Akal Imitasi Menginvasi Jagat Hiburan

Penciptaan film dan musik makin lekat dengan bantuan akal imitasi. Hollywood bahkan menganugerahi piala. Apa ini yang kita inginkan?

09 Mar 2025 04:02 WIB · Hiburan

Oleh Herlambang Jaluardi, Sekar Gandhawangi

Penggunaan akal imitasi (artificial intelligence/AI) seolah menjadi keniscayaan di industri kreatif. Maklum, AI efisien dari segi ongkos dan waktu, super canggih pula. Rumusnya, imajinasi dan keterampilan manusia, ditambah bantuan AI, mewujud jadi karya, lantas dianugerahi piala pula.

Film The Brutalist (2024) karya sutradara Brady Corbet adalah salah satu karya film yang pakai AI tersebut. Teknologi ini digunakan untuk menyempurnakan aksen Hongaria yang diucapkan para aktor utama selama shooting. Para aktor setuju dengan metode ini.

Editor film ini, Dávid Jancsó, mengatakan bahwa mereka menggunakan Respeecher untuk memoles aksen para aktor, yakni Adrien Brody dan Felicity Jones. Respeecher adalah perangkat lunak buatan Ukraina yang dapat mengubah teks menjadi suara atau sebaliknya. Pengguna dapat memproduksi dialog lisan sesuai pengaturan yang diinginkan, antara lain usia, jenis kelamin, nada suara, gaya bertutur, bahkan bahasa.

Proses penyuntingan logat The Brutalist dimulai dengan merekam suara Brody dan Jones. Jancsó yang juga orang Hongaria lalu memasukkan suaranya sebagai panduan bagi AI, khususnya untuk menyempurnakan dialek yang rumit.

US actor Adrien Brody poses in the press room with the Oscar for Best Actor in a Leading Role for "The Brutalist" during the 97th Annual Academy Awards at the Dolby Theatre in Hollywood, California on March 2, 2025. (Photo by Frederic J. Brown / AFP)

Menurut Jancsó, bahasa Hongaria merupakan salah satu bahasa yang pelafalannya paling sulit. Para aktor telah berlatih dan hasilnya bagus, tapi pembuat film memutuskan untuk memoles lagi hasilnya.

”Bahkan dengan latar belakang Adrien (Brody) yang berasal dari Hongaria, itu tidak mudah. Ini adalah bahasa yang amat unik. Kami berlatih (Brody dan Jones) dan mereka tampil luar biasa, tapi kami ingin menyempurnakannya sehingga warga lokal (Hongaria) pun tidak akan menyadari perbedaannya,” kata Jancsó pada Red Shark News.

Adapun The Brutalist bercerita tentang arsitek Eropa yang bermigrasi ke Amerika Serikat setelah perang meletus. Film ini menuai prestasi di sejumlah ajang penghargaan global. Pada Golden Globe Awards 2025, The Brutalist merebut tiga piala di kategori Sutradara Terbaik, Aktor Terbaik, dan Film Terbaik.

Quote

Membicarakan AI di industri ini kontroversial, tapi seharusnya tidak begitu. Kita harus berdiskusi secara terbuka tentang apa yang bisa ditawarkan AI pada kita.

Film berdurasi 3,5 jam ini juga menduduki 10 nominasi di Academy Awards 2025, beberapa di antaranya nominasi bergengsi. Ada tiga Piala Oscar yang berhasil diraih di kategori Aktor Terbaik, Sinematografi Terbaik, dan Musik Orisinal Terbaik. Untungnya tidak ada kategori ”aksen terbaik” di ajang ini.

Menariknya, walau The Brutalist menggunakan AI yang notabene teknologi termutakhir, film ini juga menggunakan teknologi lawas. The Brutalist direkam dengan pita seluloid 35 milimeter dengan format VistaVision, yakni format layar lebar yang diciptakan pada tahun 1950-an.

”Membicarakan AI di industri ini kontroversial, tapi seharusnya tidak begitu,” kata Jancsó. ”Kita harus berdiskusi secara terbuka tentang apa yang bisa ditawarkan AI pada kita.”

Adriana Paz, from left, Edgar Ramirez, Selena Gomez, Jacques Audiard, Karla Sofia Gascon, and Zoe Saldana pose in the press room with the award for best motion picture - musical or comedy for "Emilia Perez" during the 82nd Golden Globes on Sunday, Jan. 5, 2025, at the Beverly Hilton in Beverly Hills, Calif.

Adapun Emilia Pérez (2024) adalah film selanjutnya yang menggunakan AI untuk memperluas jangkauan nada aktor Karla Sofía Gascón saat bernyanyi. Mengutip The Guardian, proses ini menggunakan Respeecher.

Pembuat film ”meminjam” kemampuan AI untuk memadukan suara Gascón dengan suara penyanyi Perancis sekaligus salah satu penulis musik di film ini, Camille. Hal ini disampaikan mixer rekaman Emilia Pérez, yaitu Cyril Holtz, pada sebuah wawancara di Festival Film Cannes.

Emilia Pérez yang menceritakan transisi identitas jender seorang bos kartel narkoba ini mendapat banyak sorotan. Film ini berjaya di Golden Globes dengan empat piala serta dua Piala Oscar. Empat aktor dalam film ini juga pernah mendapat penghargaan di Festival Film Cannes 2024.

Alat bantu

Menurut pemikir sosial dan kebudayaan Yasraf Amir Piliang, AI sejauh ini masih berfungsi sebagai alat bantu untuk berkarya. Peran manusia tetap sentral karena AI masih bergantung pada prompt atau instruksi dari manusia.

Instruksi ini bermula dari gagasan dan kreativitas manusia. Dua hal ini tidak dimiliki AI. Itu sebabnya, sentuhan manusia tetap penting.

Quote

Menurut saya, dalam karya seni apa pun, gagasan harus ada dulu. AI selanjutnya sangat berguna untuk menyempurnakan, misalnya suara aktor kurang pas dengan karakter lalu AI digunakan. Itu oke-oke saja.

”Selama AI digunakan sebagai tools, bukan persoalan. Asal (AI) bukan kreator. Kreator butuh ide awal,” ucap Yasraf yang juga Guru Besar Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung (ITB), Kamis (6/3/2025).

”Menurut saya, dalam karya seni apa pun, gagasan harus ada dulu. AI selanjutnya sangat berguna untuk menyempurnakan, misalnya suara aktor kurang pas dengan karakter lalu AI digunakan. Itu oke-oke saja,” sambungnya.

Hal serupa dilakukan sutradara Robert Zemeckis pada film Here (2024) yang dibintangi Tom Hanks. Here menceritakan perubahan dunia dari masa dinosaurus sampai masa modern melalui sebuah ruang tamu. Hanks, kini berusia 68 tahun, muncul dalam wujud muda. Ini berkat polesan AI.

Menurut Zemeckis, peran manusia tetap penting dalam produksi film. AI tidak bisa menandingi naskah film dari buah pikiran manusia. ”Menurut saya, ada aspek seni dalam film yang bisa dikerjakan perangkat kecerdasan buatan, tapi tetap menghasilkan karya yang dapat dinikmati,” katanya pada AP.

”Menghidupkan” Lennon

Kejutan besar terjadi pada perhelatan Grammy Awards Ke-67 awal Februari silam. Lagu ”Now and Then” dari The Beatles—band yang sudah bubar lima dekade lalu—memenangi kategori Best Rock Performance. Ia juga jadi nomine di kategori bergengsi Record of the Year. Berdasarkan catatan Billboard, ini adalah lagu dengan bantuan AI pertama yang masuk nominasi Grammy, dan akhirnya menang menyisihkan band rock organik seperti Green Day dan Pearl Jam.

Lagu pop sendu ini bersumber dari demo John Lennon yang ia rekam dengan iringan piano pada pita beberapa tahun sebelum tewas ditembak penggemarnya 8 Desember 1980. Setelah kematiannya, istri Lennon, Yoko Ono, menyerahkan demo ini kepada anggota Beatles lainnya.

Sebagian bahan demo ”dimasak” secara analog menjadi lagu ”Free as A Bird” dan ”Real Love” dalam proyek The Beatles Anthology keluaran 1995. Lagu ”Now and Then”, ketika itu, sulit direparasi karena suara desis terlalu keras, dan vokal Lennon samar menyatu dengan bunyi piano.

Sutradara film Peter Jackson menjadi penyelamat. Dengan perangkat lunak yang dilengkapi AI, Jackson dan tim audionya berhasil mengisolasi suara Lennon. Vokalnya bening betul. Dua Beatles tersisa, Ringo Starr dan Paul McCartney, jadi punya garapan baru, yang mereka sebut sebagai karya terakhir The Beatles. Ringo mengisi drum. McCartney mengisi bas.

Vokal Lennon dipertebal dengan vokal Ringo dan McCartney. Gitaris George Harrison, yang meninggal 2001, juga kebagian ”peran”. Isian gitarnya yang sempat direkam pada sesi ”Free as A Bird” membuat ”Now and Then” makin melodius. Iringan orkestra membuat lagu ini terasa utuh. Sah jika menyebut ini sebagai lagu The Beatles yang direkam di abad ke-21.

Lagu ”Now and Then” dirilis sebagai singel pada November 2023. Kontroversi merebak tentang penggunaan AI dalam karya musik, dan sejauh mana karya itu bisa memenangi penghargaan. Mengutip BBC, penyelenggara Grammy kukuh menyatakan bahwa ”hanya kreator manusia” yang bisa memenangi Grammy, dan ”komponen kekaryaan manusia pada karya terkait harus memiliki makna”.

Pada kasus ”Now and Then”, unsur kekaryaan manusia—seluruh personel terlibat—memaklumkan pilihan para juri Grammy. Lagu itu juga bisa memberi dampak pada sejarah musik, ketika demo lama bisa diolah oleh kreativitas manusia dengan bantuan teknologi modern. Tapi sebagian kalangan masih skeptis pada hal ini.

Damon Albarn berinteraksi dengan penonton yang memadati gedung pertunjukan Shakespeare's The Globe, London, Inggris, pada Selasa (21/9/2021) dini hari waktu Indonesia barat. Konser berdurasi sekitar dua jam itu berisi lagu-lagu lama ciptaan Albarn yang tersebar untuk band Blur, Gorrilaz, juga The Good, the Bad, & the Queen, serta mengenalkan lagu baru yang akan menjadi album solo kedua Albarn.

Pentolan band Blur, Damon Albarn, termasuk yang skeptis. Dia meragukan lagu itu tak semestinya beredar. ”Itu adalah lagu yang dinyanyikan John (Lennon) sendirian di rumahnya. Menurutku, lagu itu mungkin tidak dimaksudkan untuk mencapai level eksposur sebesar ini,” katanya kepada Far Out Magazine.

Sebelumnya, Albarn menganggap teknologi AI pada musik adalah hal yang absurd. Dia menyoroti fenomena orang-orang bernyanyi dengan mode suara AI menyerupai Frank Sinatra atau Michael Buble di internet. ”Jika AI adalah masa depan musik, kita perlu obat lebih kuat untuk menikmatinya,” ujar Albarn yang terbilang akrab dengan teknologi di proyek Gorillaz.

Konflik

Pada akhir Februari lalu, Albarn, bersama Kate Bush, Annie Lennox, Cat Stevens, The Clash, Hans Zimmer, dan seribuan musisi lain merilis album kompilasi berjudul Is This What We Want? Album berdurasi 47 menit itu nirsuara, umumnya white noise saja. Gerakan ini menuntut pemerintah Inggris agar mempertimbangkan undang-undang yang mengizinkan perusahaan AI menggunakan lagu yang telah dipatenkan tanpa persetujuan penciptanya.

Di sisi lain, keberadaan AI juga dianggap sebagai ancaman di industri perfilman. Konflik antara AI dan manusia sempat meletus di Hollywood pada 2023. AI jadi salah satu alasan ribuan penulis naskah yang tergabung dalam Serikat Penulis AS (WGA) mogok kerja selama 148 hari. Aksi ini dimulai pada Mei 2023 atau lima bulan setelah aplikasi AI ChatGPT rilis.

Para penulis resah setelah studio-studio di Hollywood menulis ulang naskah dengan bantuan AI. Mereka menuntut agar AI hanya digunakan untuk riset, bukan menulis naskah secara menyeluruh. AI pun tak bisa disebut sebagai penulis, melainkan perangkat bantuan.

Quote

Tanpa standar, penggunaan AI generatif mengancam perubahan sejarah.

Aliansi Produser Arsip (Archival Producers Alliance/APA) juga memprotes penggunaan AI generatif dalam ranah pengarsipan dan film dokumenter. Padahal, arsip, apalagi yang dipakai dalam film dokumenter, harusnya bukan hasil fabrikasi AI, melainkan berbasis fakta. Mereka terikat pada kode etik jurnalistik. Kepercayaan publik dipertaruhkan.

”Tanpa standar, penggunaan AI generatif mengancam perubahan sejarah,” tulis APA dalam surat protes mereka yang ditandatangani 133 dokumenteris.

Akal imitasi atau kecerdasan buatan sejatinya adalah bikinan manusia juga. Pertarungan AI dan manusia lama-lama seperti kisah Frankenstein yang mengancam penciptanya sendiri. Sepertinya manusia belum siap, bahkan tak pantas, bermain Tuhan.


Kerabat Kerja

Penulis:

Herlambang Jaluardi, Sekar Gandhawangi
 | 

Editor:

Dwi AS Setianingsih, Moh. Hilmi Faiq