Dua gol spektakuler Diego Maradona ke gawang Belgia mengantarkan Argentina ke ambang juara Piala Dunia 1986.
22 Jun 2026 17:06 WIB · Olahraga
AP
Selain mengangkat trofi Piala Dunia 1986, nama Diego Maradona di turnamen yang dihelat di Meksiko tersebut dikenang karena dua gol populernya: ”Gol Tangan Tuhan” dan ”Gol Abad ini”.
Dua gol ke gawang Inggris di perempat final itu memang sangat terkenal dengan cara yang berbeda. Satu karena kontroversi ”kelicikan” Maradona meninju bola dalam golnya, satu lagi karena kejeniusannya dalam dribel melewati lawan.
Namun, setelah dua gol tersebut, ada gol memukau lainnya yang sering terpinggirkan. Gol itu mengunci kemenangan atas Belgia dan mengantarkan Argentina ke gerbang juara bertemu Jerman Barat di partai final.
Setelah menghancurkan hati para pendukung Inggris dengan kemenangan 2-1, Maradona kembali ke Stadion Azteca, Meksiko, tiga hari kemudian. Argentina menatap laga semifinal yang berat melawan Belgia, 25 Juni 1986.
Laga melawan tim berjulukan ”The Red Devils” itu berjalan sulit bagi Argentina. Trio Maradona, Jorge Valdano, dan Jorge Burruchaga, kesulitan menembus ketatnya pertahanan Belgia dengan Jean-Marie Pfaff di depan gawang.
Skor 0-0 hingga akhir babak pertama membuat Maradona khawatir. Pemain yang tengah di masa puncak performanya, yaitu pada usia 25 tahun, itu pun mengadakan pertemuan dadakan di terowongan dengan rekan-rekannya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2020/11/26/dd4ca1d5-13fd-4a86-a8b6-0825e40284b7.jpg)
Sebagaimana dilaporkan The Athletic mengutip buku autobiografiTouched by God, Maradona menggambarkan rekan-rekannya jadi ”sangat ketakutan” setelah ia melapiaskan kemarahan bersama Valdano dan Oscar Ruggeri.
Bagi Maradona, Argentina perlu mengubah sikap melawan tim Belgia yang ”sombong”. Namun, dia juga sadar bahwa dia ”harus tampil dan memenangkannya sendirian”.
Maradona lantas membuktikannya. Selepas jeda, ia memecah kebuntuan di menit ke-51. Meski dikawal dua pemain, Maradona melakukan penyelesaian indah dengan bagian luar kaki kirinya menyambut umpan terobosan Burruchaga. Bola melewati kepala kiper Pfaff yang maju mengadang Maradona.
Dua belas menit kemudian, legenda Napoli itu kembali menunjukkan magisnya. Menerima umpan dari José Luis Cuciuffo di sepertiga akhir lapangan, Maradona meneruskannya dengan dribel.
Maradona leluasa menggiring bola di antara empat bek Belgia. Ia menusuk ke kotak penalti, menahan tekanan Erik Gerets, lalu melepaskan tembakan dengan kaki kiri. Bola kembali melewati Pfaff dan meluncur mulus ke gawang.
”Sebuah inspirasi tunggal yang agung,” kata penulis sepak bola Inggris, Brian Glanville, tentang gol kedua Maradona melawan Belgia dalam The Story of the World Cup dikutip dari FIFA.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/22/116a5db3d9ba4e88ed6da84f927be4d5-20260622_H02_KID_ARS_Maradona_Argentina_Belgia_mumed.jpg)
Tubuh Maradona oleng hampir terjungkal setelah tembakan itu, tetapi secara ajaib tidak jatuh. Di tengah riuh pendukung, ia terus berlari mencari keseimbangan, kemudian berselebrasi dengan mengacungkan lengan ke udara.
”Dia tidak jatuh (dalam situasi itu). Ini mengilustrasikan bahwa dia lebih dari seorang manusia,” kata Fernando Signorini, personal trainer Maradona, kepada FIFA.
Dua gol Maradona mengunci kemenangan 2-0 atas Belgia dalam pertandingan yang disaksikan 114.500 penonton itu dan melaju ke final menantang Jerman Barat.
Di final, Maradona memang tidak mencetak gol. Namun, ia mengirimkan asis bagi gol kemenangan yang dicetak Burruchaga. Jerman Barat tumbang dengan skor 3-2, Argentina pun membawa pulang trofi kedua mereka di Piala Dunia.
Penulis:
Yola SastraEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase