Aktivis Greta Thunberg Ikut Berlayar ke Gaza, Kirim Bantuan dan Dobrak Blokade Israel

Betapa pun berbahayanya misi ini, itu tidak lebih berbahaya daripada kebungkaman seluruh dunia menghadapi genosida yang disiarkan langsung, kata Greta Thunberg.

02 Jun 2025 11:50 WIB · Internasional

Oleh Helena Fransisca Nababan

CATANIA, SENIN — Aktivis iklim asal Swedia, Greta Thunberg, dan 11 aktivis lainnya berlayar menuju Gaza. Pelayaran itu bertujuan menerobos blokade Gaza untuk membawa bantuan kemanusiaan bagi warga Palestina. Pelayaran itu juga dimaksudkan untuk meningkatkan kesadaran internasional tentang situasi di Jalur Gaza.

Greta bergabung dengan kapal layar Madleen yang dioperasikan kelompok aktivis Freedom Flotilla Coalition (FFC). Madleen bertolak dari Pelabuhan Catania di selatan Italia, Minggu (1/6/2025) sore waktu setempat.

Selain Greta, sejumlah aktivis lainnya bergabung dalam pelayaran itu. Mereka di antaranya ialah anggota Parlemen Eropa, Rima Hassan, dan pengacara Palestina-Amerika, Huwaida Arraf.

Hasan telah dilarang memasuki Israel karena aktif menyuarakan penentangannya terhadap serangan Israel di Gaza. Kantor Berita Euronews menyebutkan, Liam Cunningham, aktor serial legendaris ”Game of Thrones”, juga turut dalam pelayaran itu.

Bagi FFC, upaya pelayaran ini merupakan pelayaran kedua. Pada pelayaran pertama di awal Mei 2025, kapal Conscience yang juga dioperasikan FFC gagal mencapai Gaza.

Kapal Conscience diserang dua pesawat nirawak di perairan internasional di lepas pantai Malta. FFC menyatakan, Israel bertanggung jawab atas serangan yang merusak bagian depan kapal itu.

Sebelumnya, setelah gencatan senjata Israel-Hamas berakhir pada awal Maret 2025, Israel terus meningkatkan serangan ke Jalur Gaza. Bersamaan dengan itu, Israel memblokade masuknya bantuan kemanusiaan ke wilayah itu.

Badan-badan PBB dan kelompok-kelompok bantuan utama telah menyerukan bahwa blokade yang telah dilakukan Israel selama tiga bulan itu memperparah situasi kemanusiaan di Gaza yang sudah buruk. Para ahli memperingatkan, Gaza berada dalam risiko kelaparan baru jika bantuan dalam jumlah besar tidak boleh masuk.

Climate activist Greta Thunberg, center, waits to board the Madleen boat, before setting sail for Gaza along with activists of the Freedom Flotilla Coalition, departing from the Sicilian port of Catania, Italy, Sunday, June 1, 2025. (AP Photo/Salvatore Cavalli)

Pada pertengahan Mei 2025, Israel mulai mengizinkan sejumlah kecil bantuan kemanusiaan masuk ke wilayah Gaza. Merespons peluang ini, FFC lalu mengoperasikan kapal layar kedua menuju Gaza.

Kapal layar Madleen akan mencoba mencapai Jalur Gaza dari laut. ”(Pelayaran) Madleen berupaya mendatangkan sejumlah bantuan dan meningkatkan kesadaran internasional atas krisis kemanusiaan yang sedang berlangsung,” kata para aktivis dalam konferensi pers pada Minggu, sebelum keberangkatan mereka.

”Kami melakukan ini karena tidak peduli apa pun rintangan yang kami hadapi, kami harus terus berusaha,” kata Thunberg sambil menangis.

”Karena saat kita berhenti berusaha adalah saat kita kehilangan kemanusiaan kita. Dan betapa pun berbahayanya misi ini, itu tidak lebih berbahaya daripada kebungkaman seluruh dunia dalam menghadapi genosida yang disiarkan langsung,” imbuh Thunberg.

Para aktivis itu memperkirakan, pelayaran akan membutuhkan waktu tujuh hari untuk sampai ke Gaza. Dengan catatan, pelayaran mereka tidak dihentikan.

”Kami mematahkan pengepungan Gaza melalui laut, tetapi itu adalah bagian dari strategi mobilisasi yang lebih luas, yang juga akan mencoba mematahkan pengepungan melalui darat,” kata aktivis Thiago Avila.

Avila meminta Israel untuk menghentikan serangan Gaza dan membuka kembali perbatasan.

Moving on a vehicle, Palestinians transport humanitarian aid bags delivered by the Gaza Humanitarian Foundation, a U.S.-backed organization approved by Israel, in Khan Younis, southern Gaza Strip, Sunday, June 1, 2025. (AP Photo/Abdel Kareem Hana)

31 orang tewas saat cari bantuan

Saat Madleen bertolak, di Jalur Gaza, 31 warga tewas dan lebih dari 170 warga Palestina terluka saat kerumunan besar menuju lokasi bantuan. Saksi mata dan Pejabat Kesehatan Palestina menuturkan, pasukan Israel menembaki kerumunan besar warga sebelum fajar di sekitar satu kilometer dari lokasi pendistribusian bantuan.

Komite Palang Merah Internasional melalui pernyataan mengatakan, rumah sakit lapangannya di Rafah menerima 179 korban, termasuk wanita dan anak-anak. Sebanyak 21 dari mereka dinyatakan meninggal saat tiba, sebagian besar dengan luka tembak atau pecahan peluru.

”Semua pasien mengatakan bahwa mereka telah mencoba mencapai lokasi distribusi bantuan,” kata ICRC, yang menyebutnya sebagai jumlah tertinggi orang yang terluka akibat senjata dalam satu insiden sejak rumah sakit lapangan itu didirikan lebih dari setahun yang lalu.

Pendistribusian bantuan tersebut dikelola Yayasan Kemanusiaan Gaza (GHF) yang dibentuk Israel dan AS. Militer Israel membantah pasukannya menembaki warga sipil di dekat pos bantuan atau di lokasi di selatan Rafah. Seorang pejabat militer Israel secara anonim, sesuai dengan prosedur, mengatakan, pasukan melepaskan tembakan peringatan ke beberapa tersangka yang maju ke arah mereka semalam.

Militer Israel kemudian merilis rekaman drone yang kabarnya diambil pada hari Minggu. Dalam rekaman, terlihat laki-laki bersenjata dan bertopeng menembaki warga sipil yang mencoba mengumpulkan bantuan. Aksi itu tampaknya berlangsung siang hari di kota selatan Khan Younis.

Namun, Associated Press (AP) tidak dapat memverifikasi video tersebut secara independen dan tidak jelas siapa yang menjadi sasaran. ”Hamas melakukan segala daya upaya untuk mencegah keberhasilan penyaluran makanan di Gaza,” kata pernyataan tersebut.

GHF dalam sebuah pernyataan mengatakan, mereka mengirimkan bantuan tanpa insiden. GHF lalu merilis video terpisah yang dikatakannya direkam pada hari Minggu di lokasi tersebut. Video itu memperlihatkan orang-orang mengumpulkan bantuan. AP tidak dapat memverifikasi video tersebut.

GHF juga membantah laporan sebelumnya tentang kekacauan dan penembakan di sekitar lokasi distribusinya. Lokasi itu juga berada di zona militer Israel. Media independen tidak memiliki akses ke lokasi itu.

Displaced Palestinians, some carrying sacks of food, leave a distribution centre in Rafah, in the southern Gaza Strip, on June 1, 2025. The head of the UN agency for Palestinian refugees said Gaza "aid distribution has become a death trap", citing reports from medics on the ground of "mass casualties" among starving civilians on June 1. (Photo by AFP)

Menurut para saksi, ribuan orang menuju lokasi distribusi beberapa jam sebelum fajar. Saat mereka mendekat, pasukan Israel memerintahkan mereka untuk bubar dan kembali lagi nanti. Ketika kerumunan mencapai Bundaran Bendera, sekitar 1 kilometer jauhnya, sekitar pukul 03.00 pagi, pasukan Israel melepaskan tembakan, kata para saksi.

”Ada tembakan dari segala arah, dari kapal perang angkatan laut, dari tank dan pesawat nirawak,” kata Amr Abu Teiba, yang berada di antara kerumunan.

Teiba mengatakan, dirinya melihat sedikitnya 10 mayat dengan luka tembak. Beberapa orang lainnya, termasuk perempuan, terluka. Orang-orang menggunakan kereta untuk mengangkut mereka yang tewas dan terluka. ”Pemandangannya mengerikan,” kata Teiba.

”Kebanyakan orang tertembak di bagian atas tubuh mereka, termasuk kepala, leher, dan dada,” kata Dr Marwan al-Hams, pejabat Kementerian Kesehatan di Rumah Sakit Nasser, tempat banyak orang dipindahkan dari rumah sakit lapangan Palang Merah.

Kolega Al-Hams, dokter bedah Khaled al-Ser, mengatakan, 150 orang yang terluka tiba di rumah sakit itu bersama dengan 28 jenazah.

Kepala Program Pangan Dunia Cindy McCain mengatakan kepada ABC News, staf di lapangan melaporkan orang-orang tewas dan menyebutnya sebagai ”tragedi”.

”Distribusi bantuan telah menjadi perangkap maut,” kata Kepala Badan PBB untuk pengungsi Palestina Philippe Lazzarini dalam sebuah pernyataan.

Dalam pernyataan terpisah, Kepala Staf Militer Israel Letnan Jenderal Eyal Zamir memerintahkan agar lebih banyak lokasi bantuan didirikan. Akan tetapi, ia juga memerintahkan agar operasi darat pasukan diperluas di wilayah yang tidak disebutkan di Gaza utara dan selatan. (AP/AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Helena Fransisca Nababan
 | 

Editor:

Nur Hidayati
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .