Ahsan Pensiun, ”The Daddies” Menutup Kisah

Mohammad Ahsan mengikuti langkah partnernya, Hendra Setiawan, untuk pensiun. Mereka meninggalkan dunia bulu tangkis sebagai salah satu ganda putra terbaik.

11 Des 2024 07:52 WIB · Olahraga

Oleh Yulia Sapthiani

Setelah Hendra Setiawan, Mohammad Ahsan mengumumkan akan mengakhiri perjalanannya di arena bulu tangkis. Bulu tangkis dunia akan mencatat mereka sebagai salah satu ganda putra terbaik dan sosok yang dihormati karena kerendahan hati.

Ahsan memberi tahu akan meninggalkan kariernya sebagai pebulu tangkis dalam unggahan di akun Instagram pada Selasa (10/12/2024). Atlet berusia 37 tahun itu mengungkapkan rasa syukur dan terima kasihnya dalam tulisan yang menyertai foto ketika menggantung raket di rumahnya dan saat bersujud di lapangan.

”Bismillah…. Alhamdulillah akhirnya telah sampai juga waktu untuk mengakhiri perjalanan saya di dunia bulu tangkis,” kata Ahsan.

Quote

Bismillah…. Alhamdulillah akhirnya telah sampai juga waktu untuk mengakhiri perjalanan saya di dunia bulu tangkis.

Dalam tulisannya, Ahsan berterima kasih kepada keluarga yang selalu mendukungnya. Dia pun menyebut beberapa nama pelatih yang mendampinginya, seperti Herry Iman Pierngadi, Aryono Miranat, dan Thomas Indrajaja, juga, pemain yang pernah menjadi partnernya.

Pengumuman dari Ahsan ini berselang sepekan setelah partnernya, Hendra, menyatakan akan pamit dari dunia bulu tangkis dalam usia 40 tahun. Saat dihubungi ketika Hendra mengumumkan akan pensiun, Ahsan mengatakan bahwa dia akan memberi pernyataan resmi setelah bertemu PP PBSI dan klubnya, PB Djarum. Momen itu akhirnya tiba.

Pemain bulu tangkis Indonesia Mohammad Ahsan mengembalikan kok ke arah pasangan ganda Bagas Maulana/Muhammad Shohibul Fikri, pada laga final All England, Minggu (20/3/2022). Ahsan lebih sering bermain di depan net karena kakinya cedera.

Setelah Ahsan memberi pernyataan, penggemar bulu tangkis memiliki kesempatan terakhir menyaksikan mereka di arena pertandingan, yaitu pada Indonesia Masters di Jakarta, 21-26 Januari 2025.

Duet Ahsan dan Hendra, ayah dengan masing-masing tiga anak berjulukan ”The Daddies”, tak hanya menjadi salah satu ganda putra terbaik Indonesia, tetapi juga di dunia. Di luar rangkaian prestasi, seperti tiga kali juara dunia, dua kali juara All England, dan tiga kali juara Final BWF, mereka dihormati banyak atlet karena memiliki karakter rendah hati.

Ahsan juga berkali-kali menunjukkan sportivitas saat bertanding dengan mengoreksi keputusan yang keliru dari wasit atau hakim garis. Ketika kalah, Hendra/Ahsan selalu memberi ucapan selamat kepada lawan dengan senyum, bahkan memeluk mereka. Tak jarang pula, Hendra/Ahsan dimintai foto bersama oleh lawan.

Bagi Ahsan, duetnya bersama Hendra seperti kesempatan kedua setelah menjalani perjalanan sulit bersama Bona Septano pada 2005 hingga Olimpiade London 2012. Bona adalah adik dari Markis Kido yang pernah menjadi partner Hendra.

Prestasi tertinggi Ahsan/Bona adalah saat mencapai semifinal Kejuaraan Dunia di London, Inggris, pada 2011. Pada ajang BWF Superseries, yang saat ini bernama BWF World Tour, mereka dua kali mencapai final, yaitu di Jepang Terbuka 2008 dan 2011, tetapi selalu kalah.

Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan memeluk Ong Yew Sin/Teo Ee Yii (Malaysia) setelah mengalahkan mereka 17-21, 21-13, 21-19 dalam semifinal turnamen Final BWF World Tour di Nimibutr Arena, Bangkok, Thailand, Sabtu (10/12/2022). Di final, mereka akan melawan Liu Yu Chen/Ou Xuan Yi (China).

Ahsan pernah bercerita bahwa perjalanannya bersama Bona cukup sulit karena mereka tidak memiliki panutan di pelatnas ganda putra. Kido/Hendra, yang semula menjadi senior terbaik Ahsan/Bona dan meraih emas Olimpiade Beijing 2008, memilih keluar dari pelatnas pada 2009.

Tanpa senior, Ahsan/Bona pun tak memiliki figur yang bisa dijadikan contoh, juga dalam menjadi partner latihan yang lebih baik dari mereka. Tanpa adanya pemain selevel Kido/Hendra di lingkungan terdekat, Ahsan/Bona bagaikan berjuang sendiri.

Maka, ketika Hendra kembali ke pelatnas pada 2012, Ahsan tak menyia-nyiakan kesempatan ketika pelatih memasangkan mereka. Hendra/Ahsan menjalani debut pada turnamen Denmark Terbuka, Oktober 2012, dan mencapai semifinal.

Pada tahun berikutnya, prestasi mereka meroket dengan enam kali juara dari delapan final. Salah satu gelar didapat dari Kejuaraan Dunia setelah Indonesia tak mendapat satu gelar pun dari Kejuaraan Dunia 2009, 2010, dan 2011.

Motivasi, semangat, komitmen, dan disiplin dalam menjalani kehidupan atlet di dalam dan luar lapangan, bahkan, bisa membawa Hendra/Ahsan memiliki karier panjang walaupun keduanya memiliki karakter berbeda. Hendra yang kalem bisa menenangkan Ahsan ketika ”meledak-ledak” di lapangan. Sebaliknya, Ahsan bisa mendorong Hendra untuk berkomunikasi saat seniornya itu diam.

Sabar Karyaman Gutama/Muhammad Reza Pahlevi Isfahani (kedua dan ketiga dari kiri) berfoto bersama Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan setelah babak pertama China Masters, Selasa (19/11/2024). Hendra/Ahsan menjadi inspirasi bagi Sabar/Reza.

Ahsan pernah mengatakan bahwa perbedaan karakter itu tak menjadi kendala karena mereka bisa saling memahami. ”Kami berkomunikasi dengan telepati,” candanya.

Setelah gagal meraih medali di Olimpiade Rio de Janeiro 2016, lalu Hendra keluar pelatnas lagi untuk berpasangan dengan Tan Boon Heong (Malaysia) pada 2017, Ahsan tetap di pelatnas dengan target membantu mengembangkan kemampuan atlet-atlet yang lebih muda.

Tak diduga, Ahsan dan Hendra kembali bersatu ketika PP PBSI kembali memanggil Hendra ke pelatnas pada 2018 dengan target memperkuat tim Piala Thomas dan untuk persiapan Asian Games 2018.

Akan tetapi, karena tak terpilih masuk dalam skuad Asian Games dan agar bisa mengikuti liga bulu tangkis di berbagai negara, Hendra/Ahsan memutuskan berkarier sebagai pemain profesional sejak 2019. Pada tahun ini, ketika Hendra telah berusia 35 tahun dan Ahsan 32 tahun, mereka justru bisa bangkit, bahkan, menyalip prestasi Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto hingga bisa mendapatkan kembali tiket Olimpiade. Tak tanggung-tanggung, Hendra/Ahsan menjuarai tiga ajang besar pada 2019, yaitu All England, Kejuaraan Dunia, dan Final BWF.

Sayangnya, target memperoleh medali Olimpiade Tokyo 2020 tak tercapai. Setelah kalah dari ganda putra terbaik saat itu, Lee Yang/Wang Chi Lin, pada semifinal, Hendra/Ahsan dikalahkan Aaron Chia/Soh Wooi Yik pada perebutan perunggu.

<p>Tim Piala Thomas Indonesia, searah jarum jam dari kiri atas, Chico Aura Dwi Wardoyo, Mohammad Ahsan, Marcus Fernaldi Gideon, Hendra Setiawan, Kevin Sanjaya Sukamuljo, Fajar Alfian, Muhammad Rian Ardianto, Leo Rolly Carnando, Shesar Hiren Rhustavito, Anthony Sinisuka Ginting, Daniel Marthin, dan Jonatan Christie, berfoto dengan trofi Piala Thomas usai upacara penghormatan pemenang Piala Thomas 2020 di Ceres Arena, Aarhus, Denmark, Minggu (17/10/2021). </p>

Meski melewatkan kesempatan besar meraih medali di Tokyo dan dengan usia paling tua di antara para pesaing, ”api” dalam diri Hendra/Ahsan tak padam. Saat menjalani persaingan tahun 2024, target mereka adalah lolos ke Olimpiade Paris.

Pada akhirnya, menurunnya kondisi fisik karena usia tak bisa dielakkan. Mereka kesulitan bersaing dalam hal kecepatan dan kekuatan dengan pemain-pemain muda yang menjadi modal pemain ganda putra dan akhirnya harus melepas impian tampil di Paris 2024.

Menjelang akhir 2024, keduanya menyatakan akan berpamitan dari dunia bulu tangkis. Banyak yang menyesali, tetapi lebih banyak yang mengungkapkan rasa hormat. Seperti dikatakan Ahsan, ”Ga ada pilihan lain selain hadapi”.

Walaupun catatan kariernya tak selengkap Hendra, Ahsan lahir sebagai salah satu ganda putra terbaik dunia. Atlet yang dipanggil dengan sebutan babah oleh ketiga anaknya ini bahkan menjadi pebulu tangkis terbaik dunia tanpa medali Olimpiade.

Terima kasih Ahsan….


Kerabat Kerja

Penulis:

Yulia Sapthiani
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .