Adu Visi Sang Metronom, Vitinha dan Kimmich

Setelah melewati Busquets, Vitinha akan dihadapkan dengan lawan sebanding, yaitu Kimmich. Duel gelandang metronom itu akan krusial dalam laga PSG versus Bayern.

04 Jul 2025 19:17 WIB · Olahraga

Oleh Kelvin Hianusa

ATLANTA, JUMAT — Duel Paris Saint-Germain versus Bayern Muenchen akan mempertemukan dua metronom terbaik di dunia saat ini. Vitinha di PSG dan Joshua Kimmich di Bayern berpotensi menjadi penentu kemenangan setiap tim lewat pertarungan visi di lini tengah.

Dua klub raksasa Eropa itu segera bertemu dalam perempat final Piala Dunia Antarklub di Stadion Mercedes-Benz, Atlanta, Sabtu (5/7/2025) pukul 23.00 WIB. Walaupun selalu kalah dari Bayern dalam empat pertemuan terakhir, PSG yang berstatus “’Raja Eropa” lebih diunggulkan.

Bayern kalah dari Inter Milan di delapan besar Liga Champions musim lalu. Sementara itu, PSG mengempaskan Inter, 5-0, di final. Dua hasil itu tidak berkaitan langsung, tetapi bisa sedikit mencerminkan dominasi PSG. ”Laga akan sulit. PSG menjalani musim yang luar biasa,” kata penyerang Bayern Harry Kane.

Sosok kunci di balik kesuksesan PSG adalah sang gelandang jangkar, Vitinha. Dia sedang dihujani pujian karena mampu memengaruhi kemenangan dari lini tengah. Tidak hanya di PSG, Vitinha juga baru mengantarkan tim nasional Portugal untuk menjuarai Liga Nasional Eropa 2024-25 pada bulan lalu.

Vitinha merupakan metronom yang mengatur tempo dan ritme permainan. Tidak perlu lari secepat cheetah atau fisik sekuat badak, dia hanya butuh umpan sederhana untuk mendominasi permainan. Vitinha membuat segala hal terlihat sederhana dengan visi dan keterampilan teknis papan atas.

Pemain Paris Saint-Germain Vitinha (kanan) berebut bola dengan pemain Botafogo Allan pada laga grup B Piala Dunia Antarklub 2025 di Stadion Rose Bowl, Los Angeles, AS, Jumat (20/6/2025) pagi WIB. Botafogo menang 1-0 pada laga itu.

Pelatih timnas Portugal Roberto Martinez sampai berkata, Vitinha pantas memenangi gelar pemain terbaik atau Ballon d’Or edisi selanjutnya. Pengaruh sang metronom di atas para penyerang yang berkontribusi langsung terhadap gol. ”Vitinha adalah maestro sepak bola saat ini,” ujarnya.

Vitinha kembali membuktikkan kualitasnya saat PSG menang atas Inter Miami 4-0 di babak 16 besar. Pemain 25 tahun itu mendominasi pertarungan lini tengah atas Sergio Busquets yang merupakan sosok metronom terhebat pasa masanya. Busquets terlihat sudah pantas pensiun di hadapannya.

Bayern menyajikan lawan sepadan untuk Vitinha. Kimmich, 30 tahun, sedang dalam masa prima. Tidak seperti Busquets yang sudah melewati masa emas. Kimmich sudah menunjukkan kematangan itu kepada Vitinha saat Bayern menang atas PSG, 1-0, di babak grup Liga Champions, November lalu.

Potensi duel sengit di lini tengah nanti juga bisa tecermin dari daftar 100 gelandang terbaik sedunia versi ESPN yang dirilis pada Juni 2025. Kimmich dan Vitinha merupakan dua gelandang ”nomor 6” dengan peringkat tertinggi. Mereka juga masuk tujuh besar dalam peringkat keseluruhan.

Kimmich tidak lebih aktif daripada Vitinha dalam membangun serangan dari bawah. Namun, gelandang tim nasional Jerman itu lebih unggul dalam membantu serangan. Kimmich tercatat sebagai pemain dengan umpan sukses terbanyak di sepertiga akhir lawan selama Piala Dunia Antarklub, 128 kali.

Posisi Kimmich lebih tinggi dibandingkan dengan Vitinha. Atribut serangannya lebih lengkap karena bisa bermain di dua posisi sekaligus. Di timnas Jerman, Kimmich berperan sebagai bek sayap kanan. Dia diberikan kebebasan bergerak di Bayern, di bawah kepemimpinan pelatih Vincent Kompany.

Bayern Munich's German midfielder #06 Joshua Kimmich and Flamengo's Brazilian midfielder #29 Allan fight for the ball during the FIFA Club World Cup 2025 round of 16 football match between Brazil's Flamengo and Germany's Bayern Munich at the Hard Rock Stadium in Miami on June 29, 2025. (Photo by PATRICIA DE MELO MOREIRA / AFP)

Sementara itu, Vitinha sangat dominan ketika berbicara soal mengontrol permainan. Dia tercatat sebagai pemain dengan total umpan sukses terbanyak sepanjang turnamen, 353 kali. Sebagai konteks, pemain kedua terbanyak dalam aspek tersebut adalah Kimmich (244).

Menariknya, Vitinha tidak hanya membuat umpan-umpan ”aman”. Di laga versus Inter Miami, misalnya. Dia menghasilkan umpan kunci terbanyak (4 kali), tetapi masih mampu mencatat akurasi umpan hingga 96 persen. Adapun umpan kunci cenderung lebih berisiko untuk kehilangan bola.

Karier Vitinha mulai menanjak dalam semusim terakhir. Semua berkat pelatih Luis Enrique yang mengubah perannya dari gelandang ”nomor 8” jadi ”nomor 6” di PSG. Menurut Vitinha, dia lebih cocok bermain sebagai pivot karena bisa mengontrol permainan sejak dari bawah.

Dipimpin monster ciptaannya, Enrique berharap momentum PSG berlanjut di Piala Dunia Antarklub. ”Kami sedang menjalani musim yang bersejarah bagi klub dan kami ingin memperpanjangnya di kompetisi ini. Tujuan kami adalah melaju sejauh mungkin,” jelas Enrique.

Kompany pernah mengalahkan Enrique pada awal musim. Namun, kata Kompany, hasil itu sudah tidak relevan. PSG menjadi tim yang berbeda sejak pertengahan musim. ”Mereka tidak sempurna pada awal musim, tetapi mampu bangkit karena terus bertarung dan percaya,” pungkasnya.

Adapun laga nanti akan sangat emosional untuk Vitinha. Dia baru saja kehilangan rekannya di timnas, Diogo Jota, yang meninggal akibat kecelakaan mobil. Selain Vitinha, terdapat tiga pemain timnas Portugal lain di PSG, yaitu Nuno Mendes, Joao Neves, dan Goncalo Ramos. (AP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Kelvin Hianusa
 | 

Editor:

Emilius Caesar Alexey
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase