Dari ajang macam MilkLife Soccer Challenge All-Stars yang dikemas bak turnamen profesional, pesepak bola putri belia melihat masa depan yang mulai mereka bayangkan.
24 Jan 2025 18:19 WIB · Olahraga
Perasaan bahagia tumbuh di hati Asancaya Jasmine (10) ketika memasuki lapangan Stadion Supersoccer Arena, Kudus, Jawa Tengah, Jumat (24/1/2025) siang. Kesempatan ini bukan kali pertama Jasmine menginjakkan kaki di sana, melainkan momen tersebut paling istimewa. Sebab, Jasmine merasa seperti menjadi pemain timnas sepak bola putri Indonesia.
Momen itu datang ketika Jasmine menjalani laga perdana di turnamen sepak bola putri, MilkLife Soccer Challenge (MLSC) All-Stars, melawan tim Jakarta. Jasmine, yang memperkuat tim Semarang, kalah 0-2. Akan tetapi, siswi SD Nasima tersebut lebih fokus pada pengalaman yang diraih ketimbang hasil pertandingan.
”Senang mainnya, rasanya aku kayak jadi pemain timnas sepak bola putri,” kata Jasmine, selepas laga itu.
Wajar. Ajang itu pengalaman pertama Jasmine bermain di turnamen dengan level nasional. Itu juga pertama kalinya Jasmine merasakan suasana bermain di turnamen ”sesungguhnya”.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/24/cca71765dea9117851198a5e8612e503-20250124kum22.jpg)
Jasmine dan 111 pesepak bola putri belia yang bertanding di MLSC All-Stars mendapatkan pengalaman seperti pemain profesional ketika mengikuti suatu turnamen besar. Saat bermain, penampilan mereka ditayangkan di layar besar di stadion yang ramai penonton. Penampilan mereka juga dapat disaksikan secara luas karena disiarkan secara langsung di Youtube.
Selepas bertanding, perwakilan pemain dan pelatih MLSC All-Stars hadir di ruang konferensi pers untuk menjalani sesi wawancara. Mereka sebelumnya juga menjalani sesi wawancara prapertandingan dan latihan resmi di lapangan pada Kamis (23/1/2025) atau sehari sebelum turnamen dimulai.
Ada beberapa pemain yang gugup dan malu ketika ditanya wartawan. Ada juga yang percaya diri menjawab. Namun, sebagian besar berani ”menghadapi” sorotan dari banyak orang saat menjalani pengalaman perdananya tersebut.
Sebelum sesi wawancara ketika konferensi pers dimulai, Jasmine sempat berbincang dengan rekan setimnya, Janeeta Alodya (11). Seperti Jasmine, Janeete juga merasa senang bisa bermain di turnamen seperti All-Stars.
”Rasanya kayak jadi pemain bola beneran,” tutur Janeeta. ”Kan, memang beneran,” Jasmine menimpali.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/24/7978275ec86b7a5a543e0f8d88556e64-20250124kum10.jpg)
Dalam pandangan Janeeta, pemain sepak bola betulan bukan hanya mereka yang bermain di turnamen, melainkan juga ajang yang ditayangkan di televisi. Selain itu, pemain sepak bola betulan juga mendapatkan sorotan dari banyak orang, termasuk ditanya-tanya saat sesi wawancara.
Ayla Dva Khala Ahisma (12), pemain tim Yogyakarta, merasakan hal yang sama. Sebenarnya, ini bukan turnamen besar pertama Ayla. Bersama sekolah sepak bola yang dibelanya, Ayla berpengalaman bermain di beberapa turnamen.
Dengan demikian, tak ada lagi rasa gugup berlebihan sebelum tanding atau tertekan karena disaksikan banyak orang. Namun, baru kali ini Ayla merasa seperti pemain sepak bola profesional karena sorotan dan atmosfer turnamen keseluruhan.
”Berasa jadi kak Claudia, apalagi pas cetak gol,” tutur siswi SDN Nanggulan itu, merujuk pada pemain sekaligus pencetak 13 gol timnas sepak bola putri, Claudia Scheunemann.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/24/87cf93dc44d1b908ddfe863f4b8e9883-20250124kum17.jpg)
MLSC All-Stars merupakan puncak rangkaian turnamen MLSC pada 2023 dan sepanjang tahun 2024. MLSC, turnamen kelompok umur 10 dan 12 tahun untuk siswi sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah, diikuti total 12.778 peserta. Ajang itu digelar di delapan kota, yakni Jakarta, Tangerang, Bandung, Semarang, Kudus, Solo, Yogyakarta, dan Surabaya. Dari turnamen tersebut, didapatkan 14 pemain terbaik yang mewakili kotanya masing-masing.
Lantaran menjadi acara puncak, MLSC All-Stars dihelat dengan suasana dan format seperti turnamen profesional. Pelatih MLSC Timo Scheunemann mengatakan, suasana profesional itu mencakup hal-hal mendetail yang menjadi bagian dari keseriusan penyelenggaraan turnamen sekaligus upaya membangun sepak bola putri.
Menurut Timo, keseriusan dalam pembinaan merupakan kunci untuk membuka peluang sepak bola putri Indonesia menembus panggung dunia. Hal itu pula yang menjadi dasar Bakti Olahraga Djarum Foundation menaruh fokus pada pembinaan dan pemassalan sepak bola usia dini lewat MLSC.
”Pak Victor (Rachmat Hartono, Presiden Direktur Djarum Foundation) pernah mengatakan bahwa timnas putri tak harus mengalahkan Amerika Serikat (empat kali juara Piala Dunia) untuk bisa tampil di Piala Dunia. Hanya perlu mengalahkan negara-negara tetangga. Artinya, peluang lebih terbuka asalkan (pembinaan) dikelola dengan benar, dengan serius,” ucap Timo.
Direktur Program MLSC Teddy Tjahjono mengungkapkan, keseriusan juga terwujud dalam komitmen untuk menggelar turnamen secara konsisten dan reguler. Setelah menggelar MLSC dalam dua seri di tiap-tiap kota, kecuali Kudus dengan total enam seri sejak 2023, mereka juga akan menggelar Hydroplus Soccer League untuk kelompok umur 14. Selain itu, pihaknya juga akan mendukung bergulirnya Hydroplus Pertiwi Cup bagi U-14 dan U-16.
”Dengan turnamen yang konsisten digelar dan berkualitas, otomatis akan menarik adik-adik kita untuk bermain bola dengan lebih serius. Harapannya akan lahir bibit-bibit baru, potensi-potensi baru pemain sepak bola putri di Indonesia,” ujar Teddy.
Bagi Jasmine dan pesepak bola putri belia lainnya, sorotan kamera, gemuruh tepuk tangan, hingga sesi wawancara bukan sekadar pengalaman, melainkan cerminan masa depan yang mulai mereka bayangkan. Di MLSC All-Stars, mereka tak hanya bermain sepak bola, tetapi juga merajut harapan untuk menjadi pesepak bola putri yang nantinya membawa nama Indonesia.
Penulis:
Rebiyyah SalasahEditor:
Yulvianus Harjono