Akankah Aturan ”Off-side” Hukum Wenger Berlaku?

FIFA membuka kemungkinan terwujudnya proposal aturan ”off-side” yang disebut Hukum Wenger. Proposal itu akan dibahas Januari 2026.

02 Jan 2026 17:21 WIB · Olahraga

AP Photo/Kirsty Wigglesworth

Oleh I Gusti Agung Bagus Angga Putra

Memasuki 2026, artinya ada satu agenda penting sepak bola, selain Piala Dunia, yang akan berlangsung. Tahun ini aturan off-side berpotensi berubah menyusul wacana FIFA membahas proposal Hukum Wenger. Pembahasan akan berlangsung pada pertemuan tahunan Dewan Asosiasi Sepak Bola Internasional (IFAB) di London, Inggris, pertengahan bulan ini.

Setelah lama menjadi wacana, potensi perubahan aturan off-side kini menapaki babak baru. Pemicunya adalah komentar Presiden FIFA Gianni Infantino pada Pertemuan Olahraga Dunia di Dubai, Uni Emirat Arab, yang mengatakan bahwa pihaknya kemungkinan akan mempelajari ulang aturan off-side.

”Di masa mendatang, penyerang mungkin harus berada sepenuhnya di depan bek agar dianggap off-side,” kata Infantino, dikutip dari Bein Sport.

Infografik Perubahan Aturan Off-side Sepak Bola

Apa yang diucapkan Infantino merupakan poin utama proposal aturan off-side yang diajukan mantan Manajer Arsenal, Arsene Wenger, yang kini menjabat Kepala Pengembangan Sepak Bola Global FIFA. Aturan off-side yang berlaku sekarang menyebutkan seorang pemain dinyatakan off-side saat ada bagian tubuhnya, kecuali tangan dan lengan, berada lebih dekat dengan gawang dibandingkan bola dan pemain terakhir.

Aturan off-side itu memicu perdebatan panjang, terutama pada kasus gol Harry Kane dan Kylian Mbappe. Kedua penyerang papan atas Eropa itu pernah mendapati golnya dianulir akibat bagian tubuh mereka hanya berjarak sepersekian milimeter di depan garis off-side.

Sejak 2019, Wenger mengajukan proposal aturan off-side baru. Proposal itu lebih dikenal sebagai Hukum Wenger. Inti aturan off-side dalam Hukum Wenger adalah pemain baru bisa dinyatakan offside jika semua anggota tubuh mereka melewati garis off-side.

The big screen displays the news of an offside so disallowing a goal from Tottenham Hotspur's Brazilian striker #09 Richarlison during the English Premier League football match between Crystal Palace and Tottenham Hotspur at Selhurst Park in south London on December 28, 2025. (Photo by Glyn KIRK / AFP) / RESTRICTED TO EDITORIAL USE. No use with unauthorized audio, video, data, fixture lists, club/league logos or 'live' services. Online in-match use limited to 120 images. An additional 40 images may be used in extra time. No video emulation. Social media in-match use limited to 120 images. An additional 40 images may be used in extra time. No use in betting publications, games or single club/league/player publications. /

Sekalipun sebagian kecil tubuh penyerang tetap sejajar dengan bek, mereka tidak akan dianggap off-side. Itu karena garis off-side akan terpampang di antara penyerang dan bek terakhir.

”Saya ingin tidak ada off-side selama bagian tubuh Anda yang dapat digunakan untuk mencetak gol berada pada garis yang sama dengan bek,” kata Wenger saat menyampaikan proposal tersebut.

Wenger yakin aturan off-side lama akan mengembalikan segenap keuntungan penyerang yang banyak terkikis akibat diterapkannya asisten wasit video (VAR). Perubahan terhadap aturan off-side pernah dilakukan setelah Piala Dunia 1990. Sebelum dan sepanjang turnamen itu, seorang pemain dianggap off-side jika posisinya sejajar dengan pemain bertahan terakhir sebelum penjaga gawang, sama seperti saat ini.

Akibatnya, produktivitas gol pada Piala Dunia 1990 menjadi seret. Aturan off-side yang teramat rigid itu membelenggu ketajaman para penyerang. Terbukti, pada 1990, rata-rata tercipta 2,21 gol per pertandingan, yang merupakan angka terendah dalam sejarah Piala Dunia.

Real Madrid's English midfielder #05 Jude Bellingham scores a goal, eventually disallowed for offside, during the Spanish league football match between Real Madrid CF and FC Barcelona at the Santiago Bernabeu stadium in Madrid on October 26 , 2025. (Photo by Javier SORIANO / AFP)

Proposal yang diajukan Wenger bertujuan agar sepak bola berjalan lebih menyerang sehingga akan tercipta banyak gol. Dari sana sepak bola akan lebih menghibur secara permainan.

”Dalam situasi ragu, keraguan itu menguntungkan sang striker. Artinya, ketika ada sedikit peluang, sang striker memang mendapatkan keuntungan (mencetak gol). Dengan adanya VAR, keuntungan ini hilang dan bagi banyak orang hal ini membuat frustrasi,” ujar Wenger.

Sumber-sumber yang dekat dengan proses pembahasan aturan off-side ”versi Wenger”, termasuk laporan dari media Spanyol, Diario AS, menunjukkan tanda-tanda bahwa persetujuan sangat mungkin terjadi jika rancangan proposal tersebut lolos ke pembahasan pertemuan tahunan IFAB. Dengan begitu, implementasi aturan paling cepat kemungkinan terlaksana pada musim 2026-2027.

FIFA menyampaikan, setiap potensi perubahan aturan akan menjalani pengujian ekstensif sebelum diadopsi secara resmi, dengan tujuan utama untuk membantu wasit dalam membuat keputusan yang lebih akurat.

Sebelumnya, aturan off-side Wenger telah diuji coba pada kompetisi usia muda di Italia dan Swedia. Hasilnya positif. Ini menunjukkan kelayakan aturan off-side Wenger dalam meningkatkan produktivitas gol serta penghentian pertandingan akibat gol yang dianulir yang kerap menimbulkan kontroversi. (BBC)


Kerabat Kerja

Penulis:

I Gusti Agung Bagus Angga Putra
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji