Akankah Tarif Trump Berdampak pada Piala Dunia dan Olimpiade?

Amerika Serikat akan jadi tuan rumah Piala Dunia 2026 dan Olimpiade 2028. Timbul pertanyaan dampak tarif Trump terhadap penyelenggaraan kedua ajang olahraga ini.

04 Apr 2025 14:06 WIB · Olahraga

Oleh Rebiyyah Salasah

Kebijakan tarif impor oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump akan diberlakukan di tengah persiapan negara tersebut menggelar beberapa ajang olahraga terbesar di dunia selama beberapa tahun ke depan. Beberapa di antaranya adalah Piala Dunia 2026 dan Olimpiade serta Paralimpiade Los Angeles 2028.

Ajang-ajang ini dimaksudkan untuk memberi peluang bagi bisnis luar negeri untuk meningkatkan profil dan penjualan di Amerika Serikat. Namun, timbul pertanyaan apakah peluang itu masih tetap terbuka setelah Donald Trump mengumumkan daftar tarif dasar dan bea masuk baru, Rabu (2/4/2025) waktu setempat.

Quote

Saya menduga beberapa sponsor sekarang menilai ulang bagaimana mereka 'mengaktifkan' kesepakatan semacam itu di AS, mengingat hambatan perdagangan yang kini telah diberlakukan.

Trump mengenakan tarif rerata sebesar 10 persen untuk barang impor dari seluruh dunia per 5 April 2025. Trump juga memberlakukan ”tarif timbal balik” terhadap sejumlah negara yang berlaku pada 9 April 2025. Itu termasuk Uni Eropa sebesar 20 persen, Asia seperti China dengan 34 persen dan Korea Selatan 25 persen.

Pabrikan mobil Korea, Hyundai Group, sebelumnya berupaya memanfaatkan kesepakatan sponsornya dengan FIFA selama Piala Dunia Antarklub tahun ini di AS dan kemudian Piala Dunia 2026. Namun, ahli strategi penawaran acara olahraga, John Zerafa, menilai, para sponsor termasuk Hyundai akan berpikir ulang soal kesepakatan tersebut.

Presiden AS Donald Trump menyaksikan saat Presiden FIFA Gianni Infantino membuka selubung trofi Piala Dunia Antarklub di ruang Oval, Gedung Putih, Washington DC, 7 Maret 2025.

”Saya menduga beberapa sponsor sekarang menilai ulang bagaimana mereka 'mengaktifkan' kesepakatan semacam itu di AS, mengingat hambatan perdagangan yang kini telah diberlakukan,” kata John Zerafa.

”Mengapa sponsor menghabiskan jutaan pound sterling untuk melakukan hal itu jika sekarang penjualan di Amerika sudah dilarang?” tuturnya lagi.

Banyak tim olahraga dan atlet juga disponsori oleh merek pakaian olahraga. Sementara itu, sebagian besar perusahaan ini bergantung pada bahan dan manufaktur di Asia, tempat Trump mengenakan beberapa tarif tertinggi. Selain China dengan 34 persen, Trump juga memberlakukan tarif 49 persen untuk Kamboja, 46 persen untuk Vietnam, 36 persen untuk Thailand, dan 32 persen untuk Indonesia.

Tak mengherankan, saham di perusahaan seperti Nike, Adidas, dan Puma turun tajam, mengingat ada kekhawatiran bahwa biaya impor yang lebih tinggi akan dibebankan kepada konsumen.

Pekerja menyelesaikan produksi sepatu di PT KMK Global Sports Cikupa, Tangerang, Banten, Selasa (30/4/2019).  KMK Global Sports setiap bulannya bisa menghasilkan 1,2 juta pasang sepatu olahraga merek Nike dan 300.000 pasang sepatu Converse. Saat ini pabrik tersebut setidaknya mempekerjakan sebanyak 150.000 orang.

Namun, pakar keuangan olahraga Kieran Maguire mengatakan, dampak pembelakuan tarif tinggi terhadap penjualan produk olahraga seharusnya terbatas. ”Konsumen terbiasa membayar harga premium di ritel olahraga. Produsen dan pengecer harus menyerap sebagian dari ini dan itu tidak boleh berdampak pada jumlah yang dijual atau komisi yang diperoleh klub yang menjual barang dagangan,” ujar Maguire.

Adapun Kanada dan Meksiko, yang jadi tuan rumah bersama Piala Dunia 2026, juga dikenai bea masuk impor hingga 25 persen. Kedua negara pun dikabarkan siap membalas pemberlakuan tarif itu.

Tujuh tahun lalu, ketika tawaran untuk jadi tuan rumah bersama disetujui, keretakan yang disebabkan oleh tarif dan usulan tembok perbatasan ditutup-tutupi. Saat itu, Presiden Federasi Sepak Bola AS Carlos Cordeiro mengutarakan tema utamanya adalah ”Persatuan Tiga Negara”.

Bulan lalu, Trump mengklaim ketegangan politik dan ekonomi antara AS dan tuan rumah Piala Dunia akan baik untuk turnamen tersebut. ”Saya pikir itu akan membuatnya lebih menarik. Ketegangan adalah hal yang baik,” katanya.

Bocah-bocah bermain sepak bola di miniatur lapangan sepak bola di Seattle, AS, Kamis (16/6/2022). FIFA mengumumkan 16 kota penyelenggara Piala Dunia 2026 yang berada di tiga negara yaitu Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Seattle termasuk salah satu kota penyelenggara Piala Dunia 2026. ***Children play soccer on a miniature field on Pier 62 on Thursday, June 16, 2022, in Seattle, as the city and the Seattle Sounders hosted a celebration for the FIFA 2026 World Cup. The 16 cities of the first World Cup spread across three nations were revealed Thursday. (Dean Rutz//The Seattle Times via AP)

Federasi Sepak Bola AS dan Kanada menolak permintaan AP untuk memberikan komentar tentang bagaimana kebijakan Gedung Putih dapat memengaruhi Piala Dunia 2026. Adapun Gabriela Cuevas, yang mewakili pemerintah Meksiko dalam pertemuan dengan FIFA, mengatakan, dia menganggap tarif dan acara sepak bola sebagai masalah yang terpisah.

”Piala Dunia dapat menjadi jalur untuk terlibat dalam percakapan,” ujar Cuevas menambahkan.

Para pengamat cenderung setuju, dengan mengatakan logistik seperti kerja sama keamanan atau transportasi tim dari kota ke kota atau negara ke negara tidak boleh terhambat dalam hal Piala Dunia. Ajang ini dijadwalkan berlangsung di 16 kota di AS, Kanada, dan Meksiko dari 11 Juni hingga 19 Juli 2026.

Namun, masalah perbatasan kembali menjadi sorotan. Victor Matheson, seorang profesor ekonomi di College of the Holy Cross di Worcester, Massachusetts, mengatakan, FIFA harus menaruh perhatian pada hal ini karena apa yang melintas di antara negara-negara ini bukanlah suku cadang mobil, gandum, ataupun listrik.

”Melainkan manusia. Itulah perhatian Anda yang sebenarnya,” kata Victor Matheson.

”Apa yang sebelumnya merupakan penyeberangan perbatasan bisa menjadi jauh lebih menantang, hanya karena kedua belah pihak meningkatkan tingkat inspeksi mereka. Amerika Serikat, khususnya, memangkas layanan pemerintah yang memungkinkan orang untuk berpindah secara efektif antarnegara,” ujarnya lagi.

Pemain timnas Brasil Bebeto (kiri) dan Romario (kanan) merayakan gol Bebeto ke gawang AS pada babak 16 besar Piala Dunia AS 1994 di Stadion Stanford, California, 4 Juli 1994. Brasil menang dengan skor 1-0. *** Local Caption *** In this July 4, 1994 file photo, Brazilian forwards Bebeto, centre, and Romario, right, celebrate Bebeto's match-winning goal, during the World Cup second round soccer match against the US, in Stanford Stadium California. Dejected US defender Fernando Clavijo, centre, walks behind the two. On this day: On Independence Day the US was knocked out of the World Cup it was hosting after losing 1-0 to Brazil. (AP Photo/Eric Draper, File)

Di sisi lain, mantan Presiden Federasi Sepak Bola AS sekaligus yang menjalankan Piala Dunia 1994 di negara itu, Alan Rothenberg, optimistis Piala Dunia 2026 tetap akan menarik minat penonton. Dia mencontohkan dua Piala Dunia terakhir, di Rusia 2018 dan Qatar 2022, yang mengundang kekhawatiran, tetapi tetap menarik jumlah penonton di atas 3 juta orang.

Rothenberg juga tidak berpikir salah satu negara tuan rumah akan mengundurkan diri dari Piala Dunia. Atau akan ada negara lain mungkin memboikot, seperti yang terjadi pada Olimpiade Montreal 1976, Moskwa 1980, dan Los Angeles 1984.

”Lebih dari apa pun, mereka akan melihatnya sebagai peluang untuk, mungkin, pemulihan hubungan, daripada meningkatkan ketegangan,” kata Rothenberg.

”Selain itu, dari sudut pandang pengorganisasian, jika Kanada atau Meksiko mengundurkan diri dari Piala Dunia, AS akan segera mengambil alih pertandingan,” ucapnya.

Tom Cruise turun dari atap stadion sebagai bagian dari upacara serah terima Los Angeles 2028 (LA28) pada upacara penutupan Olimpiade Paris 2024, 11 Agustus 2024. AFP/MOHD RASFAN

Sementara terkait Olimpiade, Kirsty Coventry setelah terpilih sebagai presiden Komite Olimpiade Internasional sempat menyinggung soal bagaimana bekerja sama dengan Trump dalam persiapan Olimpiade Los Angeles 2028. Coventry mengatakan, dia terbiasa berurusan dengan ”pria yang sulit” di posisi tinggi.

”Yang pertama dan terutama, yang saya pelajari adalah bahwa komunikasi akan menjadi kunci. Itu adalah sesuatu yang akan terjadi sejak awal. Keyakinan saya yang kuat adalah bahwa Presiden Trump adalah pencinta olahraga. Dia ingin Olimpiade ini menjadi penting. Dia ingin Olimpiade ini sukses,” kata Coventry.

Mengacu pada kekhawatiran tentang apakah Pemerintah AS akan menolak visa beberapa atlet, Coventry menambahkan bahwa pihaknya tidak akan mengabaikan nilai-nilai mereka. Itu termasuk nilai solidaritas dalam memastikan setiap atlet yang memenuhi syarat untuk Olimpiade memiliki kemungkinan untuk menghadiri Olimpiade dan aman selama Olimpiade.

Asumsi utama di antara mereka yang terlibat dalam Olimpiade adalah bahwa Trump akan memastikan Olimpiade 2028 sukses. Hal itu pula yang tersirat dalam pernyataan Ketua Komite Olimpiade dan Paralimpiade AS Gene Sykes.

”Saya tidak dapat berbicara atas namanya, tetapi saya pikir dia (Trump) adalah tipe orang yang mungkin percaya bahwa Olimpiade ini berjalan dengan sangat baik merupakan cerminan dari kepemimpinannya,” tutur Skyes. (AP/BBC)


Kerabat Kerja

Penulis:

Rebiyyah Salasah
 | 

Editor:

Wisnu Aji Dewabrata
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase