Respons Gejolak Mutakhir, Pasar Keuangan Bereaksi Negatif

IHSG diprediksi akan terkoreksi pada awal September karena tekanan domestik dan global.

01 Sep 2025 10:43 WIB · Ekonomi & Bisnis

Oleh Erika Kurnia

JAKARTA, KOMPAS — Merespons gejolak sosial-politik mutakhir, pasar keuangan bereaksi negatif. Gejala ini tecermin dari Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG yang dibuka melemah sekitar 3 persen pada Senin (1/9/2025). Jika kondisi tak kunjung stabil di sejumlah daerah di Indonesia, tekanan akan berlanjut di pasar saham.

IHSG dibuka di level 7.620 setelah pada perdagangan Jumat (29/8/2025) ditutup di level 7.830. Pada beberapa menit pertama setelah dibuka, IHSG sempat anjlok lebih dari 3 persen ke level 7.547. Beberapa saham yang menyumbang penurunan, antara lain, PT Bank Central Asia Tbk, PT Bank Mandiri Persero Tbk, dan PT Bank Rakyat Indonesia Persero Tbk.

Quote

Meskipun pada Jumat kemarin masih terlihat aliran dana asing masuk cukup besar di IHSG, tidak tertutup kemungkinan mereka balik arah, khususnya karena efek ketidakpastian politik dalam negeri.

Pada beberapa hari perdagangan jelang akhir pekan lalu, IHSG juga sempat anjlok cukup dalam, sekitar 2 persen, karena faktor global dan efek ketidakpastian kondisi politik dalam negeri. Ini membuat IHSG pada periode 25-29 Agustus 2025 melemah 0,36 persen dibandingkan pekan sebelumnya.

IHSG sempat menyentuh level tertinggi, yaitu 8.023 pada 28 Agustus 2025. Investor asing tercatat melakukan pembelian (inflow) senilai Rp 1,3 triliun di pasar reguler.

”Meskipun pada Jumat kemarin masih terlihat aliran dana asing masuk cukup besar di IHSG, tidak tertutup kemungkinan mereka balik arah, khususnya karena efek ketidakpastian politik dalam negeri,” kata Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), David Kurniawan, dalam keterangan tertulis.

Papan LED menampilkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Main Hall Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (1/9/2025). IHSG dibuka melemah sekitar 3 persen setelah rentetan aksi unjuk rasa terhadap DPR dan Kepolisian dan gejolak sosial masyarakat di berbagai wilayah di Indonesia.

Pada 1-5 September 2025, menurut David, pasar akan fokus pada sentimen kunci, yakni aksi protes dan gejolak pasar domestik. Ia pun memproyeksi IHSG cenderung melemah dalam sepekan ini sembari menanti pernyataan otoritas, Bank Indonesia (BI), Bursa Efek Indonesia (BEI), dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk menenangkan pasar keuangan.

”Demonstrasi mahasiswa dan pekerja mengenai gaji DPR, dana pendidikan, dan program makan sekolah berujung pada penurunan IHSG lebih dari 2 persen dan pelemahan rupiah hampir 1 persen. Bank Indonesia dan pengawas bursa perlu turun tangan untuk stabilisasi,” tuturnya.

Dari domestik, menurut David, juga masih ada sentimen kepercayaan konsumen yang naik sedikit. Indeks Keyakinan Konsumen oleh BI per Juli naik ke 118,1 dari 117,8 pada Juni. Sub-indeks ekspektasi menunjukkan perbaikan didorong oleh harapan peningkatan pendapatan dan peluang kerja.

Sementara dari sisi sentimen luar negeri, David melanjutkan, ada aliran dana global yang melambat dan investor yang berhati-hati terkait independensi Federal Reserve AS (The Fed) setelah Presiden Trump berupaya memecat Gubernur The Fed. Alhasil, inflow ke dana ekuitas global menjadi turun.

Hal tersebut mendorong investor mencari perlindungan lewat emas. Harga emas spot melonjak saat ini hingga 3.448,5 dollar AS per troy ons, mencatat rekor tertinggi sepanjang sejarah.

Dengan proyekai tersebut, trader atau pelaku perdagangan jangka pendek dan investor harus mencermati level support penting IHSG di 7.700-7.800.

Pergerakan saham terpantau dari monitor elektronik di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (8/7/2025). Pergerakan indeks pasar saham cenderung stabil saat Presiden Amerika Serikat Donald Trump merilis tarif baru pada beberapa mitra dagangnya, termasuk Indonesia, pada Selasa pagi WIB.

Terkoreksi

Pilarmas Investindo Sekuritas juga meramal pergerakan IHSG di awal September akan bergerak dengan level support 7.600. Analisisnya, kinerja IHSG secara umum masih akan diwarnai sejumlah tantangan.

Meski secara statistik IHSG pada September bergerak positif dalam kurun waktu 15 tahun dan 20 tahun terakhir, probabilitas IHSG untuk menguat masih sangat minim, bahkan cenderung terkoreksi.

”Ditambah lagi situasi dan kondisi yang ada, baik dari global maupun dari dalam negeri,” kata Tim Analis Phintraco Sekuritas.

Quote

Imbal hasil obligasi berpotensi mengalami kenaikan sebagai akibat dari kenaikan risiko yang terjadi.

Saat ini, menurut mereka, situasi dan kondisi dalam negeri belum cukup kondusif sehingga berpotensi memberikan tekanan terhadap IHSG dan pasar obligasi secara jangka pendek. Imbal hasil obligasi berpotensi mengalami kenaikan sebagai akibat dari kenaikan risiko yang terjadi.

Presiden Prabowo Subianto telah menggelar pertemuan dengan pimpinan partai politik, DPR, MPR, dan DPD di Istana Kepresidenan pada Minggu (31/8/2025) sebagai respons atas unjuk rasa beberapa hari terakhir. Langkah ini diharapkan meredam gejolak sosial domestik belakangan.

Pertemuan tersebut menyepakati pencabutan sejumlah kebijakan DPR yang kontroversial. Di antaranya, penghapusan sebagian tunjangan anggota DPR dan moratorium kunjungan kerja anggota DPR ke luar negeri.

Pengendara sepeda motor melintasi mural duka cita untuk pengemudi ojek daring Affan Kurniawan di Kota Bekasi, Jawa Barat, Senin (1/9/2025). Affan Kurniawan tewas dilindas kendaraan taktis Brimob saat unjuk rasa di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat, Kamis (28/8/2025).

KOMPAS/AGUS SUSANTO
1-9-2025

Di sisi lain, investor akan menyoroti faktor ekonomi global. Salah satunya adalah probabilitas pemangkasan tingkat suku bunga di Amerika Serikat pada September 2025. Sementara proyeksi inflasi setahun di negara itu turun dari 4,9 persen ke 4,8 persen. Proyeksi inflasi 5-10 tahun turun dari 3,9 persen ke 3,5 persen.

US Real Personal Spending Expenditure (PCE) sebagai ukuran belanja konsumen di Amerika Serikat telah disesuaikan dengan inflasi yang naik, dari 0,1 persen menjadi 0,3 persen. Perubahan Real PCE memberikan sinyal tentang kekuatan daya beli konsumen, tren inflasi, dan arah pertumbuhan ekonomi.

Core PCE Price Index bulanan yang tidak berubah di 0,3 persen, tetapi secara tahunan naik dari 2,8 persen ke 2,9 persen, menjadi catatan. Sebab, ini berpotensi menurunkan peluang pemangkasan tingkat suku bunga The Fed.

Presiden Prabowo Subianto bersama presiden kelima sekaligus Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri (kanan) dan Ketua MPR Ahmad Muzani memberikan keterangan pers setelah pertemuan di Istana Merdeka, Jakarta, Minggu (31/8/2025). Prabowo memerintahkan kepada kepolisian dan TNI untuk mengambil tindakan yang setegas-tegasnya terhadap segala macam bentuk pengrusakan fasilitas umum, penjarahan terhadap rumah individu ataupun tempat-tempat umum atau sentra-sentra ekonomi sesuai dengan hukum yang berlaku. Ia menambahkan kepada seluruh masyarakat, dipersilahkan menyampaikam aspirasi yang murni dan tuntutan yang baik dan dengan damai. Pemerintah memastikan akan didengar, akan dicatat, dan akan ditindaklanjuti. Kompas/Hendra A Setyawan

Prediksi lain yang lebih mengkhawatirkan adalah level pengangguran di AS diproyeksikan kembali naik dari sebelumnya 4,2 persen menjadi 4,3 persen. Otoritas terkait akan merilis datanya per 5 September 2025.

Hal ini akan memberikan tekanan bagi pasar. Namun, ini juga memiliki sisi positif dengan adanya peluang yang lebih besar bagi The Fed untuk menurunkan tingkat suku bunga pada September 2025.

IHSG berpotensi untuk mengalami koreksi. Namun, Pilarmas Investindo Sekuritas menilai, ini akan menjadi saat yang tepat untuk mulai melakukan akumulasi ketika harga berhasil menyentuh di level yang cukup rendah.

Apalagi, beberapa saham juga sudah mengalami kenaikan cukup tinggi kemarin. Dengan demikian, situasi membutuhkan koreksi agar investor bisa masuk.

”Setiap gejolak yang ada dapat memicu volatilitas di pasar. Adanya potensi peralihan dari saham menjadi obligasi juga merupakan opsi yang terbuka bagi pelaku pasar dan investor yang ingin mencari tempat yang lebih aman untuk menghindari koreksi. Situasi dan kondisi hari ini akan menjadi penentu arah pasar,” tutur mereka.


Kerabat Kerja

Penulis:

Erika Kurnia
 | 

Editor:

FX Laksana Agung Saputra
 | 

Penyelaras Bahasa:

Galih Rudanto