Pelaku usaha dan investor diyakinkan untuk tetap berinvestasi di Indonesia.
01 Sep 2025 13:06 WIB · Ekonomi & Bisnis
JAKARTA, KOMPAS — Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto bersama dengan pejabat Bursa Efek Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan menggelar konferensi pers di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, 1/9/2025). Mereka berusaha menenangkan pasar yang bereaksi negatif terhadap gejolak sosial-politik yang meluas dalam bebepara hari terakhir.
”Dengan fundamental ekonomi yang solid, pemerintah yakin dampak dari dinamika sosial dan politik yang terjadi terhadap ekonomi hanya bersifat jangka pendek dan kami harapkan akan membaik dengan segera,” kata Airlangga.
Hadir mendampingi Airlangga dalam kesempatan itu antara lain Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Inarno Djajadi, Direktur Utama BEI Iman Rachman, dan Jusuf Hamka sebagai perwakilan pengusaha.
Secara fundamental, Airlangga menjelaskan, Indonesia memiliki ketahanan yang solid dengan pertumbuhan ekonomi pada triwulan II-2025 sebesar 5,12 persen secara tahunan. Indikator utama seperti Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur yang sudah naik ke 51,5 di Agustus 2025. Ini berkat ekspansi output dan permintaan baru.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/08/31/1d67f8e1-8394-4662-94db-c7f379bb17c7_jpg.jpg)
Inflasi juga terkendali di 2,37 persen, diikuti nilai tukar rupiah yang relatif stabil di sekitar Rp 16.500 per dollar AS. Impor barang modal tumbuh 32,5 persen pada triwulan II-2025, sejalan dengan peningkatan belanja modal pemerintah.
Sepanjang semester II-2025, Airlangga melanjutkan, pemerintah menargetkan investasi dapat melampaui Rp 900 triliun. Proyeksi ini antara lain mengandaikan realisasi belanja negara triwulan III-2025 mencapai Rp 694 triliun.
Pemerintah juga memastikan stabilitas dan kekuatan fundamental di pasar keuangan, termasuk pasar modal. ”Dengan fundamental yang solid ini, dampak volatilitas jangka pendek tidak akan mengubah trajectory ekonomi kita yang positif,” katanya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/24/aba29f4bd12f71d6001e6809c02bca98-20250724hen_airlangga_hartarto.jpg)
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Inarno Djajadi, kepada wartawan seusai konferensi, menyambut baik sinergi dan dukungan pemerintah dalam menjaga perdagangan pasar modal tetap teratur, wajar, dan efisien. ”Kita lihat ternyata memang berdampak cukup positif,” ujarnya.
Inarno pun mengimbau investor untuk bijak dalam berinvestasi dan tidak mudah terpengaruh isu yang belum terbukti kebenarannya. ”Saya juga mengimbau para investor agar benar-benar bijak dalam berinvestasi, tidak berdasarkan rumor, tetapi pada fakta yang faktual. Itu yang penting dalam kondisi saat ini. Tetap percaya diri bahwa kita akan maju ke depan,” tuturnya.
Saya juga mengimbau para investor agar benar-benar bijak dalam berinvestasi, tidak berdasarkan rumor, tetapi pada fakta yang faktual.
Direktur Utama BEI Iman Rachman, pada acara sama, memastikan pasar modal memiliki fundamental yang baik. Di pasar saham, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat menyentuh level tertinggi sepanjang masa di 8.022 pada Rabu (27/8/2025). Pada pekan terakhir Agustus 2025, asing mencatatkan pembelian bersih senilai Rp 1,5 triliun.
Hal ini terjadi meski efek gejolak sosial dan politik di dalam negeri menurunkan capaian IHSG. Pada pembukaan bursa Senin (1/9/2025), IHSG sempat jatuh ke level 7.547. Namun, hingga akhir sesi pertama perdagangan hari ini, IHSG perlahan kembali naik ke level 7.770.
Kinerja IHSG, menurut Iman, ikut disokong masuknya beberapa emiten BEI di indeks saham perusahaan layanan keuangan global Morgan Stanley Capital International (MSCI) per Agustus 2025. Sentimen tersebut diperkirakan menyumbang arus masuk investor asing senilai Rp 90 miliar.
”Fundamental kita tetap bagus dan tidak berubah. Bahkan MSCI yang menambah emiten Indonesia, menunjukkan kepercayaan terhadap pasar kita tetap tinggi. Penurunan IHSG lebih pada persepsi investor asing,” kata Iman.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/01/de125c842a100f618395b1026c3f289f-20250901_095519.jpg)
Kompas mencatat, gejolak sosial politik muncul akibat ketidakadilan yang makin menganga. Persoalan ini kian kentara pada saat situasi perekonomian susah selama beberapa tahun terakhir. Beban ini terutama dirasakan masyarakat kelompok ekonomi bawah.
Dalam kondisi ini, sejumlah kebijakan pemerintah justru berisiko mempersulit perekonomian. Pada saat yang sama, para pejabat instansi negara, termasuk DPR, justru mengekspresikan perilaku yang tidak sensitif terhadap situasi rakyat.
Unjuk rasa pertama kalinya terjadi di Jakarta, Senin (25/8/2025). Saat itu, unjuk rasa dilakukan oleh buruh yang menuntut perbaikan kesejahteraan. Di antaranya adalah tuntutan mengenai penentuan upah minimum.
Pada hari-hari berikutnya, unjuk rasa berlanjut dan meluas. Selain di Jakarta, unjuk rasa juga berlangsung di kota-kota besar di Tanah Air, seperti Bandung, Yogyakarta, Solo, Surabaya, Malang, Medan, dan Makassar.
Situasi kian panas dengan jatuhnya sejumlah korban jiwa. Awalnya adalah Affan Kurniawan (21), pengemudi ojek daring. Ia meninggal akibat terlindas kendaraan taktis polisi di tengah unjuk rasa di Jakarta, Kamis (28/8/2025).
Pada hari berikutnya, korban-korban berjatuhan di sejumlah daerah lain. Sampai dengan Senin (1/9/2025), total korban meninggal dalam gelombang unjuk rasa dalam beberapa hari terakhir sudah mencapai tujuh orang.
Penulis:
Erika KurniaEditor:
FX Laksana Agung SaputraPenyelaras Bahasa:
Nur Adji