Debat Kusir Piala Dunia Antarklub, Klopp Versus Wenger

Perdebatan tentang manfaat Piala Dunia Antarklub 2025 telah memasuki babak baru. Setelah Klopp mengkritik turnamen, Wenger membela dengan konteks lebih luas.

13 Jul 2025 15:38 WIB · Olahraga

Oleh Kelvin Hianusa

Arsene Wenger dan Juergen Klopp, dua pelatih legendaris Liga Inggris, sudah melewati masa-masa beradu taktik di lapangan. Namun, setelah berhenti melatih, rivalitas mereka justru memanas lagi akibat perang opini. Keduanya berselisih pendapat soal Piala Dunia Antarklub 2025.

Klopp, mantan manajer Liverpool, sempat mengkritik Piala Dunia yang datang dengan format turnamen penuh untuk pertama kali pada musim panas ini. Menurut dia, itu adalah ide terburuk yang pernah muncul dalam sejarah sepak bola. Kesejahteraan pemain dikhawatirkan terganggu.

Wenger, sebagai kepala pengembangan sepak bola global FIFA, membela keberlangsungan turnamen. ”Saya akan memberikan jawaban membosankan untuk pertanyaan yang menarik. Semua berhak beropini, tetapi saya tidak setuju dengan pandangan Klopp,” ujarnya pada Jumat (11/7/2025).

”Saya merasa Piala Dunia Antarklub seperti ini yang benar-benar dibutuhkan. Jika Anda bertanya hari ini kepada semua klub yang hadir di kompetisi ini, saya yakin 100 persen mereka ingin melakukannya lagi (berkompetisi). Pada dasarnya, itu adalah jawaban terbaik,” lanjut mantan manajer Arsenal itu.

Format Piala Dunia telah berubah drastis. Biasanya turnamen digelar setiap tahun dengan tujuh peserta dari enam konfederasi. Klub-klub perwakilan Eropa, seperti Manchester di edisi 2023, hanya butuh dua laga untuk menjuarai kompetisi yang berlangsung pada pertengahan musim itu.

LONDON, ENGLAND - MAY 27: Arsene Wenger, Manager of Arsenal and his players celebrate after The Emirates FA Cup Final between Arsenal and Chelsea at Wembley Stadium on May 27, 2017 in London, England. (Photo by Laurence Griffiths/Getty Images)

Turnamen tahun ini berlangsung dengan 32 tim. Kompetisi berlangsung selama sebulan penuh. Setiap tim memainkan tiga laga di babak grup. Jika lolos, mereka akan memulai perjalanan dari 16 besar. Artinya, butuh tujuh laga untuk juara. Bedanya turnamen digelar empat tahun sekali.

Klopp sangat khawatir karena turnamen itu akan mengurangi waktu istirahat pemain. Para pemain di Eropa dan Amerika Selatan biasanya bisa beristirahat di musim panas setiap dua tahun sekali. Di tahun ganjil, tidak ada turnamen seperti Piala Dunia ataupun Piala Eropa dan Copa America.

Berbeda dengan saat ini. ”Tahun lalu ada Copa dan Piala Eropa, tahun ini Piala Dunia Antraklub, dan tahun depan Piala Dunia. Itu berarti tidak ada pemulihan yang berarti bagi pemain, baik fisik maupun mental. Tanpa jeda yang cukup, pemain berisiko cedera dan kualitas permainan akan menurun,” kata Klopp dalam wawancara dengan media Jerman Welt am Sonntag.

Debat kusir

Opini Wenger sama sekali tidak salah. Jika waktu bisa diputar, klub-klub peserta pasti akan memilih untuk tampil lagi. Uang menjadi salah satu faktor utama. Paris Saint-Germain dan Chelsea, misalnya. Kedua finalis itu sudah mendapatkan lebih dari 100 juta dollar AS dalam kurang dari sebulan.

Klub Brasil Fluminense bahkan bisa membawa pulang 60 juta dollar AS dengan pencapaian masuk empat besar. Hadiah kompetisi itu sudah lebih dari separuh total nilai skuad mereka yang hanya sekitar 100 juta dollar AS. Dari sisi finansial, turnamen itu memang sangat menguntungkan.

Dalam skala global, mayoritas pemain juga pasti tidak keberatan untuk tampil. Terutama dari luar Eropa. Para pemain dari klub-klub Benua Amerika ataupun Asia berkesempatan melawan tim-tim besar Eropa. Apalagi, liga-liga di luar Eropa masih aktif berkompetisi.

Sudut pandang Wenger berbeda dengan Klopp. Saat Wenger fokus ke kebutuhan klub, penonton, dan pemain secara global, Klopp lebih mengutamakan kesejahteraan pemain. Khususnya, para pemain dari klub-klub Eropa yang merupakan kiblat sepak bola dunia.

Lihat saja skuad PSG saat ini. Tepat sebulan setelah final Piala Dunia Antarklub pada Senin (14/7/2025) dini hari WIB nanti, mereka sudah harus menghadapi Tottenham Hotspur dalam perebutan trofi Piala Super Eropa pada pertengahan Agustus. Lalu, kapan waktu mereka beristirahat?

Pemain bintang Bayern Muenchen Jamal Musiala sedang dirawat oleh tim medis setelah bertabrakan dengan kiper PSG Gianluigi Donnarumma dalam perempat final Piala Dunia Antarklub di Stadion Mercedes-Benz, Atlanta, Minggu (6/7/2025) WIB. Musiala mengalami cedera horor di engkel. Para pemain lain terlihat khawatir dengan kondisi Musiala, termasuk Donnarumma yang sempat menangis.

Klub-klub lain yang tidak ikut serta ke Piala Dunia, seperti Tottenham, sudah beristirahat sejak akhir Mei. Mereka bahkan sudah memulai latihan pramusim pada awal pekan ini. Pada akhirnya, waktu istirahat skuad PSG akan dipangkas karena harus berlatih kembali sebelum musim baru.

Rekomendasi dari Federasi Internasional Pesepak Bola Profesional (Fifpro) terkait perlindungan pemain semakin mustahil dijalankan. Mereka merekomendasikan agar pemain mendapat waktu istirahat selama empat pekan dan waktu berlatih selama empat pekan sebelum musim baru. Artinya terdapat jeda sekitar dua bulan antarmusim.

Isu kesejahteraan sudah menjadi perhatian serius bagi pemain. Gelandang Manchester City Rodri sempat berkata pada September 2024, para pemain sudah sangat dekat untuk membentuk gerakan protes terkait jadwal padat. Ironisnya, Rodri menjadi korban cedera serius hanya sepekan seusai pernyataan itu.

Alhasil, opini siapa yang lebih benar di antara Wenger atau Klopp? Jawabannya sulit ditemukan. Kedua sosok itu memiliki poin yang valid untuk prioritas masing-masing. Jika diadukan, itu hanya akan menjadi debat kusir yang tidak pernah berujung.

Hanya, tanda tanya besar tertuju kepada Wenger. Beberapa tahun lalu, setelah menjadi bagian dari FIFA, dia juga sempat mengeluarkan ide absurd untuk menggelar Piala Dunia setiap dua tahun.

Pertanyaannya, apakah Wenger akan datang dengan pola pikir serupa jika masih berstatus sebagai pelatih? Rasanya tidak. (AP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Kelvin Hianusa
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase