Aksi Heroik Sugianto di Desa Gyeongjeong 3-ri

Pekerja migran asal Indonesia itu turut berjibaku mengevakuasi warga saat Desa Gyeongjeong 3-ri mulai terbakar. Pemerintah Korsel mengganjarnya dengan visa F2.

03 Apr 2025 20:39 WIB · Internasional

Oleh Helena Fransisca Nababan

Asap terus membubung tinggi dari semak, pepohonan, serta rumah yang terbakar. Lidah api kian membesar, berkobar-kobar, melalap setiap jengkal lahan Desa Gyeongjeong 3-ri yang dilaluinya. Desa itu berada di Kabupaten Yeongdeok, Provinsi Gyeongsang, Korea Selatan yang dilaluinya.

Pekan terakhir Maret, tepatnya pada Selasa (25/3/2025), menjadi hari penuh duka bagi warga desa itu. ”Semakin malam, asap kebakaran semakin tajam tercium bahkan sudah membuat mata perih,” kata Sugianto (31), saat dihubungi dari Jakarta, Jumat (3/4/2025).

Demi nyawanya, Sugianto sebenarnya bisa saja segera pergi menyelamatkan diri. Namun, ia tidak melakukannya.

Pekerja migran Indonesia yang mengadu nasib di sektor perikanan itu justru memilih membantu Kim Pil-gyeong, Kepala Desa Gyeongjeong dan Yu Myeong-shin, Ketua Asosiasi Nelayan Gyeongjeong mengevakuasi warga. Mereka mengetuk pintu setiap rumah dan meminta warga segera mengungsi.

Seperti diketahui, kebakaran hebat melanda wilayah tenggara Korea Selatan, tepatnya di Sancheong, Provinsi Gyeongsang Selatan, dan di Uiseong, Provinsi Gyeongsang Utara, selama sepekan lebih. Kebakaran yang dimulai Jumat (21/3/2025) melahap habis 48.000 hektar lahan di 11 wilayah, merusak 4.000 lebih rumah, menghancurkan 32 situs warisan budaya, dan sekitar 2.000 pertanian. Sebanyak 31 orang tewas dan ribuan warga kehilangan tempat tinggal.

Pekerja Migran Indonesia (PMI) Sugianto yang menyelamatkan warga lansia di Desa Gyengjeong 3-ri, Yeongdeok, Gyengsang Utara pada Selasa (25/3/2025).

Saat itu, Selasa (25/3/2025), sekitar pukul 23.00, api sudah kian dekat dengan desa. Dalam pembicaraan telepon, Sugianto menceritakan, pada Selasa petang, asap sudah tercium di Desa Gyeongjeong 3-ri. Kim pun segera mengumumkan situasi bahaya dan meminta warga segera mengungsi.

Akan tetapi, evakuasi tidak bisa berjalan cepat. Sebagian besar warga Desa Gyeongjeong 3-ri merupakan warga lanjut usia yang kesulitan bergerak sigap. Jadilah Sugianto bersama Yu dan Kim membantu para lansia dan warga dengan kemampuan mobilitas rendah untuk menyelamatkan diri.

Mereka bahu-membahu mengevakuasi warga desa. Mereka berpencar untuk berkeliling ke rumah-rumah warga. Total ada 60 orang di desa pesisir yang bertopografi bukit dan laut itu.

Sugianto berkeliling di bagian perbukitan desa. Tanpa memedulikan medan desa yang terjal, Sugianto berlari memindahkan para lansia itu, satu demi satu dari rumah mereka ke tanggul laut yang berjarak 300 meter dari desa.

”Mereka ada yang saya gendong di punggung, ada yang saya tuntun, ada yang saya rangkul supaya cepat sampai ke tanggul laut,” kata Sugianto seraya mengatakan ia masih tak bisa memercayai pengalamannya itu.

Sugianto berhasil menyelamatkan sebagian lansia yang tinggal di area bukit. Berkat kerja keras Sugianto bersama Kim dan Yu, semua warga desa itu selamat.

Pekerja Migran Indonesia (PMI) Sugianto, kanan, yang menyelamatkan warga lansia di Desa Gyengjeong 3-ri, Yeongdeok, Gyengsang Utara pada Selasa (25/3/2025).

Ia tidak ingat berapa jauh ia berlari melintasi desa bersama Yu untuk menyelamatkan warga. Saat berlari memindahkan warga, kata Sugianto, ia juga dilanda ketakutan, khawatir, dan cemas. Namun, ia memutuskan tetap bergerak membantu.

”Yang saya pikirkan hanyalah bahwa saya harus menyelamatkan para nenek dan penduduk dengan cepat,” kata Sugianto yang datang ke Korsel pada 2015 lalu.

Dalam pembicaraan sore tadi, Sugianto menceritakan, ia sempat terpana saat melihat sebuah toko ludes dilalap api. Saat itu ia tengah menggendong seorang lansia di punggungnya. Pemandangan yang ia lihat sejatinya membuatnya takut. Namun seusai penyelamatan, ia merasa sangat lega dan bersyukur. ”Semua warga selamat,” ujarnya.

Setelah semua warga dievakuasi ke tanggul laut, petugas berwenang membawa mereka ke Pelabuhan Chuksan, yang berada tak jauh dari Gyeongjeong  3-ri.

”Begitu tiba di Pelabuhan Chuksan, saya menelepon keluarga di Indonesia. Keluarga lega, istri juga lega. Istri saya mengatakan bahwa ia bangga kepada saya,” jelas Sugianto.

TOPSHOT - Korea Forest Service personnel observe a wildfire from the side of a road in Andong early on March 27, 2025. One of South Korea's worst-ever wildfire outbreaks has killed at least 24 people, officials said on March 26, with multiple raging blazes causing "unprecedented damage" and threatening two UNESCO-listed sites. (Photo by ANTHONY WALLACE / AFP)

Seorang perempuan lansia berusia 90-an kepada media lokal News1 mengatakan, ia dan warga lainnya akan meninggal jika Sugianto tidak datang untuk membantunya.

”Saya tertidur saat menonton TV. Tetapi saya terbangun karena suara teriakan keras di luar rumah, ada kebakaran hutan,” kata warga tersebut. ”Ketika saya melihat ke luar pintu, Sugianto ada di sana. Saya dapat melarikan diri dari rumah,” imbuh warga tersebut.

Penduduk desa lainnya mengatakan, jika bukan karena Sugiyanto dan Yu, mereka mungkin tertimpa bencana. Penduduk desa pun memuji Sugianto dan Yu.

Menanggapi pujian atas dedikasinya, Sugianto menyambutnya dengan rendah hati. ”Saya sangat menyukai Korea. Penduduk di desa ini sudah seperti keluarga saya,” kata Sugianto.

Apresiasi pemerintah

Media-media Korsel, salah satunya The Korea Herald, melaporkan tindakan penyelamatan Sugianto tersebut sebagai tindakan luar biasa. Tindakan heroik itu pun mendapat perhatian dari Pemerintah Korsel dan Indonesia.

”Kami mengetahui aksi Sugianto dari media Korea. Namun, kami juga sudah menghubungi Sugianto langsung,” jelas Kuasa Usaha Ad Interim (KUAI) RI Seoul Zelda Wulan Kartika melalui sambungan telepon terpisah.

Menurut Zelda, dari obrolannya dengan Sugianto, tersirat jelas bahwa tindakan yang dilakukan Sugianto semata-mata dilandasi rasa kemanusiaan. Zelda sangat mengapresiasi kesigapan Sugianto itu dan menyebut bahwa tindakna Sugianto telah mengharumkan nama Indonesia.

A burnt car is pictured after it was ravaged by wildfires in the coastal village of Nomul-ri in Yeongdeok on March 28, 2025. Overnight rain helped douse some of South Korea's worst-ever wildfires, authorities said on March 28, as the death toll from the unprecedented blazes raging for nearly a week reached 28. (Photo by ANTHONY WALLACE / AFP)

Tindakan Sugianto menunjukkan ia bisa berbaur dan berinteraksi dengan lingkungan tempat ia tinggal dan bekerja. ”Tindakan positif Sugianto ini layak menjadi contoh bagi 60.000 PMI lainnya di Korsel,” jelas Zelda.

Pemerintah Korsel melalui Kementerian Kehakiman Korsel sangat mengapresiasi Sugianto. Penjabat Menteri Kehakiman Kim Seok-woo mengatakan, ia menganugerahi Sugianto visa F2.

”Dengan visa F2 saya bisa tinggal lama dan bekerja di mana pun di Korsel,” jelas Sugianto yang tidak menyangka akan mendapatkan anugerah itu.

Penghargaan itu seolah mengamini harapan warga Gyeongjeong 3-ri. Mereka mengatakan mereka ingin tinggal dan bekerja dengan seorang pemuda yang bertanggung jawab seperti Sugianto. Harapan itu nyaris sirna lantaran sesuai peraturan visa ketenagakerjaan Korsel, izin kerja Sugianto di Korsel sudah hampir habis.

Menurut Zelda, sebagai hasil kerja sama antara Pemerintah Indonesia dan Korsel (G to G), untuk bekerja di Korsel, seorang PMI mesti memiliki visa bekerja. Visa bekerja itu berlaku untuk empat tahun.

Apabila visa tersebut telah habis, seorang PMI bisa mengajukan perpanjangan visa kerja untuk empat tahun berikutnya. Setelah dua periode bekerja, seorang PMI harus pulang ke Indonesia terlebih dulu. Untuk bisa bekerja di Korsel lagi, ia mesti mengurus visa bekerja kembali. Visa untuk bekerja di Korsel terdiri atas sejumlah klasifikasi visa. Setiap visa memiliki kriteria sendiri.

TOPSHOT - An 81-year-old apple farmer who lost her crop walks with sticks past her neighbours' homes, burned by a wildfire two days ago, in Andong on March 27, 2025. Wildfires in South Korea are now the largest and deadliest on record, having burned more forest and killed more people than any previous blaze, officials said on March 27, as the death toll hit 27. (Photo by Yasuyoshi CHIBA / AFP)

Sugianto tiba di Korsel pada 2015, artinya ia sudah menyelesaikan dua periode bekerja di Korsel atau sudah delapan tahun tinggal di Korsel. ”Saya sudah sempat pulang ke Indonesia, lalu membuat visa bekerja lagi,” jelas Sugianto.

Dengan mendapat visa F2, menurut Zelda, bisa dikatakan Sugianto kini mendapat ”status” sebagai temporary residency. Menurut Kementerian Kehakiman, visa F2 memberi pemegang visa izin tinggal jangka panjang di Korsel.

Visa F2 dapat diberikan oleh menteri kehakiman kepada individu yang telah memberikan kontribusi khusus bagi masyarakat Korsel atau telah diakui atas jasanya untuk kepentingan publik. Visa F2 juga bisa diberikan karena kontribusi warga asing dalam perekonomian atau pembangunan daerah di Korsel.

Untuk Sugianto, menurut Kim Seok-woo, visa F2 diberikan karena ia menyelamatkan warga lansia di Desa Gyeongjeong. Keputusan Kementerian Kehakiman itu muncul setelah media lokal melaporkan aksi penyelamatan Sugianto.

Zelda berharap selain visa F2, istri dan anak Sugianto juga bisa dibawa ke Korsel. Saat ini mereka masih berada di Indonesia.


Kerabat Kerja

Penulis:

Helena Fransisca Nababan
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H