Meski punya banyak teknologi maju, Korea Selatan belum bisa mengendalikan kebakaran hutan dan lahan. Selain permukiman, kebakaran menghancurkan situs warisan budaya.
27 Mar 2025 09:01 WIB · Internasional
SEOUL, KAMIS — Korea Selatan memiliki teknologi pemadam kebakaran andal. Akan tetapi, tetap saja Korsel kewalahan menanggulangi kebakaran hutan yang terus meluas sepekan terakhir di Gyeongsang dan sekitarnya. Sejumlah situs warisan budaya terancam musnah.
Dilaporkan Yonhap dan Korea Joongang Daily pada Kamis (27/3/2025), dampak kebakaran terus bertambah. Setidaknya 24 orang tewas dan puluhan lain cedera akibat kebakaran itu. Sebagian korban diketahui berusia di atas 60 tahun.
Salah satu korban tewas adalah pilot helikopter pemadam. Pada Rabu, salah satu dari 87 helikopter pemadam jatuh Kabupaten Uiseong dan menewaskan satu-satunya awak di kendaraan udara itu.
Sepanjang Rabu, selain helikopter, Korsel mengerahkan 656 unit peralatan pemadam. Selain mobil, wujudnya termasuk robot pemadam seperti yang dimiliki DKI Jakarta.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/27/94b57cf3-9fe4-478a-9dff-d32348c12d77_jpg.jpg)
Pada Kamis pukul 06.30 waktu setempat, helikopter dan truk pemadam kembali diterjunkan ke Kabupaten Uiseong yang menjadi pusat kebakaran. Sementara di Kabupaten Andong, evakuasi dan mitigasi terus dilakukan.
Ada situs warisan budaya dunia di Andong, Desa Hahoe, dan Byeongsan Seowon Confucian Academy. Sementara di Kabupaten Yeongdeok, ada delapan situs warisan budaya. Penyelamatan situs-situs itu salah satu fokus Korsel.
Sebagian upaya itu gagal. Setidaknya tiga kuil berusia ribuan tahun di Gyeongsang hangus terbakar. Kuil-kuil terbakar adalah Kuil Bongjeong di Andong, Kuil Buseok di Yeongju, serta Kuil Goun di Uiseong.
Kuil Goun merupakan kuil kuno dan terkenal. Kuil tersebut dibangun pada tahun 681 selama Dinasti Silla (57 SM-935 M).
Kuil-kuil tersebut merupakan bagian dari kelompok tujuh kuil Buddha yang ditetapkan sebagai Situs Warisan Budaya Dunia UNESCO. Mereka masuk dalam klasifikasi ”Sansa, Biara Gunung Buddha di Korea”.
Departemen Warisan Budaya Korea menyatakan, hingga Rabu siang, sudah memindahkan 15 benda peninggalan sejarah ke lokasi yang lebih aman. Benda-benda itu antara lain balok cetakan kayu dan lukisan Buddha. Telah dipindahkan pula patung Buddha batu duduk dari Kuil Goun bersama dengan lima benda warisan budaya berwujud lainnya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/27/c2a1c0bd-12cb-443d-99f7-b9ae94afcb44_jpg.jpg)
Departemen Warisan Budaya Korsel juga mengidentifikasi delapan kasus kerusakan lain akibat kebakaran. Perincian penilaian akan dipublikasikan lebih lanjut.
Di kompleks Kuil Goun terdapat sekitar 30 bangunan dan struktur. Sekitar 20 bangunan dan struktur di antaranya diperkirakan hancur.
Dua dari bangunan yang hancur terdapat dua bangunan yang ditetapkan sebagai warisan budaya yang ditetapkan oleh negara. Keduanya adalah bangunan berbentuk paviliun yang didirikan menghadap sungai pada tahun 1668 disebut Paviliun Gaunru.
Lainnya, bangunan dari era dinasti Joseon yang dibangun pada tahun 1904. Bangunan itu untuk menandai umur panjang seorang raja disebut Balai Yeongsu.
Diduga bangunan ini sudah terbakar habis. Departemen Warisan Budaya Korsel menyatakan, tingkat kerusakan segera ditentukan setelah peninjauan dan identifikasi di lokasi.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/26/c4370335-dba2-4340-962c-bd5854495b02_jpg.jpg)
Setelah kehancuran tiga kuil, Departemen Warisan Budaya Korsel kembali mewaspadai potensi kerusakan di kawasan warisan dunia. Perhatian khusus diberikan pada Desa Rakyat Hahoe.
Hahoe, sekitar 190 km di tenggara Seoul, adalah salah satu desa rakyat paling terkenal dan populer di Korsel. Desa ini masuk daftar UNESCO sebagai situs Warisan Dunia pada tahun 2010. Desa ini melestarikan rumah-rumah dan tradisi dari Dinasti Joseon (1392-1910).
Dengan tanda-tanda kebakaran yang semakin dekat, kurang dari 5 kilometer dari Desa Hahoe, pihak berwenang berencana mengerahkan dua helikopter pemadam kebakaran sebagai tindakan pencegahan.
Selain penyelamatan benda-benda warisan budaya, Departemen Kehakiman Korsel juga memutuskan memindahkan sekitar 500 narapidana dari kompleks penjara besar di Cheongsong di utara Provinsi Gyeongsang pada Selasa. Kebakaran hutan yang dimulai di Uiseong sudah menyebar ke Cheongsong dan mengancam area di sekitar penjara.
Menurut Kementerian Kehakiman, keputusan evakuasi para narapidana tersebut diambil Selasa sore. Para narapidana diangkut dengan bus ke fasilitas pemasyarakatan terdekat.
Departemen Kehakiman juga mempertimbangkan untuk merelokasi 800 narapidana lainnya dari Penjara Andong, yang terletak di Pungsan, Kota Andong. Lembaga Pemasyarakatan ini juga berada di area kebakaran hutan yang sama.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/27/6db15d60-508e-4ca2-a410-5f78e9a43336_jpg.jpg)
Pejabat LP mengatakan, evakuasi narapidana dalam skala besar karena bencana alam belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah pemasyarakatan modern Korsel. Hal ini bisa ditelusuri dari transformasi sistem penjara paskakolonial.
Sejauh ini, kebakaran hutan di Korsel sudah berlangsung hampir sepekan. Puluhan helikopter pemadam kebakaran, sekitar 5.000 personel, dan sekitar 560 peralatan dikerahkan untuk memadamkan api.
Kebakaran hutan yang dimulai di wilayah Sancheong di Provinsi Gyeongsang Selatan Jumat lalu terus menyebar ke seluruh wilayah timur laut. Selama lima hari, kebakaran telah menyebar ke Uiseong dan bergerak maju ke Andong, Cheongsong, Yeongyang, dan Yeongdeok di dekatnya.
Badan Penanggulangan Bencana dan Keselamatan Korsel menyebutkan, sejauh ini korban tewas terdata 24 orang. Dari 24 korban kebakaran hutan, 20 orang ditemukan di Uiseong dan 4 orang dari Sancheong.
Polisi dan petugas pemadam kebakaran sebelumnya menghitung 21 kematian di bagian utara Provinsi Gyeongsang Utara. Rinciannya, 2 di Andong, 3 di Cheongsong, 6 di Yeongyang, dan 7 di Yeongdeok.
Penjabat Presiden Korsel Han Duck-soo sudah menginstruksikan upaya habis-habisan untuk mencegah penyebaran lebih lanjut kebakaran hutan yang mematikan itu. Ia menggambarkannya sebagai ”kebakaran hutan terburuk yang pernah ada”.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/27/16e3198c-5d7e-45a1-9c7e-b510ebee92d7_jpg.jpg)
Seruan Han Duck-soo itu berkaitan dengan kekhawatiran, bila kebakaran hutan menyebar lebih jauh ke wilayah pesisir timur karena angin kencang, api dapat mencapai daerah pesisir Uljin. Di wilayah itu terdapat pembangkit listrik tenaga nuklir utama.
Sejauh ini, selain menewaskan 24 orang, kebakaran hutan telah menghancurkan 17.000 hektar hutan dan 209 rumah dan pabrik.
Seorang pejabat kehutanan mendesak kewaspadaan terhadap faktor-faktor yang tidak dapat diprediksi, seperti perubahan arah angin yang tiba-tiba. Ia mencatat, kebakaran hutan Uiseong awalnya menyebar ke arah timur. Namun, kebakaran kemudian tersebar dengan adanya angin dari selatan dan barat daya yang teramati pada Selasa dan Rabu. (AP/REUTERS)
Penulis:
Helena Fransisca NababanEditor:
Kris MadaPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari