Sebanyak 58 persen CEO perusahaan telekomunikasi menyatakan, organisasi mereka telah aktif mengadopsi teknologi AI agentik untuk meningkatkan produktivitas.
12 Jun 2025 12:06 WIB · Ekonomi & Bisnis
JAKARTA, KOMPAS — Sektor telekomunikasi dapat melakukan transformasi besar dengan memanfaatkan pengembangan agentic artificial intelligence atau sistem akal imitasi (AI) yang lebih mandiri dan otonom. AI agentik telah digunakan untuk mendorong produktivitas dan pengelolaan sumber daya manusia sampai melindungi data pelanggan.
Chief Technology Officer IBM ASEAN Kitman Cheung mengatakan, pihaknya telah melakukan survei terbaru yang berjudul ”The IBM C-suite Study” kepada 2.000 CEO perusahaan pada Juni 2025. Sebanyak 120 CEO yang disurvei berasal dari sektor telekomunikasi di seluruh dunia.
Menurut studi terbaru itu, AI generatif (generative AI) dan AI agentik (agentic AI) akan merevolusi industri secara menyeluruh. Sektor telekomunikasi berada di posisi strategis untuk melakukan transformasi itu sekaligus membuka peluang baru dalam pengembangan AI.
Dengan memanfaatkan AI agentik, sektor telekomunikasi tidak hanya melakukan otomatisasi, tetapi juga bergerak menuju pengambilan keputusan, optimalisasi jaringan, dan layanan pelanggan yang lebih proaktif sembari menghadapi disrupsi rantai pasok dan memaksimalkan potensi 5G.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2024/10/01/eba8174a-e3f0-4c2a-8efa-45288b7beda7.jpg)
AI agentik merupakan pendekatan inovatif berbasis AI yang lebih canggih dan kompleks dibandingkan AI generatif. Sistem AI ini lebih responsif, proaktif, adaptif, kolaboratif, dan otonom. AI jenis ini mampu bertindak secara mandiri untuk mencapai tujuan tertentu, mirip dengan agen yang memiliki kemampuan berpikir, bernalar, dan mengambil keputusan sendiri tanpa memerlukan instruksi terus-menerus dari manusia.
Cara kerjanya berbeda dari AI generatif yang fokus pada kemampuan menghasilkan atau membuat data baru seperti teks, gambar, musik, atau video berdasarkan input informasi (prompt) yang diberikan manusia.
Survei IBM menunjukkan, 58 persen CEO perusahaan telekomunikasi menyatakan bahwa organisasi mereka telah aktif mengadopsi AI agentik untuk meningkatkan produktivitas. Selain itu, 63 persen CEO perusahaan telekomunikasi menyatakan, organisasi mereka harus segera mengadopsi teknologi AI agentik. Sementara 56 persen CEO telekomunikasi mendorong perusahaannya untuk aktif mengadopsi AI agentik.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/03/31/38ff600a-4368-4abd-bf2c-6f1cbc7f155a_jpg.jpg)
Studi itu juga menyoroti perusahaan penyedia layanan komunikasi dan informasi (CSP/communication service provider) sebagai penghubung digital dan pendorong inovasi berbasis AI. Sebanyak 79 persen CEO perusahaan telekomunikasi di seluruh dunia melihat peluang inovasi di luar sektor mereka sendiri.
Menurut Kitman, ada tiga prioritas dalam survei yang dilakukan IBM itu. Pertama, penguasaan AI agentik dan AI generatif untuk menciptakan produk dan servis yang inovatif sehingga bisa menjaring klien. Kedua, kemampuan AI untuk meningkatkan produktivitas. Ketiga, pemanfaatan AI untuk meningkatkan keuntungan.
”Mengadopsi AI tidak hanya meningkatkan produktivitas dan keuntungan, tetapi menciptakan revenue stream dan model bisnis baru,” kata Kitman dalam diskusi Forum Editorial Virtual ASEAN bertajuk ”Membangun Masa Depan Telekomunikasi dengan AI”, Rabu (11/6/2025).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/24/a806deec8fdb14cc0494e88eca973a2c-DSC01816.JPG)
Dalam konteks penggunaan AI untuk produktivitas dan keuntungan, ada lima bagian yang menjadi perhatian. Pertama, bagian layanan pelanggan (customer service) yang meliputi penggunaan chatbot untuk melayani klien. Kedua, bagian pemasaran dan penjualan untuk menjaring klien baru dengan personalisasi dan sentimen pelanggan. Ketiga, bagian jaringan (network) untuk melakukan otomasi dari sisi pelanggan.
Keempat, bagian teknologi informasi (IT) dalam mendukung otomasi AI. Kelima, fungsi manajemen perusahaan (company functions), di mana AI agentik dan AI generatif dipakai untuk mendukung sumber daya manusia (SDM) dan pengetahuan manajemen perusahan.
Executive Vice President Digital Business and Technology Telkom Indonesia Komang Budi Aryasa mengatakan, pihaknya mengadopsi platform dari IBM untuk menerapkan AI di lingkungan Telkom. Kolaborasi teknologi dengan IBM itu dilakukan melalui platform IBM watsonx.ai untuk meningkatkan produktivitas, inovasi, dan daya saing dengan mengedepankan transparansi hingga perlindungan data.
Komang mengatakan, sistem AI yang dibangun dengan IBM watsonx.ai itu digunakan untuk memberdayakan bisnis Telkom dalam mempercepat perjalanan digital sekaligus memastikan privasi data pelanggan dan kepatuhan terhadap regulasi lokal.
”Inisiatif ini akan menghasilkan solusi AI yang mutakhir, memberdayakan anak perusahaan kami untuk mempercepat transformasi digital dan meningkatkan produktivitas,” ujarnya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/10/17/5555c3b1-869d-41e5-ba07-d4356eee530e_jpg.jpg)
Tak hanya itu saja, melalui AI, perusahaan juga lebih mudah mengelola SDM, mulai dari rekrutmen, pelatihan dan pengembangan, hingga evaluasi kinerja.
Pengelolaan SDM yang memanfaatkan AI ini krusial untuk pertumbuhan perusahaan. AI dapat meningkatkan produktivitas dan mendorong kreativitas karyawan sehingga mendorong lebih banyak inovasi.
Selain SDM, AI juga digunakan di Telkomsel dalam hal analitik legal. ”Ada banyak kebijakan dan dokumen legal yang harus dimengerti oleh karyawan dan pelanggan. Kami mencoba menyediakan platform untuk membuatnya lebih mudah dibaca dan dipahami orang,” ujarnya.
Investasi AI di wilayah Asia Pasifik, termasuk AI generatif, diproyeksikan mencapai 110 miliar dollar AS pada tahun 2028.
Dalam riset International Data Corporation 2024 bertajuk ”Worldwide AI and Generative AI Spending Guide”, investasi AI di wilayah Asia Pasifik, termasuk AI generatif, diproyeksikan mencapai 110 miliar dollar AS pada tahun 2028.
Mengutip riset dari firma konsultan manajemen global Kearney, penggunaan AI di Indonesia akan berkontribusi terhadap perekonomian sebesar 366 miliar dollar AS pada 2030.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/30/271e743f-ec99-4935-b54d-c98c1ff8583e_png.png)
Head of Enterprise Business Group StarHub Tan Kit Yong mengatakan, seiring dengan meningkatnya penggunaan AI di perusahaan telekomunikasi Asia Tenggara, StarHub mengintegrasikan kecerdasan buatan untuk membantu bisnis perusahaan bertransformasi dengan tepat.
StarHub telah didukung teknologi Cloud Infinity. Teknologi ini merupakan arsitektur modular berbasis platform yang dirancang untuk lingkungan digital. Ketika perusahaan telekomunikasi menghadapi tantangan untuk melakukan modernisasi, mengelola kompleksitas, dan melindungi data yang sensitif, Cloud Infinity membuat infrastruktur digital modern lebih mudah beradaptasi.
Desain modularnya memungkinkan interoperabilitas dengan seluruh sistem. Hal itu membuatnya lebih mudah mengantisipasi kebutuhan yang terus berkembang, menanggapi tantangan secara efektif, dan mendukung kesuksesan bisnis secara jangka panjang.
”Dengan AIOps (kecerdasan buatan untuk operasi IT) yang diintegrasikan ke seluruh infrastruktur jaringan dan alat manajemen layanan, kami siap membantu bisnis beralih dari reaktif ke prediktif, menetapkan skala dengan mulus, dan melakukan otomasi secara cerdas,” kata Tan Kit Yong.
Penulis:
Aguido AdriEditor:
Agnes TheodoraPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti