk Arena, Kabupaten Tangerang, Banten, Rabu (2/7/2025). Pakistan menang dengan skor 2-0.

KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA (YGA)
02-07-2025

Saat melawan Indonesia, Pakistan menurunkan enam pemain diaspora sebagai starter. Selain Banaras dan Jivraj yang kokoh di lini pertahanan, ada pula Mushtaq dan Mahmood yang berbahaya di lini serang. Gol kedua Pakistan ke gawang Indonesia bermula dari upaya Mahmood menembus kotak penalti sebelum dijatuhkan bek Indonesia, Emily Nahon.

Adapun Indonesia menurunkan semua pemain naturalisasi baru, kecuali Isa. Saat masuk pada babak kedua, Isa tidak bisa berbuat banyak. Begitu pula dengan Iris, Emily, dan Felicia. Emily bahkan beberapa kali kecolongan bola sehingga berbuah peluang bagi Pakistan. 

Pakistan akhirnya menang 2-0 atas Indonesia. Kemenangan itu tak cuma membuka peluang mereka ke Piala Asia, tetapi juga membawa Pakistan memenangi pertarungan dengan sesama tim yang diwarnai pemain diaspora. 

Ekspresi pemain timnas putri Indonesia, Isa Guusje Warps (keempat dari kiri), setelah kalah dari Pakistan dalam laga Grup D Kualifikasi Piala Asia 2026 di Stadion Indomilk Arena, Kabupaten Tangerang, Banten, Rabu (2/7/2025). Pakistan menang dengan skor 2-0.

KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA (YGA)
02-07-2025

Media Pakistan, Geo News, menyebut, pemanggilan diaspora merupakan langkah strategis yang diambil timnas putri Pakistan untuk tampil di kualifikasi Piala Asia 2026. Keputusan ini dapat dipahami mengingat kondisi sepak bola Pakistan sedang karut-marut.

Federasi Sepak Bola Pakistan (PFF) beberapa kali dikenai sanksi oleh FIFA, salah satunya karena gagal mengadopsi amendemen konstitusional guna memastikan pemilihan umum yang adil dan transparan. Baru pada Maret FIFA resmi mencabut sanksi terhadap PFF. 

Akibat sanksi berupa skorsing itu, kompetisi domestik pun tidak berjalan, baik putra maupun putri. Para pesepak bola hanya mengikuti turnamen yang digelar sekali dalam setahun. 

Jika dibandingkan dengan Indonesia, kondisi sepak bola dalam negeri bisa dibilang lebih stabil. Namun, liga sepak bola putri tak kunjung berjalan sejak edisi pertama pada 2019 rampung.

Pemain diaspora, Noa Leatomu (kiri) dan Estella Loupatty, dipanggil untuk menjalani seleksi timnas sepak bola putri untuk pertandingan melawan Hong Kong. Noa dan Estella sudah bergabung dengan tim dalam latihan, di Lapangan ABC Senayan, Jakarta, Selasa (25/6/2024).

Program pemanggilan pemain diaspora dan naturalisasi dimulai sejak Juni 2024. Program ini diawali dengan naturalisasi Noa Leatomu dan Estella Loupatty, November 2024. 

Kedua pemain ini pun langsung diboyong Pelatih Satoru Mochizuki ke Piala AFF 2024 di Laos. Ada pula Sydney Sari Hopper, pemain berdarah Indonesia-Amerika Serikat, yang sudah memiliki paspor Indonesia sehingga tidak perlu dinaturalisasi. 

Di Piala AFF 2024, Sydney Sari Hopper tampil gemilang di lini serang Indonesia. Sydney menyumbang satu gol dalam kemenangan 3-1 atas Kamboja. Dia menjadi bagian tim yang menjuarai turnamen tersebut.

Setelah Piala AFF 2024, Sydney memperkuat tim U-19 yang berlaga di Kejuaraan ASEAN 2025. Pemain berusia 18 tahun ini turut membawa Indonesia meraih peringkat ketiga. 

Nama Sydney kembali masuk dalam skuad kualifikasi Piala Asia 2026. Namun, dia tak dimainkan sama sekali dalam tiga pertandingan yang dilakoni timnas putri. 

Pemain timnas sepak bola putri Indonesia, Sydney Hopper, melakukan selebrasi usai mencetak gol ke gawang Kamboja pada partai final Piala AFF Putri di Stadion National Laos, Vientiane, Kamis (5/11/2024). Indonesia menang 3-1.

Pelatih Satoru Mochizuki mengatakan, kondisi fisik Sydney belum optimal setelah memperkuat tim U-19 dan klubnya, Dallas Baptist Patriots. Menurut Mochizuki, setiap pemain memang memiliki fase naik dan turun, tetapi dia berharap pemain bisa segera kembali ke kondisi terbaiknya saat performanya turun.

Adapun Mochizuki menilai empat pemain naturalisasi baru sudah menunjukkan performa bagus. Namun, penampilan Isa, Iris, Felicia, dan Emily itu belum memenuhi ekspektasi pelatih asal Jepang ini. ”Mereka punya kemampuan lebih dari ini, saya berharap selanjutnya mereka bisa menunjukkan performa terbaik,” ucapnya. 

Meski PSSI enggan menyebutnya sebagai jalan pintas untuk meraih prestasi, upaya pemanggilan diaspora menunjukkan kesan demikian di tengah pembinaan dalam negeri yang belum sepenuhnya berjalan. Ketua Umum PSSI Erick Thohir mengatakan, program diaspora merupakan langkah jangka pendek untuk mendongkrak prestasi timnas.

Lagi pula, kata Erick, timnas putri terbuka bagi siapa pun, termasuk pemain muda dan diaspora. Jalan naturalisasi ditempuh karena kolam talenta pemain masih kurang, alasan yang sama yang membuat liga putri belum berjalan lagi.

Ketua Umum PSSI Erick Thohir mengunjungi latihan timnas sepak bola putri Indonesia di Dewa United Arena, Kabupaten Tangerang, Sabtu (28/6/2025) menjelang Kualifikasi Piala Asia Putri 2026.

Dengan pola pikir seperti ini, wajar harapan dan ekspektasi tinggi ada di pundak para pemain diaspora, tidak terkecuali dari Pelatih Mochizuki. Wajar pula saat mereka tidak bisa menunjukkan performa terbaik atau bahkan tidak diturunkan, muncul beragam pertanyaan.

Hal itu mengemuka ketika Noa Leatomu tidak dimainkan sama sekali di Piala AFF 2024. Padahal, Estella Loupatty, yang dinaturalisasi bersamanya, sudah debut di turnamen bersama timnas. 

Mochizuki sempat mengatakan, skuadnya memang punya pemain-pemain diaspora yang bagus, tetapi pemain lokal juga memiliki potensi. Untuk itu, mereka saling bersaing demi mendapatkan tempat di skuad.

Meski membuka persaingan tanpa memandang diaspora atau lokal, pilihan itu menimbulkan pertanyaan lanjutan. Jika memang pemain diaspora adalah pemain yang dibutuhkan oleh tim, dipanggil dan dinaturalisasi sesuai kebutuhan dan persetujuan pelatih, mengapa ada pemain yang sama sekali belum pernah dimainkan? 

Pemain timnas sepak bola putri Indonesia, Viny Silfianus, diapit pemain yang trial di timnas, Isabelle Nottet, dan pemain naturalisasi Isa Warps, saat berlatih di Dewa United Arena, Kabupaten Tangerang, Sabtu (28/6/2025) menjelang Kualifikasi Piala Asia Putri 2026.

Noa hanya pernah bermain saat Indonesia melakoni laga uji tanding, bukan dalam turnamen. Ketika empat pemain naturalisasi baru langsung debut di kualifikasi Piala Asia 2026, Noa masih juga belum dimainkan. 

Ketika efektivitas kehadiran pemain-pemain diaspora di skuad ini seharusnya ditinjau kembali, PSSI justru berencana menambah tiga pemain lagi untuk dinaturalisasi. ”Ada tiga pemain perempuan dan satu pemain pria (yang akan dinaturalisasi). Saya sudah kirim surat ke Pak Menpora. Pak Menpora juga sangat terbuka,” kata Erick selepas laga kontra Pakistan.

Tiga pemain yang dimaksud oleh Erick Thohir itu sudah ikut berlatih dengan timnas menjelang kualifikasi Piala Asia. Mereka adalah Isabelle Nottet, Pauline van de Pol, dan Isabel Kopp. 

Pemain andalan timnas putri, Claudia Scheunemann, pernah mengatakan, program naturalisasi mungkin bisa memperkuat skuad. Namun, jika sepak bola dalam negeri dan para pemainnya tak diperhatikan, akan sulit juga mengharapkan perkembangan sepak bola putri.

”Tanpa liga, pemain Indonesia yang tinggal di Indonesia tidak bisa makin maju, tertahan di situ saja (kemampuannya). Punya talenta pun, jika tanpa ada liga, tidak akan bisa ke mana-mana. Harus keluar negeri, abroad, harus mencari liga lain untuk berkembang,” ujar Claudia kepada Kompas TV, pertengahan Juni. 


Kerabat Kerja

Penulis:

Rebiyyah Salasah
 | 

Editor:

Emilius Caesar Alexey
 | 

Penyelaras Bahasa:

Didik Durianto