Lautan manusia berkaus merah membanjiri Den Haag dan Brussel menuntut Israel menghentikan genosida di Jalur Gaza. Uni Eropa didesak bertindak untuk menekan Israel.
16 Jun 2025 15:17 WIB · Internasional
DEN HAAG, BRUSSEL, CALGARY/MINGGU — Puluhan ribu orang berunjuk rasa dengan kaus merah di area pusat pemerintahan Belanda di Den Haag, Minggu (15/6/2025). Para pengunjuk rasa ini mendesak Pemerintah Belanda agar tidak lagi mendukung kekejaman Israel di Gaza, Palestina.
Pengunjuk rasa berjalan kaki sejauh 5 kilometer mengelilingi pusat kota Den Haag. Mereka menyusun barisan merah menandakan batas terhadap genosida yang dilakukan Israel dan dibiarkan Pemerintah Belanda.
Di negara tetangga Belanda, puluhan ribu massa berkaus merah juga turun ke jalan di Brussel, Belgia. Massa pengunjuk rasa ini menuntut Uni Eropa bertindak menghentikan genosida di Jalur Gaza.
Unjuk rasa yang dikoordinasikan Oxfam dan Amnesty International di Brussel juga membentuk garis merah. Hal ini menjadi simbol pelanggaran batas oleh Israel dengan genosida yang merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan.
Sementara di Libya timur, aksi long march dari Afrika Utara ke Perbatasan Mesir-Jalur Gaza terhenti. Konvoi Soumoud (berarti keteguhan hati) ini terdiri dari 1.000 orang aktivis asal Maroko, Aljazair, Mauritania, dan Tunisia. Mereka terpaksa mundur kembali ke Misrata di Libya barat seetelah dihentikan otoritas Libya timur.
Kota Misrata dikendalikan pemerintahan yang diakui PBB, yakni Pemerintah Persatuan Libya dengan ibu kota Tripoli. Adapun wilayah Libya timur dikuasai Khalifa Haftar. Semula konvoi aktivis ini bermaksud bergerak terus ke Mesir dan perbatasan El Arish-Gaza di Rafah.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/16/9cccd4413f22e6ce0bd61097b9e3f32c-wires_photo_2025_06_16T125926.599.jpg)
Sehari sebelumnya, Sabtu (14/6/2025), di Paris, Perancis, ribuan orang juga menggelar aksi menuntut dihentikannya kekejaman Israel di Gaza.
Keprihatinan Belanda
Para pengunjuk rasa membawa spanduk bertuliskan ”Jangan Memalingkan Muka”, ”Hentikan Keterlibatan Belanda dalam Kejahatan Perang”, ”Berdiam Dirilah Saat Anak-anak Tidur”, ”Jangan Diam Saat Mereka Dibunuh”.
”Mayoritas rakyat Belanda ingin tindakan nyata Pemerintah Belanda menghentikan genosida dengan menjatuhkan sanksi terhadap Israel,” kata Direktur Oxfam Novib, Michiel Servaes.
Dodo Van Der Sluis (67), seorang pensiunan, mengatakan, Israel harus dihentikan. ”Ini sudah tidak bisa diterima,” katanya.
”Saya berunjuk rasa agar tidak membiarkan genosida. Saya ingin suara kami didengar,” kata Marin Koning, warga Belanda, kepada Associated Press.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/16/c20e61aa77d5d43d78ed625e32479467-wires_photo_2025_06_16T130129.629.jpg)
Berbagai kelompok HAM dan badan bantuan meliputi Amnesty International, Save The Children, dan Dokter Tanpa Batas (MSF), yang menyelenggarakan unjuk rasa, menyebut 150.000 orang terlibat dalam aksi kemanusiaan di Den Haag. Media Belanda menyebut unjuk rasa diikuti 100.000 orang.
”Pemerintah harus mengambil tindakan di dalam negeri dan internasional untuk menekan Israel,” kata Direktur Amnesty International Belanda Marjon Rozema.
Adapun aksi di Brussel, menurut Kepolisian Belgia, diikuti sekitar 75.000 orang. Ini menjadi unjuk rasa pro perdamaian Palestina terbesar di kota markas Uni Eropa tersebut.
Belanda dan Belgia merupakan negara-negara Eropa Barat yang menjadi pusat komunitas dan bisnis Yahudi.
Unjuk rasa di Den Haag melintasi Palais de Vrede-Istana Perdamaian yang menjadi Mahkamah Internasional PBB. Para hakim Mahkamah Internasional tahun lalu memerintahkan Israel untuk mencegah kematian, penghancuran, dan genosida di Gaza.
Israel dengan percaya diri menyanggah telah melakukan kejahatan kemanusiaan dalam perang di Gaza yang menewaskan puluhan ribu perempuan dan anak-anak.
Unjuk rasa di Belanda ini berlangsung tidak lama setelah koalisi kanan-tengah Belanda tumbang. Pemerintahan Belanda diselenggarakan oleh pemerintahan sementara yang akan menjadi tuan rumah KTT NATO akhir Juni 2025.
PM Belanda Dick Schoof dalam akun X mengatakan, ”Kepada semua pengunjuk rasa di Den Haag, kami melihat dan mendengarkan Anda. Tujuan kita sama, yakni mengakhiri penderitaan di Gaza segera.”
Langkah Uni Eropa dan G7
Adapun para Menlu Uni Eropa akan mengadakan rapat darurat, Selasa (17/6/2025) membahas meluasnya agresi Israel dari Gaza dan kini ke Iran.
”Pertemuan tersebut diadakan lewat saluran video dengan tujuan koordinasi untuk menjembatani Israel dan Iran,” kata Ketua Komisi Luar Negeri Uni Eropa Kaja Kalla.
Dia menambahkan, Uni Eropa akan mengupayakan perdamaian dan juga penyelesaian masalah riset nuklir Iran.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/16/09bca3e466113b1f74e3bcd87a8476ff-Netherlands_Gaza_Protest.jpg)
Di kota Calgary, Kanada, yang menjadi tuan rumah KTT G7, sekitar 500 pengunjuk rasa menggelar demonstrasi di pusat kota. Pemerintah Kanada menjanjikan livestreaming unjuk rasa tersebut ke resor mewah di Kananaskis, tempat para pemimpin negara-negara G7 bertemu.
Genosida di Gaza menjadi fokus utama para pengunjuk rasa. ”Saya berunjuk rasa mendukung Palestina karena saya orang asli Amerika. Saya tidak bisa membiarkan penduduk asli Palestina diusir dan dibom di tanah lahir mereka,” kata Emrys Peacock yang datang dari wilayah Okanagan, British Columbia, di pesisir barat Kanada.
Selain itu, ada pula protes terhadap Presiden Trump yang pernah berujar menjadikan Kanada sebagai negara bagian ke 51 Amerika Serikat.
Perang Gaza dipicu serangan Hamas ke Israel tanggal 7 Oktober 2023. Para pejuang Hamas adalah keturunan warga Palestina yang rumah dan tanahnya dirampas militer Israel tahun 1948 dalam peristiwa Nakba yang mengusir 90 persen warga Palestina. Tanah dan rumah yang dirampas dijadikan negara Israel.
Para bekas pengungsi tidak dibolehkan Israel kembali. Padahal, hukum internasional mengatur kembalinya pengungsi ke tempat asal mereka pascaperang.
Serangan Hamas mengakibatkan 1.219 orang tewas. Sebagian karena salah sasaran militer Israel dan 251 orang disandera Hamas. Adapun serbuan Israel ke Gaza sudah mengakibatkan 55.207 orang tewas. Sebagian besar korban adalah perempuan dan anak-anak.
Mahkamah Internasional memutuskan Israel telah melakukan kejahatan kemanusiaan dengan melakukan genosida di Jalur Gaza. (AFP/AP)
Penulis:
Iwan SantosaEditor:
Nur Hidayati