Kecerdasan buatan atau AI dapat mendorong transformasi industri pertambangan jadi lebih produktif, efisien, dan berkelanjutan. Namun, masih ada sejumlah tantangan.
24 Apr 2025 19:08 WIB · Ekonomi
JAKARTA, KOMPAS — Kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dapat mendorong transformasi industri pertambangan. Dengan teknologi itu, perusahaan bisa lebih produktif, efisien, serta berkelanjutan. Namun, infrastruktur dan sumber daya manusia menjadi tantangan.
”Teknologi AI sudah keharusan, termasuk di industri pertambangan. Dengan AI, (industri) lebih efisien dan produktif,” ujar Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Rosan Roeslani dalam acara Indonesia AI Day for Mining Industry 2025 di Jakarta, Kamis (24/4/2025).
Acara yang diinisiasi operator telekomunikasi seluler Indosat Ooredoo Hutchison ini menggali potensi penerapan teknologi digital di sektor pertambangan Indonesia. Kegiatan yang dihadiri ratusan peserta ini juga menampilkan sejumlah produk AI dan internet of things (IoT) untuk tambang.
Pemanfaatan AI di sektor pertambangan dapat membantu pemantauan alat-alat berat, mengidentifikasi kerusakan mesin, dan mengantisipasi kecelakaan di lokasi. Pekerjaan yang biasanya membutuhkan banyak tenaga kerja dan waktu lama pun menjadi lebih singkat dengan adopsi AI.
Data Microsoft dan World Economic Forum tahun 2024 mencatat, AI dapat mengurangi 20-30 persen waktu dan biaya eksplorasi mineral. AI juga bakal meningkatkan produktivitas dengan nilai 182-308 miliar dollar AS atau berkisar Rp 3 kuadriliun -Rp 5 kuadriliun (dengan asumsi 1 dollar AS sama dengan Rp 17.000).
Penerapan AI dalam mereduksi emisi juga dapat mendukung isu keberlanjutan. Apalagi, 60 persen sumber energi di Indonesia masih mengandalkan fosil. ”AI ini related (terhubung) dengan energi hijau. AI tidak bisa berdiri sendiri tanpa dukungan dari energi terbarukan,” tutur Rosan.
Menurut dia, transformasi industri pertambangan yang lebih produktif, efisien, dan berkelanjutan bakal berdampak pada pertumbuhan ekonomi. ”Dalam tiga tahun terakhir, kurang lebih 22-23 persen dari total investasi yang masuk ke Indonesia itu adalah hilirisasi sektor pertambangan,” katanya.
Realisasi investasi pada triwulan pertama tahun ini mencapai Rp 465,2 triliun atau sekitar 24,4 persen dari target investasi senilai Rp 1.905,6 triliun. Angka ini meningkat sekitar 15 persen dibandingkan dengan periode serupa tahun lalu. Adapun tenaga kerja yang terserap dari investasi kali ini mencapai 594.101 orang.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/24/f6ec0cf3-7c0b-4c45-bb9e-813735ad58d5_jpg.jpg)
Rosan tidak menyebutkan jumlah investasi dari industri pertambangan. Namun, sektor ini kerap menyumbang pada produk domestik bruto (PDB). Pada 2023 saja, kontribusi industri ini mencapai 10,5 persen pada PDB atau senilai Rp 2.198 triliun. ”Kontribusi sektor ini sangat besar,” ucapnya.
President Director and Chief Executive Officer Indosat Ooredoo Hutchison Vikram Sinha mengatakan, besarnya kontribusi sektor pertambangan pada PDB membuat Indosat merambah ke bisnis ini. Di sisi lainnya, industri ini menghadapi risiko keselamatan hingga isu lingkungan.
Dengan AI, kita bisa mendapat nilai yang lebih besar. Bukan dengan mengekstraksi lebih banyak, melainkan dengan mengekstraksi lebih baik.
Perusahaan pertambangan juga diminta memenuhi prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG). ”AI bisa menjawab berbagai tantangan itu. Dengan AI, kita bisa mendapat nilai yang lebih besar. Bukan dengan mengekstraksi lebih banyak, melainkan dengan mengekstraksi lebih baik,” ujar Vikram.
Adopsi AI di industri pertambangan, lanjutnya, dapat memberikan nilai tambah Rp 3 kuadriliun hingga satu dekade ke depan. Itu sebabnya, Indosat telah meluncurkan sejumlah produk AI dan IoT di sektor pertambangan, seperti kamera pemantau yang dapat mendukung keselamatan pekerja hingga jaringan 5G privat.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/24/20d4a43c-318e-4a66-9967-769e434da0ee_jpg.jpg)
Ketua Umum Indonesia Mining Association yang juga Presiden Direktur PT Amman Mineral Nusantara Rachmat Makkasau mengatakan, penerapan AI meningkatkan produktivitas sekaligus membuat operasionalisasi lebih efisien. Sejumlah perusahaan tambang pun mulai mengadopsinya.
”Di Amman, misalnya, sekitar 60 persen (operasional) sudah menerapkan digitalisasi. Beberapa (pekerjaan) bahkan otomatisasi, seperti pengambilan mineral, tembaga,” ungkap Rachmat. Pihaknya juga memanfaatkan AI untuk membantu operator tambang mengambil keputusan.
Meski demikian, penggunaan teknologi itu di sektor pertambangan masih menghadapi sejumlah tantangan. ”Mulai dari integrasi data dari berbagai sistem, kesiapan infrastruktur digital, hingga adopsi teknologi oleh tim di lapangan. Ini membutuhkan proses pembelajaran,” ungkapnya.
Menurut Rachmat, area pertambangan berada di daerah yang infrastrukturnya terbatas. Selain pasokan listrik, jaringan internet juga acap kali menjadi kendala. Teknologi jaringan generasi kelima (5G) dengan kecepatan lebih tinggi untuk mendukung IoT pun masih sulit diterapkan di daerah.
Rosan menambahkan, sumber daya manusia (SDM) turut menjadi tantangan dalam pengembangan AI di industri pertambangan. ”Indonesia sedang membangun (infrastruktur) untuk AI. Tapi, kalau penggunaan oleh manusianya atau SDM-nya, ini tidak maksimal, (adopsi AI) tidak optimal,” ujarnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/24/e1ee5b50-88e9-4c9c-b764-75e22e1ee888_jpg.jpg)
Pihaknya pun mendorong berbagai pemangku kebijakan untuk meningkatkan kapasitas para pekerja di area tambang sehingga bisa menerapkan teknologi AI. ”Pemerintah akan selalu mengeluarkan kebijakan yang mendorong penggunaan AI dan peningkatan kapasitas SDM,” ungkapnya.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria mengakui, SDM masih menjadi kendala dalam pengembangan AI di berbagai sektor di Indonesia. ”Kita punya gap yang lumayan besar terkait talenta digital. Kita kekurangan 3 juta talenta digital setiap tahunnya,” ungkapnya.
Pemerintah tengah menyiapkan peta jalan dan regulasi dalam pengembangan AI di Indonesia. Hal itu untuk membentuk ekosistem AI, termasuk menyiapkan SDM. ”Saat ini, kami sedang berdiskusi intens dengan sejumlah pemangku kebijakan untuk membuat peta jalan itu,” ucapnya.
Penulis:
Abdullah Fikri AshriEditor:
Aloysius Budi KurniawanPenyelaras Bahasa:
FX Sukoto